Minggu, 20 Oktober 2019

Jarak Pandang di Perairan Tanjabtim Hanya Ratusan Meter


Minggu, 15 September 2019 | 22:15:13 WIB


Wilayah perairan Tanjabtim masih diselimuti kabut asap tebal, dimana jarak pandang hanya ratusan meter
Wilayah perairan Tanjabtim masih diselimuti kabut asap tebal, dimana jarak pandang hanya ratusan meter / metrojambi.com

MUARASABAK – Kabut asap yang terjadi di sejumlah wilayah Provinsi Jambi belum juga hilang. Bahkan, kian hari masyarakat merasakan kabut asap kian pekat dan mengganggu aktivitas dan kesehatan.

Di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), dilaporkan kabut asap terlihat kian parah. Bahkan, jarak pandang wilayah perairan Tanjabtim hanya 100 meter saja.

Akibat kabut asap pula, aktivitas wilayah perairan Tanjabtim sedikit terganggu. Tidak ramai adanya transportasi air yang lalu lalang di wilayah perairan Tanjabtim, Minggu (15/9/2019).

Hanya sebagian alat transportasi air yang tampak lalu lalang di wilayah perairan Tanjabtim. Sebagian besar merupakan nelayan sungai yang masih beraktivitas di wilayah perairan Tanjabtim.

"Tidak berani jauh-jauh, kami lakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja," kata Kasim, salah seorang nelayan Sabak Timur.

Kabut asap pekat tidak hanya terlihat di perairan saja. Di daratan, jarak pandang juga hanya berkisar 500 Meter saja.  

Kabut asap pekat terjadi siang hari antara pukul 12.00 WIB hingga sore hari, kemarin. Sedangkan saat pagi hari, kondisi cukup cerah. Selain kabut asap cukup pekat, abu bekas kebakaran juga masih beterbangan.

"Kabut juga cukup mengganggu penglihatan. Cukup pedih di mata," kata Gito, warga Kecamatan Sabak Timur.

Pekatnya kabut asap di Tanjabtim ini juga mengakibatkan peningkatan penderita Inspeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Ini dilihat dari jumlah kunjungan pasien di Puskesmas yang ada di seluruh kecamatan.

"Dimana kunjungan yang paling signifikan ada di Kecamatan Dendang dan Berbak," sebutnya Kadis Kesehatan Tanjabtim, Ernawati.

Dia menjelaskan, jumlah kunjungan penderita ISPA pada minggu pertama pada bulan September ini sudah mencapai 453 kasus. Paling besar tetap berada di Kecamatan Dendang dan Berbak.

"Di Dendang hingga minggu pertama ini sudah 98 kasus, berbanding dengan Puskesmas lainnya yang hanya sekitar 20 an kunjungan," jelasnya.

Menurutnya, dengan kondisi udara saat ini, sangat tidak bagus atau berbahaya bagi penderita sensitif terutama untuk penderita asma, tipes dan juga TBC. Untuk itu, sebagai upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Tanjabtim, diantaranya menyebarkan masker, koordinasi dengan OPD terkait dan terus memantau ISPU.

"Jika kemungkinan buruk terjadi, langkah yang diambil bisa dengan cara merumahkan masyarakat dan mengurangi aktivitas publik di luar rumah, termasuk di pasar dengan diganti pasar terbatas. Itu alternatif akhir jika kemarau terus berkelanjutan," pungkasnya.


Penulis: Nanang Suratno
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments