Kamis, 22 Oktober 2020

Menanggapi Aksi Walhi dan Mahasiswa, Sudirman Ajak Berperan Bersama


Selasa, 17 September 2019 | 21:50:55 WIB


Mahasiswa dan Walhi saat menggelar aksi di depan kantor Gubernur Jambi, Selasa (17/9/2019)
Mahasiswa dan Walhi saat menggelar aksi di depan kantor Gubernur Jambi, Selasa (17/9/2019) / metrojambi.com

JAMBI - Walhi Jambi dan puluhan Mahasiswa Universitas Jambi (Unja) serta seniman Jambi yang mengatasnamakan dirinya Aliansi peduli Karhutla dan Kabut Asap Jambi usai orasi di simpang 4 BI Telanaipura, langsung mengeruduk kantor Gubernur Jambi, Selasa (17/9/2019) siang.

Namun, para mahasiswa sedikit kecewa terhadap pemerintah Provinsi Jambi. Pasalnya Gubernur Jambi Dr. Drs H. Fachrori Umar, M.Hum tidak langsung menemui para mahasiswa, namun diwakilkan oleh Asisten III Setda Provinsi Jambi H. Sudirman, SH, MH.

"Saya pribadi merasa kecewa kepada Gubernur Jambi karena tidak langsung menemui kami. Seharusnya Gubernur Jambi langsung menemui kami dan berdiskusi bersama di sini," kata Ardy Irawan selaku koordinator aksi sekaligus Presiden BEM Unja.

Di hadapan Asisten III Setda Provinsi Jambi, Ardy menyampaikan tuntutan mereka, dengan harapan Gubernur Jambi nantinya dapat menanggapi tuntutan itu. "Mudah-mudahan nanti bapak yang mewakili Gubernur Jambi dapat menyampaikan langsung kepada Gubernur Jambi terkait ini," ujarnya.

Sementara itu, Asisten III Sekda Provinsi Jambi H Sudirman, SH, MH mengatakan mengapresiasi aksi serta tuntutan mahasiswa tersebut, terlebih aksi disuarakan secara damai. Menurutnya, Pemerintah sendiri tidak tinggal diam, dan terus berupaya semaksimal mungkin dalam menangani Karhutla.

"Kami tahu persis karena kami berkali-kali ikut turun kelapangan seperti Ke wilayah Dendang, Sadu, Mendahara dan juga mengikuti rapat di Korem. Koordinator lapangan dan Tim Satgas Karhutla, terdiri dari TNI, Polri pun sudah bekerja maksimal, namun susah memang penanganannya. Sebab Karhutla terjadi di lahan gambut, yang kebakarannya itu di dalam gambut, bukan di permukaan," jelasnya.

Oleh karena itu, Sudirman berharap betul, semua pihak baik itu pemerintah, masyarakat dan mahasiswa mempunyai peran. "Sesungguhnya yang paling penting bersinergi bersama dalam penyelesaian persoalan ini. Kebakaran bukan hanya disebabkan perorangan atau unsur kesengajaan, tetapi kondisi alam (kemarau, red) juga memungkinkan terjadinya Karhutla," paparnya.

Terlebih, lanjut Sudirman, berdasarkan data dari BMKG bahwa hujan akan terjadi nanti di pertengahan bulan Oktober. "Jadi masih ada satu bulan lagi terjadinya hujan. Kita akan merencanakan kembali solat Istisqa. Salah satu penanganan ketika bencana datangnya dari Allah, Insya Allah penyelesaian juga dari Allah," imbuhnya.

Sudirman menyebut, persoalan ini bukan hanya saja terjadi di Jambi, namun sudah menjadi persoalanan secara nasional. "Mereka (Tim Satgas Karhutla) betul-betul bekerja, hampir tiap hari. Bahkan kita semua tahu, petugas sudah ada menjadi korban. Jadi mari berperan bersama, selesaikan permasalahan ini bersama-sama," ajaknya.

Terkait salah satu tuntutan dari Aliansi peduli karhutla dan kabut asap, untuk monitoring dan memberikan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan yang wilayah konsensinya terbakar. Sudirman mengatakan dirinya mendapat informasi jika pihak Polda Jambi sudah memberikan sanksi terhadap perusahaan.

 "Ada wilayahnya, dan tindak pidana sudah ditangani oleh Polda. Kita berbagi peran, sekarang pemerintah tengah meinpentarisasi terkait perizinan perusahaan. Jika nanti wewenang dari Kementerian (Pusat) maka kita akan bergerak meminta pusat untuk membekukan (perusahaan, red). Karena ya untuk satu tindakan itu tidak mudah, harus ada penelitian lagi," pungkasnya.

Sementara itu, tuntutan-tuntutan diatas, terhitung sejak hari ini hingga paling lambat 15 hari ke depan Gubernur Jambi wajib memproses tuntutan aksi dan menyampaikan hasilnya kepada aliansi dalam pertemuan yang menghadirkan perwakilan aliansi.


Penulis: Rina
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments