Minggu, 20 Oktober 2019

Jenazah Anaknya Tertahan di Malaysia, Nurhayati: Pak Jokowi, Bantu Kami


Selasa, 17 September 2019 | 22:02:27 WIB


Nurhayati saat menunjukkan foto almarhum anaknya, Rena Wati, yang jenazahnya saat ini tertahan di Malaysia
Nurhayati saat menunjukkan foto almarhum anaknya, Rena Wati, yang jenazahnya saat ini tertahan di Malaysia / metrojambi.com

JAMBI – Jenazah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Jambi tak bisa dipulangkan dari malaysia untuk dikebumikan. Ini lantaran, keluarga almarhumah tak mampu membiayai pemulangan jenazah itu. Akibatnya, jenazah TKI ini masih tertahan di negeri jiran tersebut.

Ironisnya, bukan satu dua hari tertahan. Jenazah itu rupanya sudah dua bulan masih berada di Malaysia. Sampai saat ini, pihak keluarga kebingungan untuk memulangkannya agar bisa dimakamkan layaknya jenazah lainnya.

Almarhumah tersebut bernama Rena Wati (25), putri bungsu dari pasangan Syaiful Anwar (67) dan Nurhayati (63) warga Kenali Asam Bawah Kota Jambi.

Baca Juga : Disnakertrans Sebut Tak Ada Anggaran, Jenazah TKI Asal Jambi Belum Bisa Dipulangkan

Nurhayati mengatakan, pihaknya tak dapat berbuat banyak untuk memulangkan buah hatinya ini karena tak mampu secara ekonomi. Ia berharap pemerintah, terutama bantuan presiden untuk memulangkan anaknya tersebut.

"Kami berharap pak Presiden Jokowi untuk memulangkan anak saya, saya tidak punya uang. Kami cuman butuh anak saya kembali apapun itu bentuknya," katanya sambil menangis terisak isak, Selasa (17/9/2019).

Ia mengaku, mengetahui kabar meninggal anaknya tersebut dari anggota Intelkam Polresta Jambi yang bernama Heri, yang mengantarkan sebuah surat kepada keluarga yang isinya memberitahukan jika Rena Wati tersebut telah meninggal dunia. "Waktu itu cucu saya (Mayang) mau memfoto surat dan paspor yang dibawa Polisi dari Polresta Jambi tersebut, tapi tidak diizinkan," katanya lagi.

Nurhayati mengatakan, saat itu dirinya dan keluarga lainnya tidak berani menandatangani surat tersebut. Namun saat itu, Heri menemui Sayiful Anwar yang tengah bekerja bangunan tidak jauh dari rumahnya. "Ditandatangani suami saya karena dia (Heri, red) menyusul ke tempat kerjanya," ungkapnya.

Namun, kata Nurhayati ada yang aneh dalam surat tersebut. Sebab di surat tersebut anaknya itu meninggal pada 27 Juli 2019. Sedangkan Cucunya (red, Mayang) masih melakukan video Call (VC) pada 9 Agustus 2019. "Waktu itu anaknya (red, Kenji) minta belikan susu dan ibunya mau ngirim," jelasnya.

Namun sekitar akhir Agustus 2019, ia dikejutkan dengan pemberitahuan jika anaknya meninggal tersebut. "Saya mau tanya ngak kuat, waktu itu cuman bisa baca ngak boleh di foto atau gimana gitu juga," ungkapnya.

Menurut ibu yang sudah berusia 63 tahun itu. Rena Wati ke Malaysia sejak awal Januari 2018 lalu. Saat itu Rena Wati menghubungi dirinya jika ia sudah berada di Malaysia. "Dia tidak menyebutkan dimananya. Tapi dia menyebutkan di Malaysia dan tidak mau menyebutkan kerja apa," sebutnya.

Sebelum di Malaysia, Rena Wati kerja di Jakarta di ajak oleh abang pertamanya. "Waktu dia pergi pertama itu masih berusia 19 tahun," ungkapnya.

Dari Jakarta, ia kemudian ke Surabaya dan bekerja sebagai Sale Promotion Grill (SPG) Rokok. Dan pulang setiap satu tahun sekali. "Terakhir dia pulang sebelum ke Malaysia pada Maret 2017 saat Mayang menikah," sebutnya.

Semenjak di Malaysia ia selalu mengirim uang untuk anaknya selalu dalam jumlah kecil yakni Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu. "Paling besar sekali Rp 1 juta itu cuman sekali selama di Malaysia," ucapnya.

Berbeda dengan saat di Surabaya setiap bulannya bisa mengirimkan uang ke anaknya senilai Rp 2 juta per bulan. "Uang nya ditransfer ke kakaknya Alwi," ungkapnya.

Dari surat pemberitahuan kematian tersebut diketahui meninggal akibat kecelakaan. "Kalau dari surat itu dia kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit  serta meninggal di University Malaya Medical Centre  Lembah Pantai, 59100 Kuala Lumpur, Federal Territory of Kuala Lumpur, Malaysia, Telp : + 60379494422," ucapnya.

Bahkan ia sempat menghubungi KBRI Malaysia seperti nomor kontak di atas jika akan memulangkan Jenazah Almarhum membutuhkan dana Rp 33 juta jika sampai Jambi. Apabila sampai Jakarta Rp 15 juta. "Segitu besarnya kami dak mampu, rumah saja seperti ini tinggal di tempat bocor. Mana suami saya masuk rumah sakit karena tumor," jelasnya.

Sementara itu, Mayang juga mengaku sempat diminta kepolisian untuk menandatangani surat kematian dan surat-surat lainnya jika korban tersebut mati. "Iya, suratnya waktu itu dibawa ke rumah ini. Tapi waktu itu kita tidak berani, tetapi Kakek yang menandatangani," ungkapnya.

Kata dia, saat itu kepolisian menyampaikan untuk memulangkan korban ke Jambi membutuhkan uang Rp50-60 juta. "Kami tidak punya  uang segitu, kami saja tinggal di rumah bocor seperti ini," bebernya.

Mayang juga menegaskan saat itu dirinya akan memfoto surat kematian dan surat-surat lainnya, tapi tidak diperbolehkan. "Nggak di kasih mau foto, jadi ya gimana kita ini," ujarnya.

Ia mengaku hanya diberikan nomor hp KBRI Malaysia dan diminta mengirimkan sejumlah dokumen melalui email. "Dokumen dokumen yang ada dikirim ke sana sudah," ucapnya.

Dia mengaku aneh, sebab tanggal di surat kematian itu beda dengan dirinya berkomunikasi. "Aneh, surat kematian Juli, tapi Agustus masih video call dengan saya," tandasnya.

Sementara itu Lurah Kenali Asam Bawah, Bambang saat menjenguk keluarga tersebut mengatakan, ia baru mengetahui persoalan tersebut saat ini. "Baru tau saya, dari buk RT, kalau dak itu dak tau," katanya.

Dia akan melaporkan kejadian itu ke atasannya. "Ia nanti akan saya sampaikan ke Pak Camat," tandasnya.


Penulis: Novry
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments