Jumat, 18 Oktober 2019

Suksesi Rektor UIN STS Jambi


Sabtu, 05 Oktober 2019 | 13:28:13 WIB


Yudi Armansyah
Yudi Armansyah /

Oleh: Yudi Armansyah*

PEMILIHAN Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin Jambi telah memasuki tahap krusial. Setelah sebelumnya, panitia pemilihan telah berhasil menjaring delapan kandidat Bakal Calon Rektor Periode 2019-2023.

Saat ini para kandidat telah melalui tahap penilaian kualitatif dihadapan sidang senat dengan agenda penting menyampaikan visi-misi. Meskipun tahapan ini, tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil akhir, tapi setidaknya warga kampus dapat melihat, mendengar dan menaruh harapan untuk kemajuan kampus ke depan.

Kedelapan kandidat Bakal Calon Rektor semuanya bergelar proffesor dengan bidang kepakaran masing-masing, yaitu: Prof. Dr. Su’aidi, M.A., Ph.D (Politik Islam), Prof. Dr. Martinis Yamin, M.Pd (Pendidikan), Prof. Dr. Lias Hasibuan, M.A (Pendidikan), Prof. Dr. Subhan, M.Ag (Hukum Islam), Prof. Dr. Maisah, M.Pd.I (Pendidikan Islam), Prof. Dr. Mukhtar, M.Pd (Pendidikan), Prof. Dr. Ahmad Syukri, M.A (Tafsir) dan Prof. Hasbi Umar, M.A., Ph.D (Hukum Islam).

Jika dilihat secara akademik, para kandidat tersebut tidak diragukan memiliki kemampuan mumpuni di bidangnya. Namun berkaitan dengan kepemimpinan Rektor apalagi disebuah PTKIN terbesar di Provinsi Jambi.

Setidaknya dibutuhkan dua kemampuan tambahan yaitu, karakter kepemimpinan dan manajemen. Mengapa kedua kemampuan ini penting dimiliki oleh kandidat Rektor. Karena, keduanya merupakan aspek paling mendasar dalam pengelolaan sebuah lembaga.

Namun terkadang tidak dimiliki seutuhnya oleh para pemimpin. Akibatnya, seringkali lembaga tidak berhasil melaksanakan program dan kebijakan yang tepat.

Pertama, karakter dalam kepemimpinan sangat penting dimiliki oleh seorang Rektor. Berapa banyak riset menunjukkan karakter pemimpin sangat berpengaruh terhadap kemajuan sebuah lembaga, mengalahkan nilai-nilai akademis. Komposisi penggunaan karakter dan keilmuan dalam memimpin bisa lebih dominan antara 70 hingga 80%.

Meskipun demikian, kualitas akademik tetap dibutuhkan. Setidaknya status para kandidat yang telah mencapai gelar akademik tertinggi, menunjukkan hal itu telah tuntas.

Karakter dalam kepemimpinan sangat dibutuhkan, karena seorang pemimpin harus dapat membaca peluang dan tantangan ke depan. Peluang untuk memajukan sebuah lembaga besar, membutuhkan kerja-kerja yang baik dari elemen kampus.

Sebaliknya, tantangan ke depan juga akan muncul, baik secara internal maupun eksternal. Di mana, tantangan secara internal seringkali menjadi persoalan akut-klasik. Di sinilah karakter pemimpin diuji, bagaimana ia dapat arif dan bijaksana menghadapi tantangan demi tantangan tersebut. Jika salah dalam menyikapinya, maka ia akan tergerus dengan tidak disupport oleh warga kampus.

Kedua, kemampuan manajerial. Juga sangat dibutuhkan, karena mengelola sebuah lembaga pendidikan besar seperti UIN harus memiliki kemampuan manajemen yang mumpuni, baik teoritis dan praktis. Maka, track record calon pemimpin seringkali menjadi dasar dalam pemilihan. Selain persoalan integritas dan komitmen.

Rekam jejak dalam memimpin dan mengelola lembaga sebelumnya, biasanya menjadi dasar pertimbangan. Keberhasilan dan kegagalan dalam memimpin lembaga itu sangat dipengaruhi oleh kemampuan sang pemimpin dalam membangun sistem manajemen yang kuat.

Meskipun dalam konteks kelembagaan, kampus tidak bisa disamaratakan dengan organisasi umum lainnya, misalnya organisasi di pemerintahan atau perusahaan. Sebab, kampus dominan melaksanakan kerja dan program akademik. Terdiri dari tenaga fungsional dan structural, di mana kunci utama dalam memajukan perguruan tinggi ada ditangan tenaga fungsional yaitu, dosen.

Sebaliknya, tenaga struktural berperan \"membantu\" kerja-kerja akademik tersebut. Maka sistem kerja yang dibangun adalah \"kerja cerdas\". Rektor terpilih harus dapat mendorong sekaligus membebaskan para intelektual untuk mengaktualisasikan diri dalam berbagai bentuk kegiatan ilmiah. Selama masih dalam bingkai pengembangan Tri Dharma, maka harus didukung sepenuhnya.

Termasuk jika dikalangan sivitas akademika (dosen dan mahasiswa) melakukan kritik terbuka terhadap pemerintah atas persoalan bangsa. Dalam hal ini posisi Rektor harus lebih independen, tidak memihak dalam setiap keterlibatan aksi warganya. Hal ini sebuah keniscayaan, sebab kampus merupakan kumpulan para intelektual yang tidak hanya memiliki otoritas keilmuan, melainkan juga mengajarkan dan menjaga \"kebenaran\".

Namun, sebagai lembaga birokrasi (PTN). Kampus UIN tidak bisa melepaskan diri dari birokratisasi pemerintahan, termasuk kebijakan pusat dalam pemilihan Rektor, yaitu dengan mengikuti Peraturan Menteri Agama (PMA).

Walaupun regulasi ini baru diterapkan dalam kurun dua periode pemilihan terakhir. Namun imbasnya cukup besar yaitu, mematikan \"demokrasi\" kampus. Suasana setting, lobby, dinamika dan “panas-dingin” saat pemilihan struktural jabatan oleh senat tidak bisa dinikmati lagi oleh sivitas akademika.

Tentu dasar keluarnya PMA ini untuk meminimalisir dan memutus konflik internal di kampus. Sebab selama ini, Pilrek seolah dijadikan sebagai ajang kontestasi dan \"perebutan\" kekuasaan layaknya partai politik di lembaga eksekutif dan legislatif. Begitu pula anggota senat, perannya seperti anggota DPR yang memilih dan menentukan siapa pemimpin kampus ke depannya, baik di tingkat Universitas, Fakultas hingga Program Studi.

Maka, dinamika dan pergesekkan politik kampus yang sedemikian kental tersebut, menjadi dasar evaluasi dan perbaikan pusat hingga ditetapkan Rektor PTKIN dipilih oleh Kementerian Agama.

Saat ini perdebatan tentang aturan pemilihan rektor tampaknya memang telah selesai. Sebab jika tidak selesai (tidak diterima) oleh sivitas akademik, mana mungkin Pilrek kali ini diikuti banyak sekali peserta, terbanyak dalam sejarah UIN STS Jambi. Mengalahkan Pilrek dikampus tetangga yang akan melangsungkan hajatan yang sama.

Dalam hal ini pihak kampus telah menyadari, baik pemilihan melalui senat ataupun melalui Kementerian Agama memiliki dampak positif dan negatif. Namun, paling tidak berpegang terhadap aturan yang ada menjadi komitmen para cendikiawan kampus.

Pemilihan Rektor dengan mekanisme seleksi oleh pusat memang tampak membuat kampus hening dan syahdu. Namun tetap memiliki daya tarik tersendiri. Sekalipun warga kampus, baik dosen, pegawai dan mahasiswa tidak merasakan atmosfer pemilihan. Karena secara kualitatif-akademik, penyampaian visi-misi hanya dilakukan oleh senat dan tertutup.

Namun demikian visi-misi yang telah disampaikan dapat menjadi catatan untuk dipertimbangkan tim seleksi untuk selanjutnya menjadi rekomendasi kepada Menteri Agama RI untuk melantik Rektor terpilih.

Maka siapapun Rektor terpilih nantinya, secara yuridis berhak menentukan komposisi struktural di kampus UIN STS Jambi. Oleh karena itu, penting bagi Bakal Calon Rektor untuk merangkul semua sivitas kampus untuk maju bersama.

Patut dicatat, sekalipun telah dua tahun beralih status menjadi Universitas Islam Negeri, secara sarana dan prasarana UIN belum banyak berubah. Apalagi jika berbicara masalah kualitas akademik, kita masih tertinggal. Indikatornya dapat dilihat dari masih minimnya keterlibatan akademisi UIN dalam kegiatan-kegiatan ilmiah, baik berskala nasional maupun internasional.

Begitu juga dalam hal rangking dunia, standar webometrics misalnya. UIN Jambi tampak belum dapat bersaing, bahkan dengan PTKIN yang masih berstatus institute sekalipun, misalnya IAIN Salatiga. Oleh karena itu, Rektor terpilih harus dapat mengejar ketertinggalan tersebut. Terutama dari kampus yang baru beralih status, seperti UIN Raden Fatah Palembang, UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Raden Intan Lampung, UIN Ar-Raniry Aceh atau UIN Sumatera Utara. Begitu juga dengan PTN umum, sebab secara penilaian, lembaga dunia tersebut tidak membedakan distingsi keilmuan sebuah perguruan tinggi.

Oleh karenanya, dengan semangat ta\'awun, one for all dan all for one. Rektor terpilih bersama dengan seluruh sivitas akademika harus dapat bersinergi merangkul semua kalangan termasuk para kompetitornya saat ini. Sebab, para kandidat memiliki tim pendukung masing-masing di grass root. Sebagai upaya memajukan Universitas Islam terbesar di tanah Melayu Jambi. Dengan demikian, kualitas mutu UIN ke depan akan mengalami peningkatan hingga dapat berbicara banyak dipentas lokal, nasional dan global.

*Akademisi UIN STS Jambi


Penulis: Yudi Armansyah
Editor: Herri Novealdi



comments