Sabtu, 14 Desember 2019

Media Gathering SKK Migas Kunjungi Kebun Teh Kayu Aro dan Air Terjun Telun Berasap


Kamis, 10 Oktober 2019 | 21:47:10 WIB


Asisten Kepala Unit Usaha PTPN VI Kayu Aro Hery Kurniawan saat memberikan pemaparan kepada anggota FJM
Asisten Kepala Unit Usaha PTPN VI Kayu Aro Hery Kurniawan saat memberikan pemaparan kepada anggota FJM / metrojambi.com

 KERINCI - Puluhan wartawan yang tergabung dalam Forum Jurnalis Migas (FJM) Jambi selama tiga hari, 9-11 Oktober 2019, mengikuti kegiatan media gathering yang diadakan SKK Migas-KKKS di Kabupaten Kerinci.

Sebelum menyambangi Kabupaten Kerinci, puluhan jurnalis ini lebih dulu mendatangi museum Geopark di Kabupaten Merangin. Di museum ini, rombongan awak media mendapatkan pengetahuan yang baru tentang keberadaan Geopark Merangin.

Hendi selaku pemandu rombongan menjelaskan sekilas tentang awal terbentuknya Geopark Merangin. Wartawan yang mendengarkan penjelasan ini pun sangat antusias dengan sekali mengajukan pertanyaan.

Setelah menyambangi Geopark Merangin, FJM langsung menuju Kabupaten Kerinci dan sampai sekitar pukul 22.30 Wib di penginapan PTPN VI Kayu Aro.

Kamis pagi (10/10/2019), setelah sarapan pagi, rombongan langsung melanjutkan kegiatan dengan mengelilingi kawasan perkebunan dan pabrik teh di PTPN VI Kayu Aro.

Pada saat mengelilingi perkebunan teh, rombongan FJM didampingi oleh Asisten Kepala Unit Usaha Kayu Aro, Hery Kurniawan. Dia juga menjelaskan cara penanaman dan memetik teh yang baik

Selain itu, dia juga menceritakan sejarah dari perkebunan teh tersebut. Dia mengatakan, kebun teh kayu aro merupakan yang tertua di Indonesia karena sudah ada sejak zaman Kolonial Belanda dahulu.

Kebun ini dibangun tahun 1925 sampai 1928 oleh perusahaan Belanda Namblodse Venotschaaf Handle Vereniging Amsterdam serta memiliki luas mencapai 2.648 hektare.

"Perkebunan teh ini berada di ketinggian 1.600 meter. Perkebungan teh Kayu Aro ini merupakan perkebunan teh tertinggi kedua setelah perkebunan teh Darjeeling di Himalaya yang berada di ketinggian 4.000 mdpl," jelasnya.

Ia juga menjelaskan proses produksi teh mulai dari pelayuan, memotong, mencabik dan menggulung lalu dikeringkan untuk kemudian pemisahan butiran atau partikel teh yang akan diklasifikasikan berdasarkan grid.

Dikatakannya lagi, bahwa Kayu Aro merupakan perkebunan teh orthodox tertua di Indonesia, bagaimana tidak usianya sudah mencapai ratusan tahun. Hebatnya perkebunan yang satu ini masih mampu menghasilkan daun teh dengan cita rasa terbaik di dunia.

Kepopuleran perkebunan Kayu Aro memang tidak terbatas hanya dari usianya yang sudah mencapai se-abad lebih saja namun juga dari kualitas teh tidak bisa diragukan lagi.


"Ini Terbukti pada masa penjajahan kolonial Belanda, daun teh yang dipetik dari perkebunan Kayu Aro begitu digemari oleh Ratu Inggris dan juga Ratu Belanda," ungkapnya.

Masyarakat mungkin bertanya-tanya, sebenarnya apa yang membuat cita rasa teh orthodox begitu nikmat? Heri mengatakan secara umum ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi kualitas dari daun teh beberapa diantaranya adalah cara pemetikan dan juga proses pengolahan daun teh.

"Dari zaman Kolonial Belanda hingga saat ini, teknik yang digunakan Kayu Aro untuk mengolah daun tehnya ini masih sama. Pemetikan teh dilakukan dengan menggunakan tangan, tangan-tangan terampil ini membuat daun-daun teh yang masih muda tidak ikut tercatat," jelasnya.

Bukan hanya fokus menghasilkan teh orthodox berkualitas terbaik, perkebunan Kayu Aro juga turut memastikan keamanan teh saat dikonsumsi dengan memperhatikan prosedur pengolahan teh yang baik.

"Di sini kalian akan melihat serbuk-serbuk teh, karena memang teknik pengolahan yang digunakan masih konvesional. Pada prosesnya tidak ditambahkan bahan-bahan kimiawai kedalam ramuan teh termasuk bahan perasa, pengawet ataupun pewarna sekalipun. Hal ini jugalah yang menjadi keunggulan dari teh orthodox yang dihasilkan Kayu Aro karena teh yang dihasilkan bercita rasa alami daun teh dari perkebunan teh Kayu Aro tersebut," bebernya.

Keistimewaan lainnya yang dimiliki oleh Kayu Aro adalah ketinggiannya yang mencapai 1.600 mdpl di atas permukaan laut. Secara otomatis menempatkannya pada posisi ke dua di dunia setelah Perkebunan Teh Darjeeling yang berada di India dengan rata-rata ketinggian mencapai 2.050 mdpl.


Penulis: Dedi
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments