Rabu, 20 November 2019

Sudah Saatnya Kitab Nitisarasamuçcaya Kerinci Jadi Memory Of The World


Minggu, 20 Oktober 2019 | 14:38:09 WIB


Perarakan saat penurunan Kitab Nitisarasamuçcaya Kerinci dari ruang penyimpanan di Dusun Tanjung Tanah tahun 1941, dipotret oleh Voorhoeve
Perarakan saat penurunan Kitab Nitisarasamuçcaya Kerinci dari ruang penyimpanan di Dusun Tanjung Tanah tahun 1941, dipotret oleh Voorhoeve / Dok. KITLV-Pictura

Oleh: Ali Surakhman *)

Awal cerita, Selasa, 15 Oktober 2019, sejumlah pegiat sejarah di Kerinci, mulai dari Andi Andalas menyampaikan bahwa mantan menteri Prof. Dr. Wardiman Djojonegoro bersama dengan Prof. Uli Kozok di sebuah seminar internasional, aksara, naskah, dan tamadun melayu, di Kuala Lumpur. Disampaikan bahwa ada maksud untuk mengajukan Nitisarasamuçcaya atau Kitab Undang Undang Tanjung Tanah (KUTT) sebagai Memory of The World.

Lalu Andi Andalas membuka forum diskusi online, dengan mengundang para pegiat sejarah Kerinci, mulai dari Hendi Wisnu Pamungkas, penulis sendiri, Iwan Setiawan, Bopi Cassiaputra, dan Hafiful Hadi Sulinsyar.

Mulanya Andi  masih merasa tak percaya karena mantan menteri pendidikan Prof . Dr. Wardiman Djojonegoro, yang paham betul seluk beluk dan tata cara tahapan tahapan pengajuan untuk warisan dunia. Beberapa hari kemudian Prof. Dr. Wardiman juga menelepon langsung Hendi Wisnu Pamungkas.

Beberapa hari kemudian, penulis juga dikontak langsung Prof. Uli Kozok, dan sempat berdiskusi panjang lebar tentang usulan KUTT menjadi  Memory of the World.

 

MENGUTIP tulisan Hafiful Hadi Sulinsyar, Sejarawan dan Budayawan muda Kerinci di Kompasiana beberapa waktu lalu, KUTT sudah pantas dan melengkapi syarat sebagai Memory of the World, karena manuskrip atau naskah kuno adalah tinggalan budaya bangsa yang sangat perlu dilestarikan.

Naskah kuno berisi tentang berbagai hal seperti hikayat, babad, syair, hukum, sejarah, pengobatan, dan keagamaan. Hal ini menjadikan manuskrip tidak hanya memiliki nilai penting dari material fisiknya saja, tetapi juga dari teks yang terkandung di dalamnya.

Indonesia sendiri memiliki ribuan tinggalan naskah kuno baik yang disimpan di dalam negeri maupun di luar negeri. Di antara naskah-naskah kuno tersebut, beberapa telah ditetapkan sebagai Memory of the World.  

Mengutip dari laman Memory of the World ndonesia, Memory of the World adalah ingatan kolektif manusia berupa warisan dokumenter (dalam bentuk  audio, visual, audio-visual, dan benda cetakan) yang secara sah dapat  menjadi bukti kejadian penting dalam sejarah umat manusia. MOW  memperlihatkan keunikan warisan budaya manusia dalam bentuk pemikiran/  penemuan baru dan segala bentuk peninggalan yang bermanfaat bagi  peradaban.

Suatu naskah atau dokumen dapat diusulkan menjadi Memory of the World kepada UNESCO dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut: 

  1. Warisan dokumenter adalah milik seluruh umat manusia walau secara hukum mungkin merupakan milik individu, organisasi masyarakat, atau bangsa; 
  2. Pengusulan harus mencakup pernyataan tentang pentingnya warisan dokumenter, prosedur akses, dan pelestarian; 
  3. Koleksi yang dimiliki secara bersama-sama oleh beberapa negara dapat diajukan secara bersama-sama; 
  4. Kriteria dasar seleksi yang harus dipenuhi agar sebuah materi budaya  terdaftar dalam Memory of the World antara lain: keaslian, keunikan, signifikansi  waktu, tempat, subyek, tema, dan risiko kerusakan.

Berdasarkan laman UNESCO, saat ini ada delapan naskah dan dokumen warisan budaya Indonesia yang telah ditetapkan sebagai MOW yaitu Archives of the Dutch East India Company, I La Galigo, N?garakr?t?gama atau Description of the Country (1365 AD), Babad Diponegoro atau Autobiographical Chronicle of Prince Diponegoro, arsip Konferensi Asia Afrika (Asian African Conference Archives), Arsip Tsunami, Naskah Panji, dan dokumen restorasi Borobudur.

Kitab Nitisarasamuçcaya dari Kerinci atau dikenal pula sebagai Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah (KUTT), penulis sendiri mengkritik penamaannya sebagai KUTT--merupakan salah satu naskah kuno yang menurut penulis sangat layak untuk diusulkan sebagai Memory of the World jika melihat kriteria dari Memory of the World serta nilai penting dari naskah tersebut. 

Kitab Nitisarasamuçcaya dari Kerinci menjadi tiga bagian yaitu nilai penting fisik, nilai penting tekstual, nilai penting sejarah dan nilai penting bagi masyarakat.

Apa yang telah dipaparkan di atas merupakan sebagian kecil nilai penting Kitab Nitisarasamuçcaya dari Kerinci yang menunjukkan bahwa Kitab Nitisarasamuçcaya dari Kerinci sangat layak diusulkan sebagai Memory of the World.

Kitab Nitisarasamuçcaya dari Kerinci menjadi bukti bahwa bangsa Indonesia sejak masa lalu telah  merumuskan produk hukum sendiri berdasarkan asas demokrasi, musyawarah untuk mufakat. Si penulis kitab ini menuliskan pula beberapa mantra sanksrit. Sebagaimana bunyi teks di bagian akhir naskah:

"....pra?amya ?r?mah?deva? trailoky?dhipatistutam n?n???stroddh?ta? vakti n?tis?rasamuccayam..."

Penulis membantah teori banyak ahli menyatakan Islam yang menghancurkan tinggalan Hindu-Budha. Kitab Nitisarasamuçcaya dari Kerinci membuktikan bagaimana toleransi beragama hidup di saat itu. Namun yang terpenting Kitab Nitisarasamuçcaya dari Kerinci adalah pusaka masyarakat Kerinci, bukti perjalanan sejarah leluhur suku Kerinci, negeri Kunci Pulau Perca, jangan sampai karena untuk sebuah nama Memory of the World, kita merusak tatanan adat, ikatan kebersamaan yang telah di buat oleh leluhur. Silakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan Kitab Nitisarasamuçcaya dari Kerinci diajukan menjadi Memory of the World, namun masyarakat Kerinci tanpa itupun kehidupannya berjalan.

Yang dibutuhkan saat ini adalah bagaimana mengembalikan nilai nilai kearifan lokal. Nilai lokal yang selaras dengan alam semesta, lingkungan, dan Sang Pencipta Jagat Raya.

*) Penulis adalah pegiat sejarah, tinggal di Jambi


Penulis: M Ali Surakhman
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments