Kamis, 14 November 2019

Angka Malnutrisi di Jambi Masih Tinggi


Jumat, 01 November 2019 | 11:04:13 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

JAMBI - Malnutrisi atau sering disebut dengan gizi buruk yang dipicu oleh ketidakseimbangan asupan makanan, masih menjadi pekerjaan rumah bagi Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jambi. Pasalnya di beberapa tahun terakhir, kasus tersebut masih terbilang tinggi.

Kepala Dinkes Provinsi Jambi Samsiran Haklim melalui Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Helfiyan Amnun mengatakan, di tahun 2017 ada 85 kasus dan 92 kasus pada tahun 2018 lalu.

"Sedangkan untuk tahun 2019, sampai Agustus kemarin itu terdapat 71 kasus gizi buruk, ini masih tinggi karena laporan di bulan September dan Oktober belum sepenuhnya masuk," ujarnya, Kamis (31/10/2019).

Helfiyan menjelaskan bahwa yang paling banyak menderita gizi buruk terdapat di kabupaten Muaro Jambi yaitu 21 kasus. Kemudian Tebo sebanyak 19 kasus, Sarolangun dengan 7 kasus, Kerinci 3 kasus, Merangin 4 kasus, Batanghari 4 kasus, Tanjung Jabung timur 5 kasus, Tanjung Jabung Barat 1 kasus, Bungo 3 kasus dan kota Jambi 4 kasus.

"Selain menderita gizi buruk, rata-rata penyakit lainnya terlebih pada tahun 2018 adalah Hidrosefalus, TB paru, diare, serta berat badan lahir rendah. Ada pula cacat bawaan juga sesak nafas," tuturnya.

Menurut Helfiyan, ideal berat badan pada anak usia 1 tahun adalah minimal 8 kg. "Anak dikatakan sehat jika berat badannya normal sesuai dengan umurnya. Ini dihitung berdasarkan tabel juga rumus," katanya.

"Kasus gizi buruk ini sesuai interpensi program perbaikan gizi masyarakat yang ada di Dinkes banyak diderita oleh anak usia 0-5 tahun dengan kurangnya asupan nutrisi makanan ditambah daya tahan tubuh lemah serta terjadi infeksi antara batuk dan diare," ujarnya.

Sedangkan untuk data yang meninggal disebabkan kasus gizi buruk tersebut, Helfiyan menyebut berjumlah 4 orang di tahun 2017 dan 6 orang di tahun 2018. "Sementara untuk  2019 sebanyak 2 orang," sampainya.

Sehingga, disampaikan Helfiyan, harus adanya sinergisitas semua pihak dalam penanganan kasus ini.

"Harusnya mengenai interpensi pertama kali, banyak dilakukan ditingkat bawah terlebih dahulu dengan rutin melakukan penimbangan setiap bulannya pada anak diposyandu. Selain itu pemberian ASI ekslusif sangat penting sekali sebagai bagian upaya pencegahan, disertai konsumsi makanan bernutrisi," tandasnya.


Penulis: Rina
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments