Minggu, 17 November 2019

Memaknai Karya Teater Sebagai Sebuah Fenomena


Jumat, 01 November 2019 | 14:00:45 WIB


/ istimewa

PADA setiap tahun, Teater Arena Taman budaya Jambi selalu mengadakan pertunjukan” Festival Teater Remaja”. Pada tahun 2019 ini dimulai tanggal  24 s.d 26 Oktober kemarin. Untuk pertunjukan tahun ini diikuti oleh 24 kelompok yang berasal dari berbagai kalangan yaitu pelajar SMP, SMA, dan mahasiswa .

Pukul 19.30 WIB, terlihat keadaan di luar arena taman budaya ramai akan penonton maupun peserta yang mengikuti lomba. Para perserta mempersiapkan diri untuk tampil, sedangkan penonton bersiap untuk masuk ke gedung pertunjukan.

Di dalam pertunjukan terlihat seorang kru panitia sedang mengotak-atik  lampu sorot (lighting) . Cukup lama untuk mengisi penuh arena bangku  penonton dikarenakan posisi artistik masih belum siap sempurna. Festival pada hari pertama ini dimulai pukul 20.15 WIB.

Rangkaian acara hari pertama festival diawali oleh kata sambutan yang disampaikan oleh Bapak Didin Sirojudin selaku Ketua Taman budaya Jambi. Ia menyebutkan bahwa tema Festival Teater Remaja pada tahun 2019 ini adalah “Generasi Milenial Adalah Generasi Teater Jambi”.

Kata sambutan selesai, pembawa acara membacakan peraturan-peraturan yang  harus di ikuti oleh semua peserta di dalam gedung pertunjukan, seketika suasana krasak-krusuk dari penonton menjadi hening.

Pertunjukan pertama dimulai. Pembawa acara membacakan sinopsis karya teater yang berjudul Masih Ada Gerhana. Sinopsis selesai dibacakan. Lalu lampu panggung padam, dan berlahan lampu mulai hidup kembali menyorotkan warna kuning. Terlihat seorang ibu tengah duduk di kursi ruang tamu sambil menjahit baju. Tak seberapa lama masuklah seorang wanita muda bernama Welas dari belakang panggung dan menghampiri seorang ibu yang merupakan ibunya sendiri. Lampu berwarna kuning, terlihat menggambarkan keharuan pada adegan tersebut.

Percakapan di antara ibu dan anakpun terjadi, yang mana telah ada complication(masalah yang telah tampak dalam cerita itu). Welas yang bekerja sebagai buruh harus mencukupi kebutuhan keluarganya (ayah dan ibunya), merasa terancam dengan perilaku mandornya  (tokoh yang memunculkan konflik) yang melakukan pelecehan Sexual. Pada adegan ini terlihat blocking yang digunakan aktor cukup baik.

Dimana mereka tidak hanya berada pada satu posisi melainkan berpindah secara  dinamis, sehingga titik pusat perhatian tidak hanya menuju pada satu arah.

Deksripsi adegan di atas merupakan cuplikan karya teater yang disutradarai Panji Cakrabuana. Mahasiswa Universitas Jambi ini memberi gambaran dari cerita dan dikaitkan dengan peristiwa yang sering terjadi pada era Milenial sekarang. Banyak media teknologi terutama televisi yang memberitakan tentang  kejadian-kejadian pelecehan seksual. Dampak dari pelecahan seksual bisa mempengaruhi generasi milenial menjadi lebih Individualisme, stres, depresi, bahkan bisa mengidap gangguan traumatik pasca kejadian.

Teater dalam bentuk berlakon bisa menjadi gambaran peristiwa yang terjadi  di Indonesia. Teater itu sendiri di definisikan dalam arti luas sebagai kisah hidup atau kehidupan manusia yang akan dipentaskan dalam bentuk cerita. Dengan demikian generasi milenial bisa melakukan aksi tindakan berunjuk rasa (Demo) ataupun untuk menyampaikan gagasan atau isu, melalui media gerak, ekpresi, vocal suara dan tingkah laku yang di tunjukan untuk menyampaikan salah satu peristiwa.

Dalam karya teater Masih Ada Gerhana, para aktor membuat penonton menjadi revesal (ikut merasakan emosi yang di mainkan). Dan  yang membuat suasana semakin klimaks (cerita yang menjadi puncak permasalahan) adalah pada saat adegan akhir, dimana seorang pria paruh baya yang menggenakan baju kaos oblong dan sarung yang merupakan ayah Welas, meluapkan kemarahannya  saat mengetahui kelakuan mandor cabul dari seorang teman laki-laki welas. Teman Welas tersebut merupakan seorang wartawan yang memiliki karakter seperti perempuan (waria).

Dalam karya teater ini, pesan yang ingin disampaikan adalah tentang bagaimana peran orang tua dalam mengawal kehidupan anak. Tokoh Welas dalam karya ini terpaksa harus menjadi buruh dikarenkan keadaan ekonomi. Secara usia padahal ia masih 17 tahun. Ia harus bekerja dikarenakan ayahnya yang seharusnya menjadi tulang punggung keluarga, tidak melakukan perannya.

Disisi lain, karya teater ini juga menggambarkan bagaimana pelecehan seksual merupakan suatu kasus yang sering terjadi di kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu, peran orang tua tentu harus terus mengawasi bagaimana pergaulan anaknya (perempuan)    agar sebisa mungkin terhindar dari hal tersebut. Pengetahuan mengenai seksual juga penting disampaikan orang tua kepada anak sejak usia dini. Hal ini agar anak dapat mengantisispasi adanya pelecehan yang ditujukan kepadanya.

*) Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jambi


Penulis: Janisha Dwi Putri
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments