Rabu, 19 Mei 2021

GP Farmasi Jambi Tarik Semua Obat yang Mengandung Ranitidin


Minggu, 03 November 2019 | 20:34:01 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

JAMBI – Menanggapi surat edaran Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang dikeluarkan beberapa waktu lalu, Gabungan Perusahaan (GP) Farmasi Jambi telah menarik produk obat-obatan yang mengandung ranitidin karena diduga berpotensi dapat memicu kanker.

Ketua GP Farmasi Indonesia Provinsi Jambi Suprayuki mengatakan, setelah mendapat informasi pihaknya langsung menarik obat yang mengandung ranitidin tersebut, baik atas perintah maupun secara sukarela.

"Itu prosesnya sudah sesuai standar dan kita jalankan. Seluruhnya sudah kita tarik," ujar Suprayuki, Minggu (3/11/2019).

Suprayuki menegaskan, intruksi BPOM untuk menarik obat yang mengandung ranitidin tersebut sudah mereka laksanakan sesuai dengan standar dan prosedur yang berlaku. Dikatakannya, penarikan obat-obatan yang mengandung ranitidin tersebut dilakukan di 11 kabupaten/kota di Jambi.

"Untuk di Provinsi Jambi saya pastikan penarikan ranitidin sudah terlaksana dengan baik setelah mendapat instruksi sesuai SOP Balai POM menyatakan ini harus ditarik, maka ketika itu juga kita langsung tarik dan mensosialisasikan ke kab/kota untuk ini ditarik semuanya," terangnya.

Sementara itu, Kepala BPOM Jambi Antoni Asadi melalui Kasi Penindakan Rahmat Hidayat saat dikonfirmasi membenarkan bahwa dari pemeriksaan telah melakukan pengawasan ke lapangan dan hingga saat ini dari apotik maupun farmasi sudah mengembalikan ke pedagang besar farmasi (PBF).

"Jadi ranitidin yang ada di apotek-apotek maupun di rumah sakit, itu sudah ditarik semua oleh PBF," ujarnya.

Ditanya jumlah ranitidin yang telah ditarik edar di Jambi, Rahmat menyebut ada ratusan box. "Terdata saat ini ada sekitar 313 box," tandasnya.

Sebelumnya telah diinformasikan cemaran N-Nitrosodimenthylamine (NDMA) pada produk obat yang mengandung ranitidin sebagaimana disampaikan oleh US Food And Drug Administration (US FDA) dan european Medicine Agency (EMA) pada 13 September lalu, yang apabila melebihi batas ambang cemaran NDMA (96 ng/hari) dapat memicu kanker. Berdasarkan study global itu, BPOM akhirnya menghimbau penarikan kembali terhadap produk obat tersebut.


Penulis: Rina
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments