Minggu, 15 Desember 2019

BBI Sarolangun Tercemar Limbah PETI


Rabu, 13 November 2019 | 11:05:23 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

SAROLANGUN - Dua lokasi Balai Benih Ikan (BBI) yang ada di Kecamatan Singkut dan Limun, Kabupaten Sarolangun, saat ini kondisinya sangat memprihatinkan. Saat ini, BBI tersebut belum bisa berfungsi dengan baik dan maksimal sebagaimana yang diharapkan.

Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan, H Masturo mengatakan, BBI yang ada saat ini cukup memprihatinkan, sebab ditemukan kerusakan tanggul kolam pembenahan ikan. Sedimentasi tanah yang rusak pada pembenahan ikan di BBI Singkut, sedangkan di BBI Limun persoalan utamanya adanya air yang tercemar aktivitas PETI.

“BBI Singkut pasca banjir memang sudah dapat rehab tapi yang di rehab adalah pagar dan saluran pemasukan dan pembuangan air, kemudian lima kolam untuk benih ikan tidak dapat berfungsi karena sedimentasi tanah dan tanggulnya pasca banjir sudah rusak, jadi harus direhab juga,” kata Masturo, Rabu (13/11/2019).

Sementara untuk BBI di Kecamatan Limun persoalan air yang menjadi kendala. “Kalau untuk BBI Limun, airnya tercemar PETI, kemudian indukan yang ada di BBI Limun sudah apkir, kalau sudah begitu ikan itu jadi buas, atau makan sesama dia,” ujarnya menjelaskan.

Terkait kondisi tersebut, Masturo mengatakan pihaknya berupaya agar 2020 mendatang kedua BBI tersebut bisa rampung. Karena DAK tahun depan tidak ada, maka ia berharap dapat dianggarkan pada APBD-Perubahan tahun 2020 mendatang.

“Untuk rehab 2020 tidak dapat dana DAK, maka rencana kami ke depan mau buat nota dinas untuk diusulkan ke pak bupati, kalau di acc untuk APBDP 2020. Karena BBI ini adalah persoalan penting harus diselesaikan, kalau lima kolam itu berfungsi maka kita bisa mendapatkan puluhan ribu benih ikan, dan bisa mencukupi kebutuhan bibit domestik dan bisa dijual sampai ke luar daerah,” bebernya.

Namun lanjut dia, untuk BBI Limun persoalan air yang menjadi kendala. Hanya saja menurut dia untuk lebih cepat solusi air dari sumur bor yang tidak terkontaminasi oleh air PETI.

“Sedangkan yang di limun, rencana mau masukkan ke pak bupati, kita inventarisir yang ada berapa ikan yang ada lalu kita jual, hasilnya beli bibit yang baru. Karena air sudah tercemar maka solusinya minimal kita punya dua sumur bor, sebab ikan tidak akan berkembang maksimal kalau air tidak sehat,” beber Masturo.

Selain itu, Ia juga mengaku merasa prihatin dengan besaran gaji para Tenaga Harian Lepas (THL) yang ada di BBI Singkut dan BBI Limun tersebut. Sebab, para THL tersebut adalah ujung tombak maju dan mundurnya sektor pembibitan

“Persoalan gaji tenaga honor harian lepas yang mengelola BBI juga jadi fokus perhatian kedepan, sebab mereka ini ujung tombak maju dan mundurnya BBI, minimal sama dengan anak honorer di kantor, mohon doanya,” pungkasnya.


Penulis: Luncai Hendri
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments