Jumat, 13 Desember 2019

Tahun Ini Kasus Gizi Buruk di Sarolangun Turun


Minggu, 21 Oktober 2018 | 20:27:31 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

SAROLANGUN - Berkacamata dengan tahun-tahun sebelumnya penanganan kasus gizi buruk di Kabupaten Sarolangun dalam tahun 2018 ini mengalami penurunan. Pada tahun ini dari 10 kecamatan di Kabupaten Sarolangun hanya terdapat enam laporan kasus gizi buruk.

Sementara itu jika dibandingkan dengan tahun 2017 lalu, kasus gizi buruk yang ditemukan sebanyak 12 kasus. Hingga saat ini total Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sarolangun menangani kasus gizi buruk dengan kondisi fisik sangat kurus sebanyak 18 kasus.

"12 diantaranya adalah kasus lama tahun sebelumnya. Artinya yang murni ditemukan tahun ini hanya enam kasus," kata Kepala Dinkes Sarolangun, Adnan HS saat dikonfirmasi melalui Kabid Kesehatan masyarakat (Kesmas) Abdul Malik.

Kesemua temuan kasus gizi buruk ini, terang Abdul Malik, tidak semuanya murni gizi buruk dan ada juga karena sakit bawaan sejak lahir sepertu terserang infeksi saat bayinya dan ada juga hidrosefalus (hydrocephalus) dimana kondisinya terdapat penumpukan cairan di dalam otak yang mengakibatkan meningkatnya tekanan pada otak atau air di dalam otak.

"Ini sebenarnya bukan gizi buruk murni, karena juga ditemukan ada yang memang sakit dari bayinya. Intinya kebanyakan itu karena dia sakit, ada juga yang disebut hidrosefalus, dan yang masuk kategori kasus gizi buruk ini hanya pada anak usia 0 sampai dengan lima tahun atau balita," terangnya.

Semua temuan kasus gizi buruk ini, lanjutnya, berdasarkan laporan dari pihak Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang ada di Kabupaten Sarolangun, di antaranya dari Puskesmas Sarolangun, Pelawan, Singkut, Limun, Cermin Nan Gedang, Pauh, Air Hitam dan Kecamatan Mandiangin.

"Hanya di dua kecamatan yang tidak ada laporan terhadap kasus tersebut, yaitu Puskesmas Kecamatan Bathin VIII dan Puskesmas Batang Asai. Bisa jadi ini memang tidak ada kasusnya," kata Abdul Malik.

Ia menjelaskan, dari keseluruhan temuan kasus gizi buruk itu. Berdasarkan catatan pihaknya tren penemuannya mengalami penurunan pada tahun 2018 ini dibandingkan pada tahun sebelumnya.

"Ini jelas ada tren penurunannya terhadap penemuan kasus tersebut, yaitu hanya enam pada tahun 2018 ini dan 12 pada tahun sebelumnya dari total 18 kasus yang masih ditangani saat ini," ungkapnya.

Terhadap hal tersebut, pihaknya terus melakukan penanganan untuk menekan temuan kasus itu. Agar kemudian kasus tersebut semakin kecil terjadi di Sarolangun, salah satunya dengan memberi bantuan pangan inti untuk pasokan gizi pada penderitanya gizi buruk. Dan penanganan yang dilakukan kepada penderita juga terus menunjukkan ke arah positif artinya membaik.

“Kasus ini disebabkan berbagai faktor, di antaranya faktor ekonomi dan pendidikan orang tua yang kurang mengetahui secara detail kondisi kesehatan anak," tambahnya.


Penulis: Luncai Hendri
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments