Senin, 9 Desember 2019

Reality Show Politik


Senin, 22 Oktober 2018 | 13:49:59 WIB


/

INDONESIA adalah salah satu negara yang menggunakan sistem pemerintahan demokrasi. Kini Indonesia menjadi negara demokrasi terbesar ke tiga di dunia.

Dalam sebuah negara yang menganut paham Demokrasi, Pemilihan Umum (Pemilu) menjadi kunci terciptanya demokrasi. Setiap negara demokrasi pasti melaksanakan Pemilu. Pemilu merupakan wujud yang paling nyata dari demokrasi. Salah satu perwujudan keterlibatan rakyat dalam proses politik adalah pada saat Pemilu.

Tidak lama lagi Indonesia akan melaksanakan Pemilu, tepatnya pada tanggal 19 April 2019 akan dilakukan pemilu serentak, yaitu Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg).

Pada tulisan ini, penulis bukan membahas tentang demokrasi, pemilu, pemilihan presiden ataupun pemilihan legislatif secara umum, melainkan tentang strategi para aktor politik untuk memenangkan pemilu.

Ada beberapa hal yang sangat sering dilakukan oleh para aktor politik untuk memenangkan pemilu.

Pertama, sebelum pemilihan aktor-aktor politik akan menjadi sangat ramah kepada masyarakat. Orang yang dulunya tidak peduli dengan lingkungan sekitar kerap akan berubah drastis menjadi orang sangat peduli terhadap lingkungan sekitar. Akting yang sangat bagus akan diperlihatkan oleh para aktor politik ini. Bahkan mereka rela menghabiskan tenaga, dana dan waktu mereka demi mendapatkan simpatik dari masyarakat.

Kedua, banyak janji-janji yang dikeluarkan oleh para aktor politik sebelum pemilihan. janji-janji manis yang dikeluarkan oleh para aktor politik adalah hal sangat dibutuhkan oleh rakyat. Mereka rela menjanjikan hal-hal yang sangat sulit bahkan mustahil untuk diwujudkan.

Ketiga, para aktor politik akan saling menjatuhkan nama baik satu sama lain. Mereka akan melakukan berbagai cara untuk menjatuhkan lawan politiknya, bahkan mereka berani memfitnah lawan politiknya. Tidak peduli siapapun itu jika masih menjadi lawan politiknya, mereka rela saling menjatuhkan satu sama lain. Baik itu kerabat, keluarga dan yang sangat miris saudara kandung sekalipun akan saling menjatuhkan satu sama lain.

Dari beberapa hal di atas, penulis sangat prihatin terhadap persaingan politik yang ada di Indonesia saat ini. Karena begitu beratnya perjuangan yang dilakukan untuk memenangkan pemilu malah akan menjadi pemicu terjadinya tindakan-tindakan yang tidak di inginkan, seperiti korupsi.

Yang dikhawatirkan penulis adalah ketika mereka memenangakan pemilu, para wakil rakyat itu justru berfikir untuk mengembalikan modalnya terlebih dahulu. Karena banyaknya modal yang mereka keluarkan pada saat pemilu, hingga gaji pokok saja belum tentu cukup untuk mengembalikan modal mereka.

Penulis juga khawatir karena sangat kerasnya persaingan pada saat pemilu justru akan terbawa sampai Pemilu selesai dan ada permusuhan antara calon-calon yang maju pada pemilu.

Penulis berharap kepada para calon wakil-wakil rakyat yang akan maju pada Pemilu serentak 2019, agar dapat bersaing secara sehat. Tidak saling menjatuhkan satu sama lain, tidak perlu mengeluarkan banyak modal, baik itu dana, tenaga atau apapun yang justru malah akan menjadikan beban di kemudian hari, tidak berpura-pura baik hanya untuk mendapatkan simpatik dari rakyat dan tidak ada lagi permusuhan-permusuhan yang terjadi setelah Pemilu selesai.

Karena rakyat Indonesia sangat membutuhkan anggota eksekutif, legislatif dan yudikatif yang benar-benar tulus dan ikhlas sepenuh hati hanya ingin mensejahterakan rakyat, bukan sebaliknya. Justru rakyat yang mensejahterakan kehidupan pribadi mereka.

Pada kesempatan kali ini penulis ingin menyampaikan pesan kepada seluruh rakyat Indonesia yang ikut berpartisipasi untuk mencoblos pada saat Pemilu 2019 yang akan datang. Pilihlah pemimpin atau wakil rakyat yang menurut hati nurani anda pantas untuk menjadi pemimpin ataupun wakil rakyat, dan jangan pilih yang memberikan uang lebih banyak kepada anda. Karena itu akan menjadi pemicu terjadinya korupsi.

*) Mahasiswa Prodi Ilmu Politik Fisipol Unja


Penulis: Muhammad Ghafur
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments