Kamis, 5 Desember 2019

Keuangan Islam dan Pemberdayaan UMKM


Kamis, 21 November 2019 | 10:45:32 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

LEMBAGA Keuangan Syariah adalah badan usaha yang kegiatannya dibidang keuangan yang didasarkan prinsip-prinsip syariah (Laksmana, 2009: 10) atau dengan kata lain bersumber dari ayatayat Al-Quran dan As-Sunnah yang berkaitan dengan etika bermuamalah dan transaksi ekonomi, baik dalam bentuk bank maupun non bank. Dalam Islam, tidak semua transaksi ekonomi dilarang, demikian juga sebaliknya, tidak semua transaksi ekonomi diperbolehkan. Hal yang terlarang dalam Islam, salah satunya adalah riba. Riba adalah penetapan kelebihan atau tambahan jumlah pinjaman yang dibebankan kepada si peminjam, atau dalam dunia perbankan diistilahkan dengan ‘bunga’.

Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh lembaga keuangan, baik itu Bank maupun Koperasi Simpan Pinjam, selama ini hanya ‘menggantungkan’ keuntungan dari bunga. Bank manapun menetapkan berapa tinggi suku bunganya. Misalnya, sebuah perbankan menetapkan 10%, jika seorang peminjam menerima pinjaman 100 juta rupiah, maka ia harus mengembalikan 110 juta dalam satu tahun. Jumlah 10 juta ini lah yang dianggap sebagai riba dalam Islam. Larangan riba dapat dilihat dari ayat berikut ini: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat-ganda dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamumendapat keberuntungan.” (Q.S. Ali Imran: 130).

Pada ayat lainnya Allah berfirman;“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa-sisa (dari berbagai jenis) riba jika kamu orangorang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) makaketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.” (Q.S. Al Baqarah: 278-279)

Islam menawarkan sistem bagi hasil yang salah satunya disebut dengan mudharabah, yaitu akad pembagian keuntungan yang dilakukan antara pemberi modal dan penerima modal untuk usaha, dan pembagian dilakukan berdasarkan keuntungan usaha.Mudharabah ini secara bahasa artinya adalah kerjasama, dalam hal ini adalah kerjasama permodalan (Antonio, 2001: 95)

Praktek mudharabah merupakan praktek yang dilakukan oleh Rasulullah sebelum diangkat menjadi Nabi, sebagaimana yang ia lakukan bersama Siti Khadijah. Siti Khadijah menyumbang modal besar untuk melakukan perjalanan dagang Rasul, sedangkan Rasulullah sendiri menyumbang tenaga dan keahliannya dalam berdagang. Keuntungan dari keduanya dibagi secara bersama. Jika merugi, maka merugi secara bersama-sama, jika untung maka keuntungannya dibagi diantara keduanya. Inilah yang membedakan dengan sistem riba. Dalam riwayat lainnya, Khalifah kedua Umar Ibn Khatab, pernah menginvestasikan harta anak yatim kepada para saudagar (Lewis & Algaoud, 2001: 14).

Lembaga keuangan islam (bank)   Lembaga keuangan konvensional (bank)
Melakukan investasi-investasi yang halal saja   Investasi yang halal dan haram
Berdasarkan prinsip bagi hasil, jual beli atau sewa   Memakai perangkat bunga
Profit dan falah oriented   Profit oriented
Hubungan dengan nasabah dalam bentuk hubungan kemitraan   Hubungan dengan nasabah dalam bentuk hubungan debitor-debitor
Penghimpunaan dan penyaluran dana harus sesuai dengan fatwa dewan pengawasan syariah   Tidak terdapat dewan sejenis.



Usaha Mikro Kecil Menengah (selanjutnya disebut UMKM) merupakan sekelompok orang atau individu yang dengan segala daya upaya miliknya berusaha di bidang perekonomian dalam skala sangat terbatas.Usaha Mikro yaitu modalnya maksimal Rp 50 juta, sedangkan omzetnya mencapai Rp. 300 juta.Banyak faktor yang membatasi gerak usaha UMKM, diantaranya sulitnya akses terhadap pendidikan, modal, dan teknologi. Dalam realitas obyektif, dengan segala keterbatasannya itu, UMKM tetap mampu bertahan di tengah krisis ekonomi. Eksistensi UMKM didukung oleh fleksibilitas bidang usaha yang mereka geluti, baik mulai dari modal yang kecil, kesederhanaan teknologi, SDM yang terbatas dalam kualitas dan kuantitas, maupun terbatasnya pasar. Satu hal yang unik ditemui saat ini pada UMKM adalah komitmen dan kepedulian mereka terhadap moralitas.

Berdasarkan data biro pusat statistik, pada tahun 2009 Indonesia memiliki 51,3 juta unit UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) atau sekitar 99,91 persen dari total pelaku usaha bergerak di sektor UMKM. Terdapat 97,1 persen (sekitar 90,9 juta) tenaga kerja di negeri ini yang bergantung pada sektor UMKM. Pada tahun 2010, dengan jumlah penduduk 237,6 juta dan SDA yang dimiliki seharusnya Indonesia memiliki basis-basis UMKM yang kuat. Keberhasilan UMKM adalah keberhasilan masyarakat Indonesia, sebab sektor ini merupakan jumlah mayoritas dan memberikan kontribusi kepada negara pada banyak bidang. Pada tahun 2009, kontribusi UMKM terhadap PDB sebesar Rp 2.609,4 triliun atau mencapai 55,6 persen. Kontribusi UMKM terhadap devisa negara sebesar Rp.183,8 triliun atau 20,2 persen, kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional 2-4 persen, dan merupakan nilai investasi yang signifikan mencapai Rp.640,4 triliun atau 52,9 persen.
Dalam operasionalnya, lembaga tersebut menggunakan bunga yang berakibat pada eksistensi UMKM. Di saat usahanya mengalami hambatan yang berakibat kerugian maka UMKM tetap harus membayar beban bunga. Kondisi ini dapat mengakibatkan keidakberdayaan UMKM yang berakibat pada meningkatnya angka kemiskinan.

Dalam perspektif Islam, kemiskinan ini timbul karena ketidakpedulian dan kebakhilan kelompok kaya (QS 3: 180, QS 70:18) sehingga si miskin tidak mampu keluar dari lingkaran kemiskinan. Manusia bersikap dzalim, eksploitatif, dan menindas kepada sebagian manusia yang lain, seperti memakan harta orang lain dengan jalan yang batil (QS 9:34), memakan harta anak yatim (QS 4: 2, 6, 10), dan memakan harta riba (QS 2:275).

Lembaga keuangan berbasis syariah, seiring dengan perkembangannya menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat. Pada tahun 2010 dengan kekuatan 11 bank umum syariah (BUS), 23 unit usaha syariah (UUS) dan 151 bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS), yang memiliki jaringan kantor mencapai 3.073 unit, perbankan syariah nasional telah menunjukkan perannya.

Pada tahun 2008 pemerintah telah meluncurkan program pembiayaan baru bagi UMKM dan koperasi, yaitu kredit usaha rakyat (KUR). Dana yang disediakan sebesar 14,5 triliun disalurkan melalui enam bank pelaksana, yaitu BRI, BNI, BTN, Bukopin, Bank Mandiri, dan Bank Syariah Mandiri. Pagu kredit yang diberikan mulai Rp 5 juta hingga Rp 500 juta dengan bunga maksimal 16 persen per tahun.


Menurut M.Tohar (1999:2) kriteria usaha kecil adalah sebagaimana dibawah ini :
1.    Memiliki kekayaan bersih atau total aset paling banyak Rp 200.000.000,00
2.     Memiliki hasil penjualan bersih pertahun max Rp 1.000.000.000,00
3.    Milik warga negara Indonesia
4.    Berdiri sendiri, artinya bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau berafiliasi entah langsung atau tidak langsung usaha besar
5.    Berbentuk usaha perseorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum termasuk koperasi.
Menurut Tambunan (2009;1) dari perspektif dunia, diakui bahwa usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) memainkan suatu peran yang sangat vital di dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, tidak hanya di negara-negara yang sedang berkembang, tetapi juga di Negara-negara maju.

Perkembangan peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang besar ditunjukkan oleh jumlah unit usaha dan pengusaha, serta kontribusinya terhadap pendapatan nasional, dan penyediaan lapangan kerja. Data statistik menunjukkan pada tahun 2011 jumlah unit usaha kecil mikro dan menengah (UMKM) mendekati 99,98 % terhadap total unit usaha di Indonesia. Sementara jumlah tenaga kerja yang terlibat mencapai 91,8 juta orang atau 97,3% terhadap seluruh tenaga kerja Indonesia. Setiap UMKM rata-rata menyerap 3-5 tenaga kerja, maka dengan adanya penambahan sekitar 3 juta unit maka tenaga kerja yang terserap bertambah 15 juta orang. Pengangguran diharapkan menurun dari 6,8% menjadi 5 % dengan pertumbuhan UKM tersebut.

Penulis adalah mahasiswa Universitas Jambi


Penulis: Oleh Rhesa Daffa, Ratih Ratnasari, Firdus Hadi, Miftakul Khoir dan Eni Saputri
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments