Jumat, 13 Desember 2019

Diduga Kaya,Ternyata Hanya Gaya


Kamis, 21 November 2019 | 10:58:43 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

DI ERA modernisasi saat ini, baik gaya hidup maupun pola konsumsi menjadi suatu hal yang sangat menarik untuk di perbincangkan. Tentu dengan majunya zaman dan perkembangan Iptek (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi), maka dapat mempermudah manusia untuk melakukan segala aktivitas, termasuk perihal berbelanja, dengan timbulnya market place dapat mendorong terjadinya sifat hidup boros.

Gejala yang timbul saat ini adalah “hedonisme”, yaitu gaya hidup yang mewah. Dengan adanya gejala ini secara otomatis akan mempengaruhi manusia untuk menuntut keadaan agar terlihat  kaya, dengan cara membeli berbagai macam barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan sama sekali.

Lantas bagaimana dengan individu yang memiliki modal terbatas namun tetap ingin terlihat kaya?  Nah, hal ini yang akan menjadi pemicu terjadinya perilaku menyimpang seperti berbohong, mencuri, dsb.  Inilah dampak apabila manusia tidak dapat menerapkan skala prioritas kebutuhan.

Tulisan ini berangkat dari fenomena hedonisme yang telah menjamur di kalangan masyarakat khusunya generasi muda/milenial, tentu hal ini bertentangan dengan kaidah kaidah Islam, Indvidu harusnya mampu mengetahui bahwa islam memberi batasan-batasan dalam bergaya dan berkonsumsi. Banyaknya dampak negatif dari gaya hidup mewah dan boros ini, tentu akan merusak moral dan etika setiap individu yang terpengaruh.

Sebelum membahas tentang bagaimana lebih rinci mengenai fenomena hedonisme dan sifat boros ini dalam kehidupan,berikut akan di jelas mengenai pengertian hedonisme dan sifat boros secara lebih luas.

Pengertian Hedonisme
Secara etimologi Hedonisme diambil dari bahasa yunani yaitu “Hedone”  yang artinya kesenangan.  Secara sederhana pengertian Hedonisme mengacu pada paham kesenangan terhadap kenikmatan.  Sedangkan pengertian Hedonisme menurut para ahli adalah “sesuatu yang dianggap baik sesuai dengan kesenangan yang didatangkannya.  Dengan kata lain sesuatu yang hanya mendatangkan kesusahan, penderitaan, dan tidak menyenangkan adalah sesuatu yang dinilai tidak baik”(Burhanuddin 1997:81)

Ada Dua Faktor penyebab Hedonisme

Pertama, Faktor internal
Yaitu berasal dari dalam diri sendiri. Sudah menjadi sifat dasar manusia itu ingin mempunyai kesenangan sebanyak banyaknya dengan bekerja seringan mungkin dan tidak puas dengan hal yang sudah dimiliki.

Kedua, Faktor eksternal
Yaitu arus informasi dari luar yang sangat besar atau juga globalisasi. Kebiasaan kebiasaan orang dari luar negeri yang dianggap dapat membuat senang lalu diadaptasi oleh masyarakat Indonesia.

Ciri ciri Hedonisme di masyarakat:
1.    Berfikir bahwa tujuan utama hidup seseorang adalah kenikmatan dan kesenangan pribadi
2.    Tidak peduli dengan kepentingan dan kebahagiaan orang lain sehingga menjadi pribadi yang egois
3.    Tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimiliki
4.    Bersifat konsumtif
5.    Mereka yang menganut Hedonisme cenderung diskriminatif dan sombong

Dampak dari Hedonisme :
Hedonisme dapat memicu timbulnya sikap Individualisme, Konsumtif, Egois, Kurang bertanggung jawab, Boros, bahkan Korupsi.

Sifat Boros
Boros merupakan tindakan dalam membelanjakan harta untuk hal yang sia sia. Allah Subhanahu Wa Ta Ala  berfirman:

“Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskindan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (QS. Al-Isra’ : 26)

" Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat kufur kepada Tuhannya” (QS. Al-Isra’ : 27)

Boros merupakan salah satu dampak dari Hedonisme, dan merupakan salah satu sifat tercela yang tidak diperbolehkan untuk di terapkan dalam islam.
Dampak negatif dari gaya hidup boros :
1.    Tidak menghargai uang
2.    Kesulitan melacak perginya uang
3.    Menyebabkan utang
4.    Menenggelamkan masa depan
5.    Menimbulkan kecemburuan social
6.    Menimbulkan sifat sombong
7.    Mengandalkan orang lain

Contoh Kasus  Hedonisme dan Boros
Ibu Sandra cemburu melihat tetangganya telah berhasil membeli sebuah mobil. Karena sifat hedonisme nya, Ibu Sandra memaksakan diri untuk membeli mobil yang serupa dengan yang dibeli oleh tetangganya, padahal dia sendiri sudah memiliki sebuah mobil, sehingga mobil yang sudah ada tidak terpakai dan Ibu Sandra pun terlilit hutang dikarenakan keterbatasan modal untuk membeli mobil tersebut.

Dari Kasus diatas, kita perlu mempelajari teori tentang konsumsi dalam ekonomi islam agar kita dapat lebih memprioritaskan kebutuhan daripada keinginan. Karena sejatinya dalam islam manusia yang mampu mengatur keuangannya sesuai dengan kebutuhan jauh lebih dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta Ala.

Penulis adalah Mahasiswa prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi


Penulis: Cristyn Yohana Sianipar, Melda Junita, Nadya Tifany Ananda, Natalia Fitria Revini Pranata, Sari Pusp
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments