Jumat, 23 Oktober 2020

Kopi Arabika Kerinci, Komoditas Unggulan Berbasis Ekspor


Rabu, 27 November 2019 | 22:26:38 WIB


Seorang ibu saat memanen biji kopi
Seorang ibu saat memanen biji kopi / Sabaryusminardi

JAMBI- Gunung Kerinci yang berada di Kabupaten Kerinci, merupakan gunung tertinggi di Sumatera dengan ketinggian 3.805 mdpl. Di kaki Gunung Kerinci terdapat perkebunan teh tertua di Indonesia, yang sudah berdiri sejak zaman penjajahan Belanda.

Diantara luasnya perkebunan teh di kabupaten paling barat Provinsi Jambi ini, terdapat pengolahan kopi Arabika Kerinci yang pasarnya tidak hanya dalam negeri, tapi hingga mancanegara.

Kabupaten Kerinci juga kerap dijuluki “Sekepal Tanah Surga” karena memiliki keindahan alam, tanah yang subur serta masyarakatnya sangat ramah. Tak heran, jika wisatawan dari dalam dan luar negeri sangat terkesan setelah berkunjung ke Kerinci.

Potensi kopi dan pariwisata ini, jika dikemas secara maksimal, tentunya akan memberikan nilai tambah bagi warga Kerinci khususnya, maupun Pemerintah Provinsi Jambi.

Tanah yang subur, terutama di Kecamatan Kayu Aro dan Gunung Tujuh, sejak beberapa tahun lalu juga dimanfaatkan warga sebagai areal perkebunan kopi. Salah satunya adalah Kelompok Tani Koerintji Barokah Bersama di Desa Jernih Jaya, Kecamatan Gunung Tujuh, yang mengelola kopi jenis arabika Sumatera Koerintji.

‘’Ada 270 warga dari delapan kelompok tani tergabung di Kelompok Tani Koerintji Barokah Bersama. Lahan yang kita kelola saat ini sekitar 120 hektar berada di tiga kawasan, yakni Kecamatan Kayu Aro, Kayu Aro Barat dan Kecamatan Gunung Tujuh,’’ ujar Ketua Ketua Kelompok Tani Koerintji Barokah Bersama, Triyono

Kopi arabika Sumatera Koerintji, kata Triyono, merupakan produk kopi yang spesial, produksinya saat ini mencapai 6-7 ton per bulan.

“Sebelum ada pendampingan dari Bank Indonesia pada akhir awal 2018 lalu, produksi kita hanya sekitar 1,5–2 ton. Pendampingan yang kita terima sifatnya fleksibel, atau sesuai kebutuhan. Misalnya kita butuh rumah jemur kopi, BI membantu bahan, kita yang disain sendiri. Termasuk jika kita butuh pelatihan soal keuangan, pemasaran atau pameran, maka Bank Indonesia yang akan memfasilitasi,’’ jelasnya.

Saat ini, kopi arabika Kerinci mulai dikenal luas para pencinta kopi mancanegara. ‘’Selain pasar lokal, kita sudah melakukan ekspor ke Belgia, Amerika dan Austalia. Kita juga terus melakukan promosi agar kopi dan kawasan wisata yang ada di Kerinci ini bisa lebih dikenal luas oleh pecinta kopi mancanegara,’’ ungkap Triyono.

Upaya untuk memperkenalkan kopi dan potensi wisata Kerinci itu diantaranya bekerjasama dengan travel agen dan mengikuti beragam kegiatan, seperti festival 1000 kopi.

‘’Untuk festival 1000 kopi sudah digelar selama 2 tahun, yakni 2018 dan 2019. Dan jika ada tamu yang datang, baik lokal atau mancanegara, kita juga menawarkan paket wisata edukasi di kebun kopi. Jadi, selain melihat keindahan alam Kerinci, pengunjung bisa belajar memetik, memproses hingga menyeduh kopi yang benar agar hasilnya enak,’’ kata Triyono.

Triyono, Ketua Kelompok Tani Koerintji Barokah Bersama

Menurutnya, cita rasa kopi arabika Kerinci memiliki keunikan tersendiri. ‘’Tahun 2017 kita meraih predikat kopi spesialti terbaik Indonesia. Tahun 2018, Kopi Arabika Sumatera Koerintji juga meraih medali pada ajang yang digelar di Australia,’’ jelasnya.

Triyono menyebutkan, untuk menghasilkan kopi yang berkualitas, selain kondisi lahan, sejak pemetikan, setelah panen, pengolahan biji kopi, hingga teknik menyeduh kopi juga harus dilakukan dengan benar.

‘’Indikasi geografis merupakan salah satu pembeda dari rasa. Proses mendapatkan kopi yang enak juga harus natural. Kopi arabika Kerinci adalah kopi spesial, jadi pengolahannya harus benar, termasuk saat di kafe-kafe, cara penyajiannya juga spesial,’’ katanya.

Hanya saja, saat ini Kelompok Tani Koerintji Barokah Bersama belum bisa memuhi tingginya permintaan kopi dari pasar luar negeri. Sebab, kapasitas produksi belum mampu memenuhi permintaan pasar.

‘’Pertahun kita ekspor 1 sampai 2 kali, sebelum ekspor disepakati harga dan rasa, kita juga kirim sample dulu, kalau cocok baru dikirim. Untuk proses sendiri, sejak pemetikan hingga jual, butuh waktu sekitar dua bulan. Kendala kita saat ini adalah untuk penyortiran masih manual, karena belum ada alat sortir khusus yang harganya cukup mahal,’’ ungkapnya.

Sebenarnya, kata Triyono, sejak menanam sampai packaging sudah bisa dilakukan sendiri. ‘’Kita juga sudah ada izin dan bisa ekspor sendiri. Kalau bisa ekspor sendiri tentu biayanya bisa lebih hemat. Saat ini kita masih ekspor lewat pelabuhan di Medan,’’ tambahnya.

‘’Sekarang lagi tahap proses di provinsi, apakah pelabuhan Talang Duku bisa digunakan untuk ekspor atau tidak. Kita berharap Pemerintah Provinsi Jambi bisa memfasilitas di pelabuhan. Untuk ekspor kopi ini, di pelabuhan kita butuh gudang khusus, karena kopi beda dengan produk lainnya. Di Talang Duku belum ada, makanya kita ekspor lewat Medan, semua yang mengurus pihak pelabuhan Medan,’’ ungkapnya.

Asisten Manager Fungsi Kordinasi dan Komunikasi Kebijakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jambi, Didit Wahyu Pradipta menyatakan, pendampingan terhadap Kelompok Tani Koerintji Barokah Bersama sebagai upaya meningkatkan ekspor komoditas unggulan yang ada di Jambi.

Didit menyebutkan, dalam membina suatu koperasi, pihaknya terlebih dahulu melakukan survei. ‘’Setelah disetujui, kita lakukan pelatihan atau membawa petani untuk studi banding. Progresnya juga terus dipantau, misalnya produksi masih kecil, maka kita analisa apa kendalanya. Bantuan yang diberikan juga lebih teknis sifatnya,’’ jelas Didit.

Pembinaan yang dilakukan terhadap kelompok tani kata Didit, ditarget 2 tahun tapi bisa diperpanjang 1 tahun lagi sesuai analisa.

‘’Setelah itu, kita lepas agar mandiri dan tidak fokus ke situ-situ saja. Untuk Kelompok Tani Koerintji Barokah Bersama, akhir 2017 mulai pendampingan dan setelah perpanjangan 1 tahun akan berakhir 2020 habis. Tapi kalau sudah bagus, bisa distop di Desember ini,’’ katanya.

Didit menjelaskan, diawal tahun pada forum di pusat setiap Kantor Perwakilan Dalam Negeri (KPWDN), mengajukan proposal klaster mana saja yang akan dibina, apakah bidang ketahanan pangan atau pengembangan ekonomi.

‘’Klaster ini yang kita ajukan ke pusat, seperti tahun ini, untuk ketahanan pangan kita ajukan klaster cabe, ikan nila dan sapi. Sedangkan, pengembangan ekonomi, kopi atau batik. Tapi akan disurvei lagi. Tahun depan kita akan survei kopi di Jangkat dan Tungkal,’’ jelasnya.

Menurutnya, salah satu program strategis Bank Indonesia adalah menjaga inflasi dan ketahanan pangan. Seperti cabe, ikan nila dan sapi yang merupakan salah satu komoditas penyumbang inflasi di Jambi. ‘’Makanya BI akan kembangkan klaster ini,’’ tambah Didit.

BI juga memiliki tujuan mengurangi current accaount defisit yaitu angka pertumbuhan impor lebih tinggi dibandingkan angka pertumbuhan ekspor.

‘’Untuk meningkatkan ekspor, salah satunya peningkatkan komoditas unggulan berbasis ekspor di Jambi dan kebetulan ada kopi, makanya kita masuk komoditas ini. Jadi, klaster kita pengembangannya difokuskan ketahanan pangan untuk pengendalian inflasi dan mengurangi current account defisit,’’ katanya lagi.

Tujuan lainnya adalah apa yang dilakukan BI bisa jadi contoh pemerintah daerah atau instansi lainnya untuk mereplikasi program ini.

‘’Di satu sisi untuk klaster ketahanan pangan program ini bisa direplikasi bagaimana cara peningkatan produksi komoditas pangan sebagai pengendali inflasi, bisa juga untuk komoditas berbasis pengembangan ekonomi dan ekspor, misalnya kopi. Tidak mungkin kan binaan BI bisa mengendalikan inflasi, sebab berapalah kemampuan kita. Kita ingin beri contoh bahwa kita pernah mengembangkan model klaster ketahanan pangan dan berhasil meningkatkan produksi sekian persen, bisa nih dicontoh pemerintah daerah yang mau meningkatkan produksi di daerahnya,’’ katanya. ***


Penulis: Sabaryusminardi
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments