Selasa, 2 Juni 2020

Memoar, Mengenang Masa Kanak-kanak Melalui Tari


Rabu, 04 Desember 2019 | 20:40:16 WIB


Mahasiswa jurusan Sendratasik Konsentrasi Tari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jambi saat mengadakan pertunjukan dalam rangka ujian akhir semester dengan mata kuliah koreografi ruang
Mahasiswa jurusan Sendratasik Konsentrasi Tari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jambi saat mengadakan pertunjukan dalam rangka ujian akhir semester dengan mata kuliah koreografi ruang / istimewa

Oleh: Megy Z *)

BERLOKASI di Taman Kanak-kanak Dharma Wanita Mendalo Darat, Sabtu, 30 November 2019, mahasiswa Jurusan Sendratasik Konsentrasi Tari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jambi mengadakan pertunjukan dalam rangka ujian akhir semester dengan mata kuliah koreografi ruang.

Tepat pukul 20.00 WIB, sambutan serta salam dari pembawa acara menandai pertunjukan akan dimulai, perhatian penonton mulai terfokus pada arena permainan anak-anak yang disinari lampu berwarna-warni. Penataan pertunjukan seperti ini cukup menarik, terlihat beberapa orang pengendara dan pejalan kaki singgah dan menyaksikanpertunjukan.

Tempat seperti ini pada umumnya akan sepi dari aktivitas serta minim pencahayaan pada malam hari dan hanya terlihat lalu-lalang kendaraan melintasi pertigaan jalan yang ada tepat didepan taman kanak-kanak tersebut.

“Karya ini terinspirasi dari ruang taman bermain anak anak, dalam ruang taman bermain anak-anak banyak aktivitas. Seperti: bermain, berimajinasi dan berekspresi. Gerak laku dari aktivitas tersebut, menjadi dasar pijakan koreografi ini untuk menjadikan ruang taman bermain sebagai ruang pertunjukan tari”.

Itulah sinopsis yang disampaikan oleh pembawa acara.Tak lama setelah itu, terdengar suara alat musik pianika dengan lantunan nada lagu bintang kecil yang dimainkan seorang laki-laki yang berada di atas perosotan sambil turun perlahan hingga ke bawah, lalu orang tersebut keluar dari arena pertunjukan.

“Ting !” suara alat musik triangle berbunyi serentak dengan padamnya salah satu lampu pencahayaan pertunjukan, perhatian terfokus pada arena permainan besi panjat yang berbentuk kubus.Disana terlihat lima orang penari wanita bergantung dengan posisi kepala di bawah. Para penari mulai  bergerak mengitari arena permainan tersebut dengan perlahan dan sejalan dengan irama serta ritme dari efek suara alat musik marimba.

Sisi demi sisi arena permainan besi panjat dieksplorasi oleh para penari dengan berbagai gerakan, mulai dengan gerakanyang simetris antara satu dengan penari lainnya, hingga gerakan yang terlihat abstrak.

Kurang lebih lima menit berlalu, para penari turun dari arena besi panjat lalu mengeksplorasi arena permainan lainnya. Para penari tersebut bergerak lincah layaknya gerakan anak-anak mengitari arena demi arena yang ada di taman bermain tersebut, sesekali  para penari membentuk susunan berbaris memanjang dengan gerakan yang sama antara satu penari dengan penari lainnya. Namun ada pula bagian dimana penari berpencar ke berbagai arah di taman bermain tersebut dengan melakukan berbagai gerakan tubuh yang bereksplorasi pada sisi demi sisi beberapa arena permainan.

Ritme dan tempo musik semakin cepat mengiringi gerakan penari yang kian lincah, lampu penerangan yang berwarna-warni silih berganti padam dan menyala seolah merepresentasikan keriangan waktu bermain anak-anak di arena tersebut. Tiba-tiba, lampu penerangan mati, hanya satu lampu yang mengarah ke arena besi panjat yang menyala. Musik yang tadinya terdengar riang, berganti dengan suara biola yang sendu.

Disana, hanya terlihat seorang penari yang bergantung di arena besi panjat dengan gerakan yang lambat, penari tersebut turun dan berjalan perlahan menuju arena permainan terowongan yang terbuat dari drum. Ia masuk kedalamnya sesekali penari tersebut memukul sisi bawah drum tersebut hingga menimbulkan suara yang keras. Kemudian penari tersebut berdiri sambil mengangkat tangannya melakukan gerakan seperti superhero sembari berteriak “berubah”.

Lampu yang tadinya padam kembali menyala, irama dan ritme musik berubah menjadi lebih cepat dengan berbagai efek suara yang menyerupai suara senjata ditengah peperangan. Semua penari memasuki arena pertunjukan dengan berlari sambil mengangkat tangan layaknya pahlawan super mengitari taman bermain tersebut.

Kurang lebih lima menit suasana riang terbangun memalaui tata cahaya, musik penggiring dan koreo dari para penari. Di saat penari duduk berbaris di atas arena permainan terowongan,tiba-tiba musik dan efek suara peperangan yang tadinya riuh dan ramai,berganti dengan suara alat musik marimba dengan ritme dan tempo yang lambat.

Tak lama kemudian seorang laki-laki yang muncul di awal pertunjukan kembali memainkan alat musik pianika dengan lagu yang sama pada saat awal pertunjukan. Di saat yang bersamaan, para penari menatap pada pemuda yang memainkan pianika tersebut. Akhir dari lagu tersebut menandai selesainya pertunjukan yang  berjudul “Memoar”.

Pertunjukan yang berjalan selama kurang lebih lima belas menit ini seolah mengajak penonton untuk kembali bernostalgia ke masa kanak-kanak,masa- masa dimana kita hidup dan menghidupkan permainan dengan daya imajinasi yang aktif dan terkoneksi baik antar teman bermain maupun antara kita dengan lingkungan. Suasana riang yang tersaji tak hanya mengajak penonton untuk kembali mengenang masa kanak-kanak, tetapi juga dapat membuat penonton untuk mengolah rasa kegembiraan melalui kebersamaan dan kekompakan tanpamengenal waktu dan tempat.

Secara tidak langsung secara berasamaan antara konsep dan perencanaan, keberhasilan pertunjukan tersebut merupakan implementasi dari konsep dari sang koreografer untuk aktif, imajinatif serta kreatif melalui kebersamaan dan kekompakan. Dengan cara demikian, tujuan yang ingin di raih akan dapat tercapai.

*) Penulis adalah mahasiswa FIB Universitas Jambi


Penulis: Megy Z
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments