Selasa, 2 Juni 2020

Mencermati Ruang Tugu Angsa Melalui Seni Pertunjukan


Rabu, 04 Desember 2019 | 21:04:12 WIB


/ istimewa

Oleh: Muhammad Alfath *)

PADA malam tanggal 25 November 2019, seperti hari biasanyaterlihat kendaraan roda dua berjejer dan orang-orangramai berkumpul di sekitaran Tugu Angsa depan Universitas Jambi. Bisik percakapan dan bunyi kendaraan juga terdengar sesekali saat itu. Namun kali ini tampak sedikit berbeda, yang mana kendaraan tersusun lebih rapi danlighting (pencahayaan) berwarna kuning menyoroti pelataran di depan Tugu Angsa. Situasi ini merupakan detik-detikakan dipergelarkannya koreografi ruang tari berjudul Rerenungkarya Amina Tuzzuhriah dan Eka Yuliana, mahasiswi Prodi Sendratasik Universitas Jambi.

Sesaat kemudian tampak pembawa acara memasuki arena pergelaran dan mulai membacakan sinopsis karya. “Rerenung (berpikir kembali)merupakan karya tari yang terinspirasi dari ruang tugu, dalam ruang tugu terdapat banyak aktivitas manusia seperti nongkrong, menunggu, dan istirahat. Gerak laku dari kegiatan dan pengolahan struktur ruang tugu menjadi dasar dalam karya ini, yang mana menjadikan ruang tugu menjadi ruang pertunjukan tari”. Begitulah sinopsis yang dibacakan.

Pertunjukan pun dimulai, terlihat lima penari wanita berpakaian putih mengeksplor tubuhnya dengan apik. Gerak mengalir, gerak cannon (bersusulan), gerak rampak (bersamaan), danteknik-teknik lainnyadiwujudkan oleh penari dan sesekali hentakan kaki juga dimunculkan.Di awal penampilan liukan tubuh penari tersebut diiringi oleh bisikan-bisikan halus dari penonton dan sesekali disertai bunyi kendaraan yang melintas. Selang beberapa menit terdengar permainan biola dari arah belakang penonton dan dengan perlahan pemain biola inimenuju ketengah arena pementasan.

Pada separuh pergelaran muncul seorang pria gondrong bertelanjang dada, lalu bermonolog dengan lantang. Saat itu melodi liris dari permainan  biola terus terdengar menyelingi suara laki-laki tersebut. “Perlahan-lahan aku membusuk, aku dilatakkan, aku dilupakan. Aku jadi ingin bertanya, kenapa engkau sengaja melupakanku? mengapa tuan lupa aku? Aku mulai merasa mual, nafasku punterengah, ruanganku sempit. Jalan yang kutempuh begitu rumit, semua terasa berbelit yang sederhana kau buat sulit”. Begitulah sedikit potongan monolog yang diutarakan.

Di penghujung pergelaran, tensi suasana dinaikkan. Bunyi klaksonsepeda motor yang sedari tadi rupanya bagian dari pertunjukandimainkansecara bergantian di samping kanan Patung Angsa. Dengan perlahan bunyi klakson tersebut terdengar semakin cepat. Suara bising mesin kendaraan juga dihadirkan yang mana menjadikan dinamika kian kuat. Lalu ujaran penonton yang sejak tadi terdengar berbisik itutiba-tiba memekikmenghujam pendengaran, ketika salah seorang pemain melakukan atraksi dengan sepeda motornyadi tengah arena pergelaran.

Berdasarkan konteksnya yaitu koreografi ruang, pengkarya mencoba membawa audiens untuk merenungi kembali bagaimana fenomena ruang yang terjadi di sekitar kita. Khususnya dalam Rerenung, pengkarya berupaya mengungkapkan fakta di balik Ruang Tugu Angsa. Tampak bahwa Patung Angsa yang berada di depan gerbang Universitas jambi merupakan tempat menunggu, tempat istirahat, tempat perkumpulan, dan juga tak jarang menjadi titik kumpul saat mahasiswa akan melakukan aksi unjuk rasa. Pada intinya, di Tugu Angsa terjadi berbagai aktivitas sosial. Lalu pengkarya menangkap hal ini dan diekspresikan melalui gerak tari, monolog, dan bunyi (pertunjukan).

Ruang merupakan fokus yang menjadi arena pengkarya  untuk menciptakan karya Rerenung. Tentu ia melakukan berbagai pengamatan dan riset sebelum membuat karya. Setelah itu memilih medium-medium artistik untuk karyanya. Berbagai ruang tentu memiliki potensi gerak, situasi, suara, dan suasana masing-masing. Inilah yang menjadi menarik, dimana pengkarya harus jeli melihat hal tersebut. Setiap ruang tentu juga memiliki konstruksi sosial masing-masing. Ruang pertemuan formal tentu akan berbeda dengan ruang terminal ataupun stasiun. Inilah yang menjadi dasar pengkarya mengeklplorasi lebih jauh.

Dalam karya Rerenung pengkarya juga mencoba mengekspresikan sebuah protes yang ditandai dengan hentakan-hentakan kaki, bunyi klakson yang bertubi-tubi, suara bising mesin kendaraan, dan juga diungkapkan melalui monolog. Seakan-akan audiens dibawa pada situasi saat unjuk rasa. Ekspresi ini didasarkan pada Tugu Angsa yang merupakan tempat atau menjadi titik kumpul mahasiswa sebelum melakukan aksi demonstrasi. Dengan demikian karya seni bukan hanya dihadirkan sebagai hiburan atau  keindahan artistik semata, melainkan juga menyampaikan wacana sosial.

Dapat dipahami bahwa tempat-tempat selain gedung pertunjukan eksklusif juga memiliki potensi untuk diolah menjadi ruang kreativitas. Dalam hal ini pengkarya cukupcerdik, lalu mengekspresikannya melalui karya seni. Namun sayang karya ini belum dapat sepenuhnya dimengertioleh audiens. Apakah hal tersebut terjadi karena kurangnya pengetahuan penonton? mungkin di Jambi memang jarang pertunjukan seperti ini. Jadi dengan mengapresiasi karya Rerenung, dapat dijadikan referensi dalam memahami karya seni pertunjukan, khususnya tari.

*) Mahasiswa Program Studi Seni Drama Tari dan Musik Universitas Jambi


Penulis: Muhammad Alfath
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments