Senin, 20 Januari 2020

Dokter Korea Tak Berizin, Kesbangpol dan Dinkes Merangin Kecolongan


Senin, 09 Desember 2019 | 14:40:35 WIB


Ali, salah seorang warga SAD Kebun Duren, Lantak Seribu, Kecamatan Renah Pamenang, Kabupaten Merangin harus menjalani perawatan di Rumah Sakit DKT Bangko usai mengikuti pengobatan gratis dengan dokter asal Korea Selatan.
Ali, salah seorang warga SAD Kebun Duren, Lantak Seribu, Kecamatan Renah Pamenang, Kabupaten Merangin harus menjalani perawatan di Rumah Sakit DKT Bangko usai mengikuti pengobatan gratis dengan dokter asal Korea Selatan. /

BANGKO - Kedatangan dokter dari Korea Selatan (Korsel) untuk melakukan pengobatan gratis bagi Suku Anak Dalam (SAD) di Kabupaten Merangin belum lama ini, ternyata tidak memiliki izin. Bahkan pemerintah baru mengetahui kedatangan dokter tersebut setelah adanya masalah, dimana warga SAD yang diobati dilarikan ke rumah sakit karena diduga keracunan obat.

Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) serta Dinas Kesehatan (Dinkes) Merangin mengaku tak mengetahui adanya dokter Korsel yang melakukan pengobatan gratis tersebut. Pihak pendamping tak melapor atau meminta izin pada Kesbangpol serta Dinkes Merangin.

Meski demikian, Kesbangpol memastikan akan menindaklanjuti masalah tersebut. Pihaknya akan memanggil dan meminta penjelasan dari koordinator kegiatan.

"Kemarin kami sudah turun, tapi Pak Krisman (koordinator kegiatan, red) itu ke Linggau, Sumsel. Nanti Pak Jon (Tumenggung SAD) juga kita panggil," ujar Kasi Kewaspadaan Daerah Kesbangpol Merangin, Berlinawati.

Baca juga : Usai Disuntik Dokter Asal Korea, SAD Dilarikan ke Rumah Sakit

Menurutnya, kedatangan para dokter asal Korsel tersebut tidak diketahui pihaknya. Salah satu kendalanya, karena mereka tidak menginap di Bangko.

"Karena memang semua komponen tidak ada yang tahu kedatangan orang Korea itu, baik dari kepolisian, TNI, kejaksaan, maupun aparat kecamatan. Mereka tidak nginap di tempat kita, mereka nginap di Sarolangun," bebernya.

Ditanya apakah pihaknya merasa kecolongan dengan kegiatan tersebut? Dirinya tidak membantah jika pihaknya dibilang kecolongan dengan kegiatan itu.

"Kalau dibilang kecolongan iya silahkan. Tapi yang jelas Kesbangpol untuk wilayah Merangin kita sudah punya kerjasama dangan pihak hotel, sekiranya ada orang asing masuk. Tapi dikarenakan mereka tidak menginap di Merangin, jadi kita tidak tahu," ujarnya.

Dikatakannya, Kesbangpol itu adalah gerbang terakhir pelaporan, karena orang asing itu masuk ke desa harus ada izin baik dari Babinsa dan Babinkamtibmas, kecamatan, Polsek Danramil. Sebab, menyangkut keamanan kewenangan Polres, masalah kewilayahan ada Kodim, masalah izin atau rekomendasi baru dari Kesbangpol, sepanjang mereka melapor.

"Bagaimana kita bisa memberi izin dan memantau, sementara mereka saja tidak melapor. Kesalahan pendamping orang asing menyepelekan Kesbangpol, padahal idealnya mereka harus melapor," ujarnya.

"Tapi kebanyakan pendamping orang asing, asal sudah ada izin Polres atau pemberitahuan dari Polres dan izin masuk melalui Imigrasi tidak bermasalah, mereka menganggap tidak ada masalah. Setelah kejadian seperti ini baru Kesbangpol diberitahukan," tambahnya.

Dikatakannya lagi, berdasarkan Permendagri tentang Ormas, ada Permendagri tentang pemantauan orang asing. Dalam Permendagri itu, orang asing yang datang dan mengadakan kegiatan di wilayah setempat harus memberitahukan atau menyampaikan pemberitahuannya.

"Kesbangpol bukan memburu informasi agar info itu yang pertama, akan tetapi kita merangkum informasi yang masuk dari berbagai institusi, seperti Polri, Kodim, Kejaksaan, BIN untuk dijadikan bahan kajian sebagai bahan rekomendasi ke depan," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Merangin, Abdaie, juga mengaku kecolongan dengan pengobatan gratis yang di laksanakan di Kebun Duren Desa Lantak Seribu Kecamatan Renah Pamenang.

Pasalnya lima orang dokter asal negara Korea Selatan tersebut tidak mengajukan izin dan tidak ada didampingi tim medis setempat.

"Kita merasa kecolongan dengan pengobatan gratis yang dilakukan lima orang dokter dari Korsel itu, apalagi mereka tidak ada izin dari kami," ungkapnya.

Pihaknya akan segera menurunkan tim, guna memantau perkembangan kesehatan para warga SAD yang sudah berobat dengan dokter asal Korsel.

"Tim akan segera kita turunkan untuk memantau di Kebun Duren. Sebab saat melakukan pengobatan tidak didampingi tim medis kita," ujarnya.


Penulis: Andi Kurniawan
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments