Kamis, 13 Agustus 2020

Tidak Hanya Dikeroyok, Anggota TNI Juga Ditodong Senjata Rakitan


Rabu, 20 November 2019 | 23:04:40 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

JAMBI – Empat anggota TNI korban pengeroyokan anggota Serikat Mandiri Batanghari (SMB) di bawah pimpinan Muslim, dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jambi ke persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Jambi, Rabu (20/11/2019).

Keempat saksi adalah Sertu Zendriawan, Kopda Herliansyah, Koptu Zulhijaz, dan Pratu Riski Pratama. Keterangan saksi diambil untuk terdakwa Muslim, Yohanes, Usman, Dani, dan Bagus Eko.

Kepada majelis hakim, saksi Herliansyah menerangkan, ia dan tiga anggota TNI lainnya sedang bertugas memantau Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar). Namun, mereka justru mengalami tindak kekerasan.  

Lanjut Herliansyah, tindak kekerasan terjadi ketika aksi kedua kelompok SMB di Distrik VIII PT WKS. Aksi pertama terjadi sekira pukul 11.30 WIB, Muslim bersama puluhan anggotanya sempat diredam. Sehingga Muslim dan sebagian anggotanya membubarkan diri dari lokasi.

“Saat kejadian pertama yaitu sekira pukul 11.30 WIB, saya bersama tiga anggota mendatangi kelompok massa yang datang. Rekan saya Sertu Zendriawan sempat berdialog dengan Muslim,” terangnya.

Setelah itu, sebagian anggota SMB membubarkan diri. Sementara saksi kembali ke kantin yang tak jauh dari mess dan kantor PT WKS. Namun aksi massa Muslim CS malah berlanjut sekitar pukul 14.00 WIB. Kali ini ratusan kelompok SMB dengan mengendarai motor dilengkapi senjata tajam, bambu runcing, parang dan senjata rakitan. Mereka langsung masuk ke lokasi.  

“Saya keluar, tiba-tiba langsung dipukul, dikeroyok ramai-ramai. Baju dinas saya dipaksa suruh dibuka oleh anggota SMB,” ungkapnya.

Akibat pukulan itu, berdasarkan hasil visum yang dibacakan majelis hakim dalam sidang, para saksi mengalami luka bekas pukulan di wajah, pelipis dan kepala. Sejumlah bekas luka memar berwarna kebiruan disejumlah wajah dan tubuh mereka. Majelis pun minta saksi Herliansyah mengenali para terdakwa yang dihadapkan ke muka sidang.

“Saat kejadian saya tidak terlalu mengenali terdakwa. Setelah melihat di video yang viral, terdakwa Yohanes, Usman, Dani dan Bagus Eko ikut memukul,” ungkap saksi.

Menurut saksi Herliansyah, Yohanes memukul kepala pakai lutut, saat terkapar sambil di pegang. “Saya melihat kejadian setelah video kejadian viral," katanya kepada majelis hakim di muka persidangan.

Pasca kejadian kekerasan itu, saksi mengaku hingga kini dirinya masih dalam masa pemulihan. “Sampai sekarang, tingkat kestabilan badan belum pulih, seperti mabuk kendaraan. Ketika berdiri badan saya seperti oleng. Sampai sekarang masih dirawat untuk pemulihan," ungkapnya.  

Sementara itu, para terdakwa membantah keterangan saksi TNI. Mereka mengaku tidak ikut memukul, tidak membawa senjata tajam. “Saya tidak memukul dan tidak membawa parang,” kata Yohanes, salah seorang terdakwa.

Begitu juga Muslim, dia mengatakan, dirinya tidak memukul. Majelis langsung mengkonfrontir keterangannya dengan saksi Herliansyah, dan saksi tetap pada keterangannya.

Sementara saksi Zendriawan, mengaku mengalami aksi kekerasan usai menjalankan Salat Zuhur di Musala. Ketika itu dirinya mendengar suara riuh. “Di rakaat terakhir terdengar suara riuh. Usai salat, ketika baru memasang tali sepatu, saya ditodong senjata api rakitan,” ungkapnya.

Selain mengaku dipukul di bagian bahu, menurutnya, di saat yang dipukuli, yang lain memegangi dirinya. “Saya digebuk beramai-ramai,” ungkapnya. Tidak hanya Herliansyah dan Zendriawan, dua rekan lainnya juga turut menjadi korban.


Penulis: Sahrial
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments