Selasa, 20 Oktober 2020

Menyikapi Iklan Pangan Menyesatkan, YAICI Talkshow Ke Universitas Muhammadiyah Jambi


Selasa, 17 Desember 2019 | 16:24:06 WIB


 Yayasan Abhipraya Insan Cendekia (YAICI) mengadakan talkshow di Universitas Muhammadiyah, Telanaipura, Kota Jambi, Selasa, (17/12/2019)
Yayasan Abhipraya Insan Cendekia (YAICI) mengadakan talkshow di Universitas Muhammadiyah, Telanaipura, Kota Jambi, Selasa, (17/12/2019) /

JAMBI - Dalam rangka menyikapi Iklan pangan menyesatkan dalam upaya melindungi dan mewujudkan generasi sehat, Yayasan Abhipraya Insan Cendekia (YAICI) mengadakan talkshow di Universitas Muhammadiyah, Telanaipura, Kota Jambi, Selasa, (17/12/2019).

Kegiatan tersebut mengangkat tema Edukasi Gizi Anak Menuju Indonesia Unggul dalam Mewujudkan Generasi Emas. Sebab, banyaknya orang tua memberikan susu kental manis untuk anak karena beranggapan produk tersebut adalah susu yang dapat memenuhi gizi anak.

Berbagai upaya yang telah dilakukan YAICI untuk pencegahan kesalahan merubah persepsi salah di masyarakat tentang susu kental manis.

Arif Hidayat, Ketua Harian YAICI mengatakan, YAICI telah melakukan survey di sejumlah kota di indonesia dengan temuan bahwa sebagian besar persepsi masyarakat dan keputusan-keputusan orang tua memberikan asupan gizi untuk anak akibat iklan produk pangan di televisi.

"Melalui televisi lebih mudah masuk ke masyarakat, maka tidak heran apa yang disajikan melalui televisi lebih mudah masuk ke masyarakat, termasuk iklan," ujarnya.

Dikatakannya, meskipun iklan berdurasi pendek namun iklan selalu di tayangkan berulang-ulang sehingga iklan tersebut di anggap benar tanpa mengecek lebih lanjut kebenarannya.

Pada periose September - November 2019 YAICI bersama Majelis Kesehatan PP Aisyiyah telah melakukan survei konsumsi susu kental manis atau krimer kental di Provinsi Aceh, Kalimantan Tengah, dan Sulawesi Utara, Manado, hasilnya dapat disimpulkan bahwa iklan produk pangan pada media massa khususnya televisi sangat mempengaruhi keputusan orang tua terhadap memberikan asupan gizi untuk anak.

"Sebanyak 37 persen responden beranggapan bahwa susu kental manis adalah susu bukan toping dan 73 persen responden mengetahui informasi susu kental manis sebagai susu dari iklan televisi," jelas Arif.

Hasil penelitian 3 provinsi tersebut, status gizi buruk 14,5 persen yang mengkonsumsi susu kental manis lebih dari 1 kal per hari, gizi kurang 29,1 persen mengonsumsi susu kental manis lebih dari satu kali perhari.


Penulis: cr2
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments