Senin, 21 September 2020

Mengembalikan Ruh Melayu Jambi Dengan Naskah Kuno


Kamis, 26 Desember 2019 | 21:33:48 WIB


/ istimewa

Oleh: M Ali Surakhman

KAMIS, 26 Desember 2019, di penghujung tahun, sore di tengah hujan lebat, tak menyurutkan langkah para pengkaji naskah kuno Jambi, buat berkumpul duduk menyatukan visi, pemikiran dan hati, pertemuan ini di hadiri, kandidat Dr Irma Sagala, Dr, Ali Muzakir, Dr, Zarfina Yenti, Al Husni, Wahyudi Buska, dan M. Ali Surakhman, dan sudah ada 15 orang pengkaji dan ahli naskah kuno Jambi yang menyatakan ikut bergabung, beranjak dari kekwatiran akan tengelamnya naskah naskah kuno di Jambi, yang tersebar di beberapa daerah dalam Provinsi Jambi, dari dataran tinggi Kerinci sampai ombak berdebur di Ujung Jabung, naskah kuno merupakan kunci pembuka sejarah Jambi masa lampau, tak sekedar sejarah namun jati diri masyarakat Melayu Jambi tertuang dalam naskah naskah kuno tersebut.

Inisiasi pertemuan ini sudah di mulai beberapa bulan lalu, termotivasi dari Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASA), pertemuan ini juga ingin menyatukan para ahli pengkaji naskah naskah kuno yang ada di Jambi yang selama ini berjalan sendiri sendiri, namun yang utama adalah memberi informasi kepada masyarakat umum tentang naskah naskah kuno yang ada di Jambi.

Naskah naskah kuno yang ada di Jambi termasuk paling banyak dan kaya akan ragamnya, mulai naskah beraksara Incung sampai naskah yang menerangkan tentang kerajaan Jambi, dari naskah asal usul kedatangan nenek moyang proto melayu, sampai catatan pristiwa pristiwa penting masa lalu, dari era pra Hindu Budhha, sampai ke masa Islam, dari mantra mantra sampai ke undang undang kuno masa lampau, salah satunya, kitab Nitisarasamuccaya dari Tanjung Tanah Kerinci yang merupakan kitab UU Melayu tertua di dunia.

Tak hanya itu Jambi juga kaya akan aksara kuno, tak hanya Arab Melayu, tapi Incung dan pasca Pallawa, aksara Melayu tua, aksara Incung Kerinci menurut para ahli hampir sama dengan induk aksara dunia Phonecian. Namun selama ini kita hanya merujuk kepada kajian kajian ahli asing, yang belum tentu sahih dan benar, kita punya pengkaji pengkaji lokal yang tak kalah sahih kajiannya, malah di pakai dan di rujuk orang asing, mungkin budaya tulisan ilmiah kita yang selama ini sepertinya tidak sahih atau kren, sebelum mencantumkan referensi penulis luar di daftar pustakanya, sehingga memaksa pemikiran para pengkaji lokal mesti mengikuti teori teori luar yang belum tentu pas dan cocok dengan kondisi kita, kondisi ini lansung tak lansung mengikis kebebasan dan mematikan karakter pengkaji lokal.

Sementara keilmuan adalah milik semua umat manusia dan kebebasan berfikir adalah hak semua orang, walaupun kebebasan itu tetap dalam koridor keilmuan. Dengan kajian naskah naskah kuno, diharapkan dapat mengembalikan sistem pengetauhan nenek moyang yang selama ini dianggap tertinggal, namun di lain sisi pengetauhan leluhur masa lampau sudah cocok dengan karakter masyarakat kita, ibarat bibit seberapa unggul betul, kalau di tanah dan disemai di tanah yang tidak cocok, ia tak akan tumbuh, tumbuhpun ia tak akan subur, maka kita cari bibit yang cocok di tanahnya.

“Bulat air dek pembuluh, bulat kata dek mufakat”, duduk sama rendah tegak sama tinggi”, di tengah hujan lebat dengan bersatunya para pengkaji naskah naskah kuno Jambi, kedepan di harapkan dapat mengembalikan jati diri Melayu Jambi dan membangkitkan marwah tanah Jambi.

*) Penulis adalah sejarawan, tinggal di Jambi


Penulis: M. Ali Surakhman
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments