Selasa, 21 Januari 2020

HBA Absen, Pilgub Jambi di Pusaran Golkar


Kamis, 02 Januari 2020 | 17:05:32 WIB


Dori Efendi, S.IP, M.Soc. Sc, Ph. D
Dori Efendi, S.IP, M.Soc. Sc, Ph. D / ist

Oleh: Dori Efendi, S.IP, M.Soc. Sc, Ph.D

DALAM studi ilmu politik, telah lama berlaku hipotesis yang menyebutkan bahwa dalam kontestasi politik ada satu unsur utama yang perlu diperebutkan yaitu memenangkan wacana politik.

Menurut Ibnu Hamad (2004), wacana politik menentukan persepsi dan opini publik terhadap sebuah partai atau penguasa, terutama berkenaan dengan soal legitimasi dan delegitimasi kekuasaan.

Pada kontestasi Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jambi tentu saja pembentukan wacana politik dalam bentuk penyajian peristiwa politik yang berbagai.

Misalnya, pemilihan isu strategis, pemakaian sudut pandang yan tepat dan penggunaan simbol yang tepat. Jika bersandar pada konsep ini, apakah partai Golkar memenangkan wacana politik?

Selama ini ruang publik tertanya-tanya apakah Hasan Basri Agus (HBA) ikut berkontestasi dalam pilgub 2020?

Jika HBA maju maka, kontestasi pilgub tidak menarik karena tidak ada lawan tanding yang mampu mengalahkan legitimasi dan kharisma HBA sebagai pemimpin di Jambi.

Pertanyaan rakyat ini terjawab dengan pernyataan beliau “menjadi gubernur itu melelahkan, fisik saya sudah tidak kuat, apa lagi tingkat stres dan tekanannya tinggi sekali.”

Artinya, HBA telah berhasil memenangkan persepsi politik sehingga membawa dampak kepada partai Golkar yaitu menjadikan partai Golkar sebagai pusaran politik dan memiliki posisi yang semakin istimewa. Pertanyaannya benarkah Golkar sebagai pusaran politik?

 

Absennya HBA dalam berkontestasi pilgub artinya membuka ruang bagi kader-kader Golkar untuk berkontestasi.

Pertama, Golkar mendominasi peta politik Jambi dengan munculnya Syarif Fasha, Al-Haris, Cek Endra dan Sukandar.

Tanpa bermaksud mengesampingkan partai lain, partai Golkar sememangnya dalam pilgub berhasil menjadi pemain utama sedangkan dari partai lain tidak ada yang memunculkan cagubnya melebihi dari partai Golkar.

Kemunculan kader-kader Golkar dalam kontestasi pilgub ini menandai bahwa partai Golkar berhasil melahirkan tokoh-tokoh politik di Jambi dan mereka tidak kekurangan kader untuk memimpin Jambi Lima hingga Sepuluh tahun ke depan.

Kedua, kader-kader Golkar semakin optimis melakukan sosialisasi politik.

Minus HBA, bacagub dari kader Golkar berlomba-lomba menaikkan populeritas untuk mengukur persepsi masyarakat. Misalnya, Fasha berhasil memainkan politik dalam ruangan dengan menggunakan media sosial, televisi dan media online sebagai alat sosialisasinya.

Begitu juga dengan, Al-Haris yang berhasil memainkan politik anak muda untuk menaikkan populeritasnya. Pun begitu dengan Cek Endra yang berhasil mengkosolidasikan internal partai Golkar untuk menaikkan populeritasnya.

Sukandar pula, memainkan sentimen kedaerahan dan pelaku bisnis untuk menaikkan populeritasnya sebagai bacagub.

Ketiga, partai Golkar adalah kendaraan politik yang seksi. Berhasilnya tujuh orang kader Golkar menduduki kursi DPRD Provinsi menunjukkan legitimasi partai Golkar diterima oleh masyarakat Jambi. Partai Golkar tidak saja berhasil di DPRD Provinsi, Golkar juga berhasil menduduki kursi Ketua di Empat Kabupaten yaitu Merangin 6 kursi, Sarolangun 9 kursi, Batanghari 6 kursi dan Tebo 10 kursi.

 

Keempat, partai Golkar memiliki Kepala daerah terbanyak di Provinsi Jambi. Dari sebelas Kabupaten Kota, Lima Kepada Daerah adalah berasal dari partai Golkar. Kabupaten Merangin dipimpin oleh Al-Haris, Sarolangun ada Cek Endra, Batanghari oleh Syahirsyah, Tebo oleh Sukandar dan Kota Jambi di pimpin oleh Fasha.

Merujuk dari empat alasan di atas tindak tanduk partai Golkar patut diperhitungkan oleh kandidat lain dalam mengharungi kontestasi pilgub 2020.  

Betul memang partai Golkar tidak bisa mengusung satu calon karena syarat dukungan minimal 20 persen perolehan kursi DPRD.

Namun saya meyakini keberhasilan partai Golkar memenangkan wacana politik seperti absenya HBA telah meligitimasi Golkar sebagai pusaran politik dalam pilgub 2020 ini.

Partai lain tentu mau tidak mau melakukan koalisi dengan Golkar untuk mengusung satu calon dari Golkar. Terlepas dari ini semua, ada satu indikator penting kenapa Golkar menjadi primadona dalam pilgub 2020. Ini karena sikap negarawan HBA yang memberi ruang kepada kader-kader Golkar untuk berkiprah sebagai kepala daerah telah menciptakan arena kompetisi politik yang berkualitas di internal Golkar.

*) Penulis adalah Dosen Fisipol Unja,  Pengamat Politik Jambi, Peneliti, Tinggal di Jambi. Email: [email protected]


Penulis: Dori Efendi, S.IP, M.Soc. Sc, Ph. D
Editor: Herri Novealdi



comments