Senin, 13 Juli 2020

Belum Pasti AJB, Demokrat Buka Peluang Usung Calon Dari Luar Partai di Pilgub Jambi


Selasa, 21 Januari 2020 | 10:43:47 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

JAMBI - Partai Demokrat Provinsi Jambi belum menentukan arah dukungan untuk Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2020. Partai berlambang bintang mercy itu masih mencari-cari sosok yang pas untuk diusung.

Salah satu kader partai tersebut, sebenarnya berniat maju. Ia adalah Asafri Jaya Bakri, Walikota Sungaipenuh. Namun bukan maju nomor satu, melainkan hanya nomor dua.

Hal ini pula yang sepertinya membuat Demokrat tak jatuh hati pada kadernya tersebut. Justru, Demokrat akan lebih mengutamakan mendukung calon gubernur (Cagub) dibanding posisi Calon Wakil Gubernur (Cawagub).

Padahal, AJB selaku kader murni partai besutan mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu, telah ikut penjaringan di beberapa partai dan konsisten mengincar kursi BH 2 Provinsi Jambi.

AJB sendiri, sempat mengklaim bahwa dukungan Demokrat ke dirinya sudah aman, namun harapan walikota Sungaipenuh dua periode itu bisa diusung partainya pada Pilgub 23 September nanti, tampaknya tipis.

Demokrat kini secara terang-terangan membuka peluang bagi kandidat lain untuk mendapatkan dukungan partai yang dipimpin Ketua DPD Demokrat Provinsi Jambi, Burhanuddin Mahir itu.

Syaratnya, bagi calon yang ingin mendapatkan dukungan Demokrat, harus mendaftar sebagai kader Demokrat terlebih dahulu.

Burhanudin Mahir sendiri kini tampak gencar melakukan pertemuan dengan tokoh politik lainnya. Teranyar, Cik Bur panggilan mantan Bupati Muarojambi Burhanudin Mahir, terlihat melakukan pertemuan dengan politisi Golkar Hasan Basri Agus (HBA).

Pertemuan Cik Bur dengan mantan gubernur Jambi yang saat ini duduk sebagai anggota DPR RI dari Dapil Jambi itu, terlihat sangat akrab. Bahkan keduanya mengakui ada pembicaraan soal Pilgub. Sementara HBA sendiri sangat dekat hubungannya dengan Al Haris, salah satu kandidat gubernur 2020.

Lantas, bagaimana soal kader Demokrat AJB, yang akan maju sebagai calon wakil gubernur di Pilgub ini. Cik Bur mengatakan, bahwa Demokrat tetap akan memprioritaskan dukungan terhadap kader. Tetapi kata dia ada skala prioritas yakni ada nomor satu dan dua.

"Kalau sekarang kita prioritas ke nomor satu terlebih dahulu, dan kita tidak menutup untuk yang bukan kader murni bergabung di kita untuk maju asal mendaftar sebagai kader terlebih dahulu," katanya.

Namun untuk menentukan dukungan, Cik Bur menyatakan, bahwa saat ini survei tahap pertama ke kandidat calon gubernur sudah rampung. Namun untuk survei kedua akan dilakukan pada Maret mendatang.

"Survei tahap pertama sudah rampung, kemudian akan ada survei kedua yang dilakukan pada Maret," katanya.

Setelah survei tahap kedua nanti, lanjutnya baru akan kelihatan siapa kandidat yang memperoleh hasil tertinggi. "Setelah mendapatkan hasil di survei kedua, baru hasil dukungan nantinya," ujarnya.

Pengamat politik Jambi, Dori Efendi menilai, bahwa AJB tampak kebingungan mencari partai pengusung. Apalagi kata dia, Partai Demokrat lebih condong ke calon lain. Dengan larinya partai Demokrat ke calon lain maka peluang AJB untuk maju diusung Demokrat sangat kecil.

"Hilangnya Demokrat ini, menghilangkan peluang AJB untuk mendapat posisi di Pilgub 2020. Peluang sangat kecil," kata dosen Fisipol Universitas Jambi (Unja) ini, Senin (20/1/2020).

Namun menurut doktor lulusan University Putra Malaysia ini, peluang AJB terbuka berpasangan dengan H Bakri. "Tinggal melihat keseriusan H.Bakri. Kalau H.Bakri memang serius bisa dengan AJB," kata Dori lagi.

Bagaimana dengan peluang AJB diusung oleh Demokrat sebagai nomor 1, Dori mengatakan, itu tergantung dengan AJB. "Itu tergantung AJB mampu atau tidak memastikan Demokrat miliknya dengan mahar politik hari ini. Jika bisa AJB bisa maju dengan PAN, apalagi komunikasi itu sudah dibangun," katanya.

Soal klaim AJB bahwa partai sudah aman ditangannya, menurut Dori, pernyataan seperti sudah biasa disampaikan oleh politisi.

"Kalau politisi selalu bicara seperti itu. Tapi dalam elit-elit politik tentu berbeda, jadi transaksional dalam politik itu biasa bukan hal yang aneh," tutupnya.


Penulis: Sahrial
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments