Rabu, 26 Februari 2020

Bantah Lakukan Pemaksaan, Elhelwi Ngaku Bakar Bukti Surat Pernyataan


Kamis, 23 Januari 2020 | 20:34:57 WIB


Zumi Zola, Erwan Malik, Supriyono, dan Joe Fandy Yoesman alias Asiang saat menjadi saksi sidang kasus suap 'uang ketok palu' pengesahan RAPBD Provinsi Jambi tahun 2017-2018 dengan terdakwa Supardi Nurzain, Elhelwi, dan Gusrizal
Zumi Zola, Erwan Malik, Supriyono, dan Joe Fandy Yoesman alias Asiang saat menjadi saksi sidang kasus suap 'uang ketok palu' pengesahan RAPBD Provinsi Jambi tahun 2017-2018 dengan terdakwa Supardi Nurzain, Elhelwi, dan Gusrizal / metrojambi.com

JAMBI - Elhelwi, salah seorang terdakwa kasus suap ‘uang ketok palu’ pengesahaan RAPBD Provinsi Jambi tahun 2018, membantah memaksa Saipuddin, mantan Asisten III Setda Provinsi Jambi untuk membuat surat pernyataan terkait realisasi ‘uang ketok palu’ untuk Fraksi PDI Perjuangan.

Ini disampaikannya untuk menjawab kesaksian mantan Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Erwan Malik, yang mengungkap bahwa ia ditelepon Saipudin dan melaporkan bahwa dirinya dipaksa oleh Elhelwi untuk membuat surat pernyataan bahwa ‘uang ketok palu’ itu ada.

Indra Armendaris mengajukan keberatan soal ini. Dia menganggap bahwa keterangan Erwan Malik merugikan kliennya. "Saudara tidak boleh menyimpulkan begitu, keterangan saudara merugikan klien kami," kata Indra.

Elhelwi juga menegaskan bahwa dirinya tidak pernah melakukan pemaksaan, dan kehadirannya juga bukan atas nama fraksi. "Saya tidak mewakili fraksi dan tidak pernah ada pemaksaan," bantahnya.

Politisi PDI Perjuangan itu juga menyebut bahwa surat pernyataan yang ditandatangani oleh Saipudin yang berisi bahwa ‘uang ketok palu’ itu segera dicairkan sudah dibakar.

"Surat itu sudah saya bakar. Karena saya bukan ketua fraksi. Saya merasa bersalah," katanya.

Ketua majelis hakim, Purba, sempat menanyakan soal surat pernyataan yang dibakar Elhelwi itu. "Kapan saudara bakar surat itu," tanya Purba.

Elhelwi menjawab bahwa surat itu ia bakar sebelum operasi tangkap tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). "Surat itu saya bakar sebelum OTT," jawabnya.


Penulis: Ria
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments