Kamis, 27 Februari 2020

Kerendahan Hati Kapolri Idham Azis


Kamis, 13 Februari 2020 | 08:35:18 WIB


Kapolri Jenderal Idham Aziz
Kapolri Jenderal Idham Aziz / Humas Polda Jambi

Oleh: Varhan Abdul Azis *)

SAYA membuat tulisan ini bukan karena punya nama belakang sama dengan Kapolri. Kami tidak satu marga, beliau Orang Sulawesi, saya blasteran Bali-India. Tidak ada kaitan saudara, kecuali dari Nabi Adam.

Kemarin lusa saya mendapat undangan menghadiri Peresmian Indonesia Safety Driving Center (ISDC). Saya semangat hadir karena suka latihan freestyle angkat-angkat roda motor, ngepot atau gaya-gaya, mau belajar safety driving juga. Di sana Pak Idham hadir membuka.

Saya belum pernah bertemu beliau! Kecuali dari TV dan media. Sebagai penulis saya cukup tertarik dengan gaya-gaya egaliter beliau saat pidato, dari video youtube. Ada nuansa tanpa sekat saat ia bicara pada bawahannya.

Kalau ada jenderal bintang empat, suasana cenderung tegang biasa hadir. Idham mengubah paradigma itu, nuansa yang saya kira akan kaku berubah jadi dinamis berbalut ceria, kala jenderal ini turun dari mobil dinasnya.

Yang membuat saya kaget, semua orang yang ada di panggung disalaminya! Ini Jenderal menghargai betul orang-orang di sekitarnya. Jenderal polisi bintang 3, 2, 1 bahkan Kombespol yang hadir di sana, bahkan ada yang senior beliau, semua disapa dengan kata "Bang.." dengan penuh hormat.

Saya menyaksikan pemandangan jleb. Saking menghargainya ia pada senior, ada beberapa jenderal di bawahnya yang ia berikan hormat terlebih dahulu saat beliau menghampirinya!

Masya Allah, rendah hati sekali Jenderal ini.  Menjadi kewajaran bawahan hormat mengawali, ini atasan memberi hormat di awal, penghargaan kepada abang-abangnya. Dari gesturnya, Kapolri ini tidak segan menyalami sambil membungkuk sinyal "pakewuh" terhadap pendahulunya. Big Respect!

Sambil termenung setengah shock, saya berfikir. Saya harus belajar banyak sama sosok ini. Kalau saya jadi pejabat nanti, sudah ketemu salah satu role model. Attitude terkecil adalah cara seseorang menyapa orang lain. Tapi first sight inilah yang jadi penilaian abadi.

Kapolri tidak bisa menyalami saya, karena saya di belakang barisan depan, namun ia sempat memandang saya, dan memberikan anggukan tanda sapa. Kenal saja tidak dia ke saya, ia bisa saja jaim atau tak acuh, karen saya belum jadi pejabat. Namun sikapnya membuka satu pintu kenyamanan positif bersahabat.

Selesai sesi lapangan, kami naik bus bareng-bareng ke aula yang berjarak sekitar 1 km.  Kapolri memilih tidak naik mobil dinas, ikut bus bareng para undangan lainnya. Salut. Di aula ratusan perwira tinggi maupun menengah dari seluruh Indonesia duduk rapi. Kapolri masuk dengan senyum santai sambil melambai ke seluruh peserta kanan kiri tanda penghargaan untuk junior-juniornya. 

Dalam sambutannya, Jenderal Idham menyampaikan, "Kerjalah yang lurus, tidak perlu menghadap-hadap cari jabatan". Ia berpesan tidak perlu khawatir, kalau kerja bagus, pasti tuhan akan berikan jalan. "Jangan izin menghadap, saya tutup pintu kalau begitu". Persis yang saya lihat di WhatsApp video,  beliau tegas urusan anti nepotisme.

Sisi kesederhanaanya terlihat di mata saya, dari sedemikian ia menikmati acara yang dilaksanakan di Gedung Aula Pusdik Korlantas  Polri Serpong. "Bagus kita kembali ke rumah, tidak perlu lah sering-sering di hotel, kita kembali mengenang tempat kita dididik". Puji Idham kepada acara yang digagas Korlantas Polri ini.

Di akhir sesi, Idham Azis nge jam bareng legenda musik Indonesia, Bang Ebiet G Ade. Saya tidak mau puji berlebihan, tapi suara jenderal kita ini memang enak di dengar, pas sama lagunya. Beliau menyanyikan lagu Ebiet G Ade, untuk almarhum ayahnya, tanda ingatnya ia pada didikan dan doa yang membawanya dalam perjalanan amanah besar ini.

Tanpa sadar, setetes air keluar dari mata saya, buru-buru saya lap, malu dilihat polwan-polwan  cantik di sebelah saya. Tapi saya jadi ikut kangen almarhum ayah saya. Sambil bengong, saya melihat Kapolri yang masih menyanyi haru. Kalau ayah saya tidak meninggal karena tumor otak, sekarang seumuran Pak Idham.

Nangis lagi, biarlah, tidak saya lap. Saya mau menikmati momen haru ini, lagipula mbak  polwan cantiknya sudah pergi ngurus yang lain. Sehari itu saya dapat moment of truth. Polri memiliki ayah yang tepat untuk anak-anaknya. Ayah kita semua Jenderal Idham Azis.
 

*) Alumni Magister Ketahanan Nasional Universitas Indonesia


Penulis: Varhan Abdul Azis
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments