Rabu, 8 April 2020

Gerabah, Cara Unik Tingkatkan Minat Baca Siswa di SMPN 17 Tanjabtim


Jumat, 24 Januari 2020 | 14:49:30 WIB


Gerabah Baca di SMPN 17 Tanjabtimur
Gerabah Baca di SMPN 17 Tanjabtimur / Nita / Metrojambi.com

JAMBI - Kegiatan membaca senyap menjadi rutinitas di SMPN 17 Tanjung Jabung Timur Jambi (Tanjabtim). Setiap Selasa, Rabu, dan Kamis selama 15 menit semua guru dan siswa melakukan kegiatan membaca buku. Siswa yang bertugas menjadi duta literasi mengajak teman-teman kelasnya untuk mengambil buku di pojok baca dan membacanya di selasar kelas.

Program yang disepakati oleh seluruh warga sekolah tersebut merupakan dampak dari pelatihan Program PINTAR Tanoto Foundation terutama yang berkaitan dengan budaya baca. Apalagi saat ini pemerintah terus menggulirkan program gerakan literasi di sekolah atau biasa disingkat dengan GLS.

“Program budaya baca yang kami adakan ini sejalan dengan program pemerintah terutama gerakan literasi, antusiasme siswa terus meningkat dengan adanya program ini,” ujar Hasnah, Kepala SMPN 17 Tanjung Jabung Timur, Jumat (24/1/2020).

Hasnah menambahkan bahwa kegiatan budaya baca merupakan hal yang perlu dibiasakan, hal ini bertujuan agar warga sekolah memiliki kebiasaan terlebih dahulu. Tentunya dengan kesepakatan bersama, mulai dari guru, komite, dan orangtua siswa.

“Membaca perlu dibiasakan ya, karena kalau tidak diprogramkan, siswa kita susah sekali untuk diajak membaca buku, minimal 15 menit sebelum pembelajaran di hari hari tertentu,” ujarnya.

Pojok Baca dan duta literasi kelas

Untuk memudahkan siswa mendapatkan buku bacaan, sekolah membuatkan tempat pojok baca di setiap kelas. Buku-buku bacaan disiapkan atas dukungan wali murid, dan guru. Setiap kelas memiliki duta literasi, merekalah yang bertanggung jawab terhadap keberadaan buku bacaan dan program membaca.

“Setiap duta literasi bertanggung jawab terhadap buku bacaan dan program budaya baca yang digulirkan sekolah,” ujar Kurniawati, ketua program budaya baca SMPN 17 Tanjab Timur.

Dalam memenuhi kebutuhan buku bacaan, melalui kesepakatan bersama komite dan paguyuban orangtua siswa, siswa membawa buku bacaan yang ia sukai untuk dibawa ke sekolah dan menjadi bahan bacaan bersama teman temannya di sekolah. Buku tersebut bergantian dibaca dengan siswa lainnya agar tidak bosan.

“Ini bagian dari peran serta masyarakat, siswa antusias, orangtua juga mendukung penuh, harapannya kan siswa kita rajin baca buku ya,” ujar Nia, panggilan akrabnya.

Untuk menyemarakkan program budaya baca, Nia bersama kepala sekolah dan guru lainnya juga mengajak orangtua siswa untuk ikut serta dalam kegiatan budaya baca.

“Kami juga mempersilakan orangtua siswa untuk ikut membaca buku,” terangnya.

Mengenal Gerabah Baca

Agar programnya memiliki daya tarik, Nia bersama guru lainnya membuat nama program budaya baca tersebut dengan sebutan Gerabah. Apa sih Gerabah itu?.

Gerabah itu singkatan dari Gerakan Membaca Bahagia. “Kami melakukan ini bertujuan untuk meningkatkan minat baca siswa. Kata bahagia diambil karena membaca hendak memberikan pengalaman dan kebahagiaan tersendiri,” tukas Nia menambahkan.

Kata bahagia juga dipakai bertujuan bahwa membaca bukanlah suatu beban. Sedangkan Gerabah dilaksanakan pada hari Selasa, Rabu dan Kamis. Program Gerabah ini dilaksanakan di selasar sekolah, agar siswa mudah membaca buku dan terpantau oleh semua guru.

“Pertama memanfaatkan tempat yang ada, agar bersamaan dan agar mudah terpantau juga, kalau di dalam kelas tidak terlalu terpantau. Terus pagi hari kan sehat kalo kena sinar matahari,” ujarnya.

Selain membaca bersama, pada saat Gerabah berlangsung, juga diadakan klinik baca yaitu untuk anak-anak yang belum lancar membaca Bahasa Indonesia. Pada kegiatan tersebut banyak siswa yang membawa bahan bacaan dari rumah, seperti buku bekas, koran, dan sebagainya.

Rahma Safitri, siswa kelas IX, mengaku senang dengan kegiatan membaca bersama kawan-kawan di selasar kelas, baginya membaca merupakan kegiatan yang mengasyikkan apalagi di pagi hari.

“Bagi saya senang. terus saya bisa pahami isi cerita dan saya bisa menceritakan cerita itu kepada teman saya,” ujarnya.


Penulis: Nita Priyanti
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments