Jumat, 5 Juni 2020

Tiang Listrik Dari Kayu yang Dinilai Masih Layak Tidak akan Diganti


Rabu, 19 Februari 2020 | 15:27:19 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

MUARASABAK - Masih banyaknya tiang listrik dari kayu di beberapa wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) secara bertahap akan diganti oleh pihak PLN. Namun pihak PLN hanya akan mengganti tiang yang memang sudah tidak layak, sedangkan untuk tiang listrik dari kayu yang dianggap masih layak tidak akan diganti.

Keberadaan tiang listrik dari kayu ini dapat dijumpai di beberapa wilayah seperti Kecamatan Kuala Jambi dan Mendahara Ilir. Keberadaan tiang listrik sari kayu ini sering dikeluhkan oleh warga, karena selain telah keropos dimakan usia, tiang kayu juga dianggap membahayakan.

Manager PLN ULP Muara Sabak Helmi Lazuardi mengatakan, memang untuk wilayah Tanjabtim masih banyak terdapat tiang listrik dari kayu. Dikatakan Helmi, pihaknya telah melakukan pendataan di beberapa wilayah seperti di Kecamatan Kuala Jambi dan Mendahara Ilir.

"Memang masih ada. Dan kami akan mengganti, namun tidak semuanya, hanya yang tidak layak saja," ujarnya, Rabu (19/2/2020).

Dikatakannya lagi, pada dasarnya tiang listrik dari kayu tidak lah berbahaya. Jika kondisi tiangnya masih layak. Namun karena di wilayah Tanjabtim banyak tiang listrik dari kayu sudah keropos dan berpotensi terjadi gangguan pihaknya akan segera melakukan pergantian.

"Termasuk tiang-tiang yang krusial akan kita ganti," kata Helmi.

Sementara itu, terkait dengan beberapa wilayah desa dan dusun yang belum terakhir listrik, Helmi mengatakan pihaknya akan tetap melakukan pemasangan.

"Kita survei dulu. Ttarget kita bersama pemerintah daerah, khususnya di wilayah Tanjabtim ini, bisa terakhir listrik seluruhnya,” ujarnya.

Untuk diketahui, bukan hanya desa dan dusun yang akan dialiri listrik. Pulau terluar yang belum terjangkau penerangan juga akan masuk dalam survei pihak PLN.

"Kalau untuk pulau ada beberapa opsi untuk jaringan. Bisa melalui tower atau jalur bawah laut. Dan ini butuh proses," pungkas Helmi.


Penulis: Nanang Suratno
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments