Rabu, 23 September 2020

Social Distancing: Tidak Harus Anti Sosial


Senin, 23 Maret 2020 | 21:16:12 WIB


/

 Oleh: Bahren Nurdin *)

SALAH satu langkah yang diambil pemerintah Indonesia untuk menghadapi merebaknya penyebaran Virus Corona (COVID-19) adalah dengan menghimbau kepada masyarakat untuk melakukan social distancing atau menjaga jarak saat bertemu, tidak bersalaman atau bersentuhan, tidak menghadiri keramaian, dan lain-lain. Intinya, karena virus ini ditularkan melalui kontak langsung, maka jangan dekat-dekat dulu.

Apakah hal ini akan membuat masyarakat Indonesia menjadi anti-social? Sebagaimana kita ketahui bahwa masyarakat Indonesia menunjukkan keramah-tamahan mereka dengan bersalaman bahkan 'cipika-cipiki' dan berpelukan. Social distancing tentu saja tidak boleh mengurangi nilai-nilai social yang telah lama terbangun. Nilainya tidak boleh dikurangi, tapi caranya harus diubah!

Bagaimana caranya? Menurut pemahaman umum para pakar, bahwa 55% komunikasi dipengaruhi oleh bahasa tubuh non verbal, 38% nada dan suara, dan 7% kata-kata. Itu artinya, gesture sangat menentukan dalam menjalin komunikasi dibanding suara dan kata-kata.

Lantas gesture apa yang bisa kita manfaatkan dalam situasi social distancing ini?


Raut Wajah (Senyum)

Hal yang pertama nampak dari tubuh 16seseorang tentunya adalah wajah atau muka. Muka menjadi etalase diri seseorang. Maka wajah harus dimanfaatkan maksimal sebagai pengganti bersalaman dan berpelukan. Ekspresi wajah yang paling umum untuk menunjukkan keakraban seseorang adalah senyum.

Berpikiran positif, boleh jadi Covid 19 dihadirkan di muka bumi ini agar penduduk bumi belajar senyum dengan ikhlas. Jamak terjadi selama ini, tetap bersalaman, 'cipika-cipiki' bahkan berpagutan, tapi tidak dibarengi senyum yang ikhlas. Dalam Islam bahkan senyum itu sedekah.

Ayo mulai sekarang ganti salaman dengan senyuman yang tulus. Ingat, senyum teman-teman anda telah menggantikan ribuan jabat tangan untuk anda. Bagaimana cara senyum yang benar? Silahkan googling. Ada begitu banyak cara dan tips yang bisa diterapkan. Atau silahkan diskusi dengan pakar senyum, hehe.

Tele-Salam

Ini istilah saya saja. Tele artinya jarak jauh. Tele-salam artinya bersalaman jarak jauh. Caranya, satukan telapak tangan kiri dan kanan anda dan letakkan di dada (sendiri) sambil melihat ke arah orang yang diberi salam.

Jika senyum dirasa belum cukup, ini solusi pas untuk memberi salam kepada orang lain. Lebih-lebih kepada orang yang dihormati atau lebih tua. Ini dilakukan sebagai ekspresi lebih menghormati.

Boleh juga dilakukan dengan menambah gerakan sedikit membungkukkan badan. Untuk membalas salam ini, juga dapat dilakukan hal yang sama. Di Jepang agaknya sudah lama diterapkan (membungkukkan badan).

Untuk anak-anak muda sebaya, tele-salam ini bisa diterapkan dengan sekedar melambaikan atau mengangkat tangan kiri atau kanan ke arah teman yang hendak disalami. Atau bisa juga dengan tos dari jauh. Tapi jangan lupa sambil tersenyum.

Rasanya dua cara ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa kita tidak harus anti social yang dapat mengurangi nilai-nilai kekerabatan di tengah masyarakat. Komunikasi itu intinya adalah membangun pemahaman satu sama lain. Pemahaman yang tidak tersembung antar individu yang berkomunikasi itulah yang kemudian disebut misunderstanding (salah faham).

Dalam kondisi saat ini, masing-masing anggota masayarakat diminta saling memahami. Jika selama ini teman-teman anda akrab dengan bersalaman dan berpelukan tiba-tiba menjaga jarak, itu bukan berarti dia berubah dan menjauh. Fahami itu sebagai cara untuk membentengi diri kita dan bangsa ini dari bencara virus ini. Semoga cepat berlalu.

Jadi, untuk menerapkan social distancing kita semua harus membangun social understanding!


*Akademsi UIN STS Jambi dan Direktur Pusat Kajian Demokrasi dan Kebangsaan [PUSAKADEMIA]


Penulis: Bahren Nurdin
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments