Senin, 27 Juni 2022

Metode Belajar Daring Berbasis IT Google Classroom di Tengah Pandemi Covid-19

Minggu, 29 Maret 2020 | 21:01:45 WIB


/ istimewa

Oleh: Nelly Afrianty, S.Si

BEBERAPA waktu lalu kita menyaksikan berita-berita dari berbagai media tentang merebaknya wabah virus corona di Wuhan, Tiongkok dan beberapa negara besar lainnya. Begitu besarnya pengaruh jahat dari virus ini mengakibatkan beberapa negara besar melakukan lockdwon sebagai upaya menghentikan penyebaran virus yang dikenal dengan nama virus covid-19 ini.

Tanpa kita sadari, apa yang selama ini kita saksikan melalui media telah merebak ke negara kita. Bukan hanya di ibukota, bahkan saat ini hebohnya virus covid-19 sudah sampai di pelosok desa. Begitu cepat semuanya terjadi, begitu cepat suasana mencekam ini kita rasakan secara langsung.

Berkaitan dengan peristiwa tersebut, pemerintah telah melakukan upaya preventif untuk mencegah dan meminimalisir penyebaran virus tersebut. Kebijakan yang diambil oleh pemerintah yaitu dengan menerapkan sosial distancing atau menjaga jarak interaksi sosial dan Work From Home (WFH) atau bekerja di rumah bagi para pegawai, baik pegawai negeri maupun pegawai swasta.

Langkah-langkah preventif ini telah disosialisasikan oleh pemerintah mulai dari pemerintah pusat hingga pemerintah daerah melalui berbagai media. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi meluasnya penyebaran virus covid-19 dan sebagai upaya untuk memutus mata rantai penyebaran virus tersebut. Akibatnya, kebijakan sebagai upaya preventif tersebut memiliki beberapa implikasi pada berbagai bidang, khususnya pada bidang pendidikan.

Dengan adanya kebijakan pembatasan pergerakan setiap orang di luar rumah dan berkumpul dalam jumlah yang banyak tersebut tentunya berpotensi memicu perubahan pada strategi dan metode pembelajaran di kelas. Tidak ada lagi pembelajaran di kelas untuk saat ini hingga beberapa waktu ke depan yang belum bisa dipastikan.

Sekolah-sekolah mulai dari tingkat PAUD, TK, SD, SMP dan SMA diliburkan, begitu juga di tingkat perguruan tinggi. Tidak ada tatap muka dan segala macam bimbingan yang dilakukan bersama. Semua diminta untuk tetap berada di rumah stay at home.

Namun, ini bukan berarti kita hanya tinggal diam dan duduk manis di rumah. Aktivitas belajar tetap harus dilaksanakan antara pendidik dan peserta didik. Keadaan ini seolah-olah memaksa kita melakukan interaksi secara digital untuk menyapa peserta didik dan memberikan materi serta tugas yang harus mereka lakukan di rumah. Sungguh ini suatu hal yang menarik untuk dipraktikkan.

Walau pada dasarnya pembelajaran secara digital ataupun daring yang berbasis IT ini sudah ada sebelumnya dan cukup trend di dunia pendidikan kita, akan tetapi masih banyak guru yang belum begitu memahami metodenya apalagi mempraktikkannya.

Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan pengalaman guru dalam menggunakan aplikasi-aplikasi pembelajaran secara digital.

Menyikapi kondisi stay at home sebagai dampak pandemi virus covid-19 saat ini guru benar-benar dituntut untuk mampu menyajikan pembelajaran secara daring. Sudah saatnya pembelajaran di kelas menggunakan teknologi, dan ini harus dimulai dari guru. Jangan minta siswa menguasai teknologi tetapi gurunya malah gagap teknologi.

Transformasi guru sebagai penggerak perubahan harus mengikuti perkembangan tekonologi. Pasalnya, letak geografis Indonesia yang sangat luas membutuhkan smart learning yakni pembelajaran memanfaatkan teknologi (Unifah Rosyidi, 2018).

Perkembangan zaman yang juga ditandai dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, telah berdampak pula pada bidang pendidikan. Situasi pembelajaran yang dituntut siswa sudah jauh bergeser dibandingkan zaman dulu yang cukup diberi materi pelajaran dengan mencatat dan kemudian mendapatkan penjelasan materi dari guru melalui metode ceramah.

Saat ini para guru dituntut memberikan pembelajaran yang kontekstual, kreatif, menyenangkan, efektif, dan efisien. Jika guru tidak berupaya untuk meng-update kemampuannya sesuai tuntutan zaman, maka jangan heran kalau para siswanya akan "meninggalkannya". Bisa jadi ia hanya akan jadi guru "zaman old" yang ketika di kelas tidak bisa membawa para siswanya dalam suasana pembelajaran yang kondusif.

Apalagi dengan tuntutan Kurikulum 2013 yang mensyaratkan guru dan siswa terampil menggunakan teknologi dalam pembelajaran, baik sebagai media, maupun sebagai bahan pembelajaran. Oleh karena itulah, kita harus merasa terpanggil untuk memiliki keterampilan dalam bidang IT (Saroh Jarmin, 20180).

Ada banyak aplikasi pembelajaran secara online berbasis virtual class yang dapat digunakan oleh guru. Aplikasi tersebut antara lain adalah Rumah Belajar, Edmodo, Google Classroom, Quipper School, Webex, VC Zoom, WhatsApp, Line, Telegram, Instagram, Schoology, LMS Seamolec, Ruang Guru, dll. Masing-masing aplikasi memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Namun, guru dapat memilih aplikasi mana yang nyaman digunakan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan.

Google Classroom merupakan salah satu aplikasi virtual class yang menurut penulis lebih sederhana, mudah difahami dan digunakan. Penggunaan Google Classroom tidak membutuhkan proses instalasi khusus.

Penggunaannya cukup dengan menggunakan akun email google masing-masing. Fitur dan menunya tidak begitu rumit sehingga gampang digunakan baik bagi guru maupun siswa. Dengan aplikasi Google Classroom penulis dapat mengirimkan materi kimia baik dalam bentuk narasi maupun video yang telah penulis siapkan terlebih dahulu.

Google Classroom (atau dalam bahasa Indonesia yaitu Ruang Kelas Google) adalah suatu serambi pembelajaran campuran yang diperuntukkan terhadap setiap ruang lingkup pendidikan yang dimaksudkan untuk menemukan jalan keluar atas kesulitan dalam membuat, membagikan dan menggolong-golongkan setiap penugasan tanpa kertas.

Perangkat lunak ini telah diperkenalkan sebagai keistimewaan Google Apps for Education yang dipublikasikan sejak 12 Agustus 2014 (Fara Regina, 2017).

Adapun tahapan yang harus dilakukan untuk melaksanakan pembelajaran virtual class dengan aplikasi Google Classroom adalah dengan masuk ke account Google terlebih dahulu, selanjutnya klik Google App Classroom. Kemudian klik Classroom, lanjutkan dengan mengklik menu +, dan buat kelas. Setelah mengklik buat kelas maka muncul kotak dialog. Terdapat kotak kecil yang harus kita centang pada kotak dialog, lalu klik lanjutkan.

Langkah selanjutnya adalah mengisi form sesuai kebutuhan, lalu klik buat untuk melanjutkan. Setelah semua langkah tadi dilakukan maka akan muncul halaman baru yang merupakan fitur dari Google Classroom.

Aplikasi ini juga dapat mengatasi keterbatasan ruang dan waktu sehingga memudahkan guru untuk melakukan evaluasi setiap kegiatan yang telah dilakukan siswa. Di samping itu, dengan aplikasi Google Classroom dapat dilakukan pemantauan proses diskusi kelas sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif. Di samping itu, siswa juga dapat mengulang materi yang telah diposting agar lebih faham lagi. Hal ini tentunya dapat meningkatkan hasil belajar siswa.


*) Penulis adalah Guru SMAN 1 Kerinci


Penulis: Nelly Afrianty
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments