Kamis, 4 Juni 2020

Tangkal Radikalisme dan Terorisme, Polres Sarolangun Gelar FGD


Senin, 09 Desember 2019 | 08:00:30 WIB


Foto bersama usai kegiatan FGD
Foto bersama usai kegiatan FGD / metrojambi.com

 SAROLANGUN - Polres Sarolangun, Senin (9/12/2019), menggelar kegiatan Focus Group Discussion (FGD) membahas upaya pencegahan dan penanggulangan paham radikalisme dan terorisme di Sarolangun.

Kegiatan FGD dihadiri Kasat Binmas Polres Sarolangun AKP Pujiarso, Kepala Kamenag Sarolangun H M Satar, Kajari Sarolangun Munip, serta KH Rois Amin dari MUI Sarolangun. Kegiatan FGD juga diikuti kepala KUA dan 84 orang Penyuluh Agama Islam (PAI) se Kabupaten Sarolangun.

Dalam sambutan dan pemaparannya, H M Satar menekankan peran aktif jajaran Kemenag Sarolangun, terutama penyuluh agama Islam, dalam mencegah berkembangnya paham radikalisme dan terorisme di tengah masyarakat Sarolangun.

Sementara itu, AKP Pujiarso dalam pemaparannya menyampaikan peran kepolisian dan instansi terkait dalam menanggulangi radikalisme dan terorisme. Selaian itu juga dijelaskan pengertian, ciri-ciri, serta penyebab terjadinya radikalisme, serta strategi penanggulanganya.

Hal senada juga dijelaskan oleh KH Rois Amin dari MUI Sarolangun. Dalam pemaparan materinya, KH Rois Amin menjelaskan tetang cara menanggulangi paham radikalisme, dan peran penyuluh agama.

Kemudian materi terkait juga disampaikan oleh Kajari Sarolangun Munip, yang merincikan ciri-ciri dan penanggulanya radikalisme.

Kegiatan FGD tersebut menghasilkan 8 poin kesepakatan, yakni:

1. Menyampaikan dan mensosialisasikan kepada seluruh masyarakat paham radikalisme, ciri-ciri ajaranya, tujuannya, dan bahaya ajaran radikalisme pada setiap kesempatan.

2. Menyampaikan dan mensosialisasikan kepada para santri dan pelajar dan mahasiswa ajaran dan bahaya radikalisme serta untuk ikut serta membantu dalam upaya pemberantasan ajaran radikalisme.

3. Apabila melihat atau mendengar adanya informasi yang berkaitan dengan adanya orang atau kelompok menyebarkan ajaran radikalisme untuk menyampaikan secara kedinasan dan berjenjang serta megambil langkah-langkah atau upaya.

4. Tidak memberikan tempat, ruang dan waktu, serta kesempatan kepada orang atau kelompok tertentu untuk mengajarkan ajaran radikal.

5. Akan selalu berkoordinasi dengan pihak yang berkompeten berkaitan dengan perkembangan dan situasi yang ada desa binaannya.

6. Menanamkan nilai-nilai ke Indonesiaan serta nilai-nilai non kekerasan baik melalui pendidikan formal maupun non formal diarahkan kepada masyarakat melalui kerjasamanya dengan para tokoh( agama, masyarakat, pendidikan, adat, pemudadan stake holder lain) dalam memberikan nilai-nilai kebangsaan.

7. Melalukan pendekatan, pembinaan, dan pengawasan kepada orang maupun kelompok simpatisan, pendukung, inti dan militan, baik di lingkungan masyarakat maupun di dalam Lembaga Pemasyarakatan dengan maksud agar orang atau kelompok tersebut meninggalkan cara-cara kekerasan dan terror dan beralih kepada misi-misi kebangsaan yang memperkuat NKRI.

8. Lakukan mapping terhadap orang atau kelompok yang akan menyebarkan paham radikalisme dan atau orang atau kelompok yang rawan terpapar paham radikalisme serta tempat-tempat tertentu sebagai penyebaran paham radikalisme.


Penulis: Luncai Hendri
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments