Selasa, 2 Juni 2020

Matematika Nalaria Membangun Konsep Cerdas Matematika


Senin, 30 Maret 2020 | 10:19:23 WIB


Reni Yannur
Reni Yannur / istimewa

Oleh: Reni Yannur, S.Pd (Guru SDIT NURUL ILMI JAMBI)

MATEMATIKA adalah satu diantara kompetensi dalam pembelajaran yang wajib diikuti peserta didik sesuai dengan jenjangnya masing-masing. Dan sudah menjadi rahasia publik bahwa matematika adalah pelajaran yang menjadi momok bagi para siswa.

Padahal matematika adalah salah satu kompetensi yang dapat meningkatkan daya pikir seseorang. Menanamkan pemahaman kompetensi matematika, hendaknya dimulai dari tingkat dasar. Namun cukup disayangkan karena tidak sedikit ditemukan pembelajaran matematika pada tingkat dasar, terdapat berbagai kekurangan. Baik dari kurangnya penguasaan materi ditambah dengan minat siswa pada matematika yang sangat rendah.

Pada beberapa kesempatan, seringkali kita jumpai beragam persoalan dalam pembelajaran matematika. Misalnya siswa yang merasa takut, frustasi, atau muncul kemalasan saat hendak belajar matematika. Ada juga suatu keadaan dimana orang tua yang kebingungan. Hal ini karena mereka tidak melihat sedikitpun kemajuan pada diri anaknya dalam memahami pelajaran matematika. Sehingga orang tua ada yang mengambil sikap dengan menambah beban belajar anak. Misalnya melalui les, privat hingga mengikutsertakan anak dalam program belajar praktis matematika yang ada.

Tidak sedikit juga keluhan langsung dari para guru yang merasa gagal dalam menyampaikan pembelajaran matematika di kelasnya. Terlihat dari hasil ujian, dimana hasil yang diperoleh siswa didominasi nilai yang kurang dari kompetensi ketuntasan minimal. Guru merasa sudah melakukan berbagai cara agar siswa sukses dalam pelajaran matematikanya. Tapi kenyataannya?, hasil yang diperoleh jauh dari apa yang diharapkan.

Dalam rangka memperbaiki kemampuan matematika para siswa, sebenarnya sudah banyak dilakukan upaya perbaikan dan peningkatan mutu pembelajaran matematika itu sendiri. Misalnya melalui pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang dibuat oleh guru. Di dalam RPP, guru menuangkan idenya untuk menciptakan proses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan bagi siswa. Namun, keluhan tentang sulitnya belajar matematika tetap saja masih kita dengar.

Gurganus, 2010 menyebutkan bahwa pengalaman sebelumnya terhadap matematika merupakan prediktor yang sangat kuat terhadap kesuksesan di masa berikutnya. Oleh karena itu, sikap yang positif terhadap matematika yang terbentuk sejak awal merupakan faktor penting pada kesuksesan belajar mata pelajaran yang sulit, khususnya matematika.
Siswa mempunyai suatu keterikatan dengan guru dalam proses pembelajaran. Karena itu, guru mempunyai peran yang sangat penting untuk memperbaiki keadaan ini. Lebih tepatnya guru mempunyai kewajiban dalam memperbaiki minat siswa terhadap matematika. Memperbaiki motivasinya agar memandang posisi terhadap matematika. Guru harus menemukan cara bagaimana siswanya bisa menyukai matematika.

Langkah pertama yang dapat dilakukan oleh guru yaitu memunculkan rasa percaya diri dalam diri siswa bahwa ia mampu mengikuti pelajaran matematika dengan baik. Langkah ini dapat kita tempuh melalui pendekatan matematika nalaria. Dimana persoalan matematika kita kaitkan dengan peristiwa yang dapat diselesaikan dengan nalar. Lebih baik lagi apabila peristiwa yang disajikan guru merupakan suatu keadaan yang siswa itu sendiri bisa terlibat didalamnya.

Berikut ini ada beberapa contoh persoalan yang berupa matematika nalaria.

Contoh pertama
Usia kamu sekarang berapa nak?. Usia ayahmu?. Selisih usia ayahmu dengan ibumu berapa tahun?. Lima tahun lagi usia kamu dan kedua orang tuamu masing-masingnya jadi berapa?. Kalau usia semuanya digabung, apakah mencapai 100 tahun?

Contoh kedua
Di sebuah peternakan, terdapat 20 ekor ayam, 25 ekor itik, 10 ekor kambing dan 8 ekor sapi. Menjelang ramadhan beberapa ekor ternak di sembelih yaitu 12 ekor ayam, 15 ekor itik, 6 ekor kambing dan 3 ekor sapi. Berapa jumlah kaki hewan yang masih hidup di peternakan?

Contoh ketiga
Ibu menebus obat untuk kakek di apotek “Sehat”. Obat A ditebus seharga Rp 75.000,00, obat B seharga Rp 65.500,00 dan obat C seharga Rp 184.000,00. Saat ke apotek ibu membawa uang sebesar Rp 350.500,00. Berapa uang kembalian yang ibu terima? Buatlah paling sedikit tiga kemungkinan pecahan uang kembalian yang ibu terima!

Beberapa contoh di atas, adalah bentuk soal matematika nalaria. Menyelesaikannya tidak perlu rumus, hanya membutuhkan nalar orang yang mengerjakannya. Bentuk soal seperti ini sangat baik diterapkan untuk siswa pada tahap awal proses pembelajaran matematika.
Sengaja dikumpulkan 20 orang siswa yang tidak menyukai matematika. Para siswa ini kemudian diminta pendapatnya tentang pelajaran matematika. Tujuhpuluh puluh persen dari mereka sepakat mengatakan matematika pelajaran paling sulit di sekolah. Sisanya berpendapat kesulitan bergantung pada jenis soal yang disajikan.

Kepada mereka lalu diujikan persoalan matematika nalaria seperti contoh-contoh yang dikemukakan di atas. Selama mengerjakan soal matematika nalaria, mulai terlihat perubahan ekspressi wajah dan bahasa tubuh. Siswa mulai terlihat berfikir dan mencoba menemukan jawabannya. Hingga akhirnya mereka benar-benar menemukan jawaban yang tepat atas persoalan tersebut.

Setelah selesai, kepada para siswa diminta kembali pendapatnya tentang matematika. Sekarang pendapatnya berbalik dengan di awal. Lebih dari tujuh puluh persen sepakat bahwa matematika bukan pelajaran yang sulit. Tetapi bisa ditaklukkan dengan ketelitian dan kemauan berfikir keras. Dari ini dapat dikatakan bahwa pembelajaran matematika dengan pendekatan matematika nalaria mampu membangun motivasi dan rasa percaya diri siswa terhadap pelajaran matematika.

Siswa yang berhasil memecahkan masalah/persoalan matematika nalaria, biasanya akan menjadi lebih bersemangat. Ia merasa telah mampu menyelesaikan persoalan matematika yang ia hadapi. Keadaan seperti inilah yang kita harapkan. Dengan semangat yang ia dapatkan tersebut, secara pelahan ia akan menyukai pelajaran matematika. Pada akhirnya, saat siswa sudah mulai merasa senang dengan matematika, maka kita mulai memberikan pembelajaran matematika yang berkaitan dengan rumus.

Melalui pembiasaan soal-soal yang bersifat nalaria, secara sadar kita juga telah membangun berbagai hal positif dalam diri siswa, diantaranya berupa:

1. Membangun kemampuan pola hitung kreatif pada siswa. Menemukan pola dalam menyelesaikan persoalan matematika nalaria, secara langsung juga membangun kemampuan nalar siswa itu sendiri.

2. Menumbuhkan dan mengembalikan rasa percaya diri siswa bahwa dirinya mampu mengikuti pelajaran matematika. Hal ini ia rasakan setelah beberapa keberhasilan yang ia peroleh dalam memecahkan masalah/soal matematika yang bersifat nalaria. Siswa terlihat semakin bersemangat.

3. Menumbuhkan keaktifan belajar siswa karena siswa merasa dapat menyelesaikan persoalan ini sendiri tanpa bergantung pada teman atau guru.

Setelah mengembalikan rasa percaya diri siswa menggunakan pendekatan matematika nalaria, langkah kedua adalah mematangkan media pembelajaran. Media pembelajaran juga merupakan point penting yang perlu disertakan ketika proses pembelajaran matematika berlangsung. Hal ini akan semakin menambah daya tarik pelajaran matematika bagi siswa. Biasanya, dengan bantuan media pembelajaran, siswa semakin terbantu dalam memahami konsep pembelajaran matematika. Siswapun semakin mudah memahami materi pembelajaran matematika yang dipelajari bersama gurunya.

Langkah-langkah di atas merupakan pengalaman yang telah saya lakukan di sekolah tempat saya berkarya. Melalui pendekatan matematika nalaria, siswa menunjukkan respon positif. Ada yang mengungkapkan rasa gembiranya begitu ia mampu menyelesaikan soal. Dengan wajah berbinar penuh kepuasan, siswa akan mengungkapkan pengalamannya dalam menyelesaikan soal. Ada yang mengatakan soalnya asyik, soalnya menantang, butuh konsentrasi, seperti memecahkan teka-teki, dan lainnya. Ada pula siswa yang meminta tambahan soal karena merasa tertantang dengan soal-soal matematika nalaria tersebut.

Dua langkah yang dipaparkan di atas, semoga bisa menjadi pertimbangan bagi para guru yang mengajarkan matematika. Bahwa kedua langkah tersebut sebaiknya dilakukan atau diterapkan oleh guru. Bagi guru yang belum terbiasa dengan soal matematika nalaria, mungkin memang tidak mudah menyesuaikan diri dengan model soal nalaria tersebut. Namun yakinlah, perlahan-lahan gurupun akan menikmati soal-soal matematika nalaria tersebut.

Untuk memajukan dunia pendidikan, sebelum menuntut siswa giat belajar, maka guru harus terlebih dahulu mengorbankan kemampuan dirinya untuk berkreasi menciptakan perangkat pembelajaran yang menyenangkan dan bisa digemari siswa. Dengan demikian tujuan pendidikan nasional akan mudah dicapai.


Penulis: (*)
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments