Kamis, 3 Desember 2020

Cerita Mahasiswa Jambi yang Jalani Kuliah Online di Tengah Wabah Covid-19


Selasa, 31 Maret 2020 | 13:48:21 WIB


/ metrojambi.com

JAMBI - Aldi Darwansyah (20), sudah sepekan lebih memilih belajar di asrama kampus PGSD FKIP Universitas Jambi. Kampusnya tempat ia belajar mewajibkan dosen dan mahasiswa untuk belajar dari rumah mengikuti anjuran pemerintah akibat Covid-19.

Aldi lebih memilih untuk tetap tinggal di asrama kampus ketimbang pulang kampung. Ia bersama mahasiswa lainnya tetap patuh mengikuti kegiatan pembelajaran daring atau dalam jaringan bersama dosen-dosennya.

Aldi juga harus cepat beradaptasi dengan pembalajaran yang berbasis teknologi, terutama ketika akan menggunakan aplikasi pembelajaran jarak jauh yang ada di playstore.

”Pembelajaran online sangat menarik dan mampu membuat antusiasme mahasiswa meningkat untuk belajar. Perkuliahan online merupakan hal yg sangat baru bagi saya pribadi. Kegiatan ini memberikan pengalaman yang sangat luar biasa,” ujar Aldi.

Mahasiswa lain mengaku lebih fleksibel kegiatan pembelajaran jarak jauh ini. ”Mau dilakukan malam, siang, sore pun bisa,” ujar Arif Rusdiasyah.

Untuk pembelajaran jarak jauh tersebut, dosen Aldi dan Arif memilih menggunakan aplikasi Zoom.

”Fleksibel, mudah diakses dimana saja jika sinyal memadai, mampu menghemat banyak waktu, menarik sehingga minat untuk mengikuti perkuliahan tinggi,” tukasnya.

Pada awalnya, Arif mengaku sedikit bingung dengan pembelajaran jarak jauh dengan menggunakan aplikasi.

”Biasanya kan tatap muka ya, ketemu langsung dengan dosen, ini masih harus banyak belajar, diawal awal saja sih bingungnya,” ujarnya.

Menurut Hendra Budiono, dosen PGSD FKIP Universitas Jambi yang juga fasilitator dosen Program PINTAR Tanoto Foundation, mengaku alasan dipilihnya aplikasi Zoom sebagai media pembelajaran jarak jauh adalah mahasiswa yang ikut bisa banyak.

”Bisa menampung sampai 100 mahasiswa,” tukasnya.

Selain Hendra, Try Susanti, dosen UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi juga memilih aplikasi Zoom untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh.

”Menggunakan Zoom nyaman, asalkan dipersiapkan dengan baik ya, disampaikan jauh jauh ke semua mahasiswa melalui WhatsApp grup kita akan menggunakan aplikasi Zoom, jadi mahasiswa telah mengunduh dan mempersiapkan dengan baik,” kata Anti panggilan akrabnya, yang juga fasilitator dosen Tanoto Foundation.

Anti yang mengampu mata kuliah Genetika bagi mahasiswa semester VI ini mengaku tidak menemui kendala selama pembelajaran jarak jauh dengan mahasiswanya.

Seperti yang disampaikan Halimatus Sadiyah, kesan yang ia dapatkan selama perkuliahan daring menyenangkan karena menggunakan metode sains sehingga menjadikan mahasiswa lebih aktif dan terampil didalam proses perkuliahan.

”Tentu saja terdapat perbedaan antara kuliah langsung dengan daring, dimana kuliah langsung jauh lebih terkondisikan situasinya karena berada diruangan yang sama, namun kuliah daring saya rasa juga cukup efektif untuk melakukan proses perkuliahan mengingat situasi yang dihadapi saat ini,” tukasnya.

Ia mengaku menggunakan aplikasi Zoom itu cukup efektif karena bisa bertatap muka secara langsung ”Kan bisa lihat langsung ya, suara dan wajah kita dengan teman dan dosen,” ujarnya.

Agar mahasiswa tetap lancar mengikuti pembelajaran, Hendra menyarankan untuk mencari lokasi yang tidak ramai.

”Bisa di kamar, yang penting tidak mengganggu kegiatan pembelajaran jarak jauh, dengan teknologi bisa mendekatkan yang jauh,” ujarnya.

Kendala lainnya adalah tentu saja di tempat mahasiswa berada tidak semuanya memiliki sinyal yang bagus, Hendra menyarankan agar mahasiswa tersebut mencari provider jaringan seluler yang memiliki sinyal kuat selama pembelajaran jarak jauh berlangsung.

”Kita tidak tahu sampai kapan pembelajaran jarak jauh ini berlangsung, jadi mahasiswa saya yang tidak memiliki sinyal bagus, untuk sementara waktu mencari provider jaringan seluler yang memiliki sinyal kuat agar semuanya berjalan lancar,” tambahnya.

Bagi mahasiswa tempat yang kondusif selama pembelajaran jarak jauh akan membuat pembelajaran lebih fokus.

”Lebih fokus saja sih, kalau seandainya tempatnya tenang, apalagi ditunjang dengan koneksi internet yang stabil,” ujar Aldi lagi.

Ditanya kekurangan pembelajaran jarak jauh, baik Aldi maupun Arif sepakat harus membutuhkan kuota agar pembelajaran tetap terjaga dengan baik.

”Kuota ya, yang paling banyak menguras,” ujar Arif.

Sedangkan menurut Reni Ellisa Lestari mengatakan lebih bagus kuliah tatap muka dari pada kuliah online. ”Membuat saya kurang fokus terhadap perkuliahan,” tukasnya.

Agar sinyal tetap stabil, Reni mempersiapkan kuota dan 2 kartu agar jika terjadi mati lampu maka kartu satunya bisa back up kartu yang ada sinyal jika hanya lampu nyala.

”Persiapan menjadi sangat penting disini, agar tidak mati waktu pembelajaran jarak jauh,” ujarnya.


Penulis: Nita
Editor: Herri Novealdi



comments