Kamis, 4 Juni 2020

Budaya Selebrasi Konvoi dan Coret Sebagai Cerminan Kegagalan Pendidikan Karakter


Selasa, 31 Maret 2020 | 16:10:36 WIB


Nelly Afrianty, S.Si
Nelly Afrianty, S.Si / istimewa

Oleh : Nelly Afrianty, S.Si

KELULUSAN merupakan hal yang paling ditunggu-tunggu oleh para pelajar khususnya ditingkat sekolah menengah atas seperti SMA, SMK dan MA. Berbagai rangkaian uji kompetensi seperti ujian semester, ujian praktek, ujian sekolah dan diakhiri dengan ujian nasional merupakan satu rentetan peristiwa yang bermuara pada pengumuman kelulusan.

Kelulusan disambut dengan gembira. Perayaan kelulusan sekolah tidak afdhol jika tidak dirayakan dengan konvoi dan corat-coret seragam sekolah dengan menggunakan berbagai jenis tinta dan pewarna seperti spidol dan cat.

Fenomena ini tampaknya sudah menjadi bagian tradisi tahunan bagi para pelajar untuk meluapkan segala kegembiraan dan selebrasi mereka. Entah apa tujuannya, namun aksi ini kerap terjadi di berbagai daerah pada masa-masa setelah ujian nasional dan atau saat pengumuman kelulusan.

Berbeda dengan tahun ini, di tengah bencana nasional merebaknya wabah virus corona yang memaksa kita untuk selalu waspada dan mengurangi aktivitas di luar rumah, pemerintah telah mengambil suatu kebijakan dalam sektor pendidkan dengan meniadakan ujian nasional berbasis computer (UNBK). Tak sekedar itu, bahkan pemerintah juga mengeluarkan kebijakan untuk melaksanakan pembelajaran di rumah “study at home” kepada pendidik dan peserta didik selama masa penanggulangan wabah virus corona.

Betapa seriusnya permasalahan yang dihadapi oleh bangsa kita, terkait upaya pemutusan rantai penyebaran virus corona perintah juga meniadakan ujian kenaikan kelas untuk tahun ajaran ini. Hal ini merupakan implikasi dari kebijakan “stay at home” atau tetap berada di rumah dan “social distancing” yaitu menjaga jarak interaksi sosial. Bahkan proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) nanti pun tidak dilaksanakan secara langsung, tetapi secara online.

Namun ayalnya, kebijakan pemerintah dalam sektor pendidikan sebagai upaya pencegahan menyebarnya wabah virus corona, tak diindahkan oleh sebagian siswa sekolah menengah atas dari beberapa daerah. Betapa tidak, mereka (oknum siswa) begitu euforia melakukan aksi konvoi dan coret-coret seragam sekolah. Mereka berkumpul di satu titik lokasi dan begitu kompaknya seolah-olah ingin mengadakan selebrasi dan performance. Entah bagaimana cara mereka berkoordinasi satu sama lain sedangkan mereka berasal dari sekolah yang berbeda-beda. Mungkin inilah salah satu fungsi utama android mereka selain sebagai penunjang pembelajaran.

Tradisi corat-coret seragam yang hampir dilakukan di semua daerah di negeri ini dan seolah menjadi budaya populer yang memiliki makna tersendiri dikalangan siswa. Pada dasarnya aksi corat-coret seragam bukan hanya sebatas persoalan terhadap seragam yang tidak akan digunakan lagi, namun lebih sebagai cerminan karakter generasi muda kita. Menurut Muhammad Mustaqim salah seorang dosen dan pengamat sosial, ada tiga karakter yang dapat kita baca dari budaya corat-coret ini.

Pertama, sikap cepat merasa puas. Selebrasi terhadap kelulusan merupakan hal yang wajar. Namun bila itu harus dilakukan dengan beberapa aksi dan kegiatan yang tidak manfaat, tampaknya lebih sebagai sesuatu yang berlebihan. Euforia corat-coret dalam hal ini merupakan cerminan perasaan terlalu puas atas prestasi dalam menyelesaikan jenjang pendidikan menengah. Jika hal ini dilakukan 30 tahun yang lalu, mungkin agak releven, mengingat pada masa itu SMA merupakan salah satu jenjang pendidikan yang "cukup" tinggi.

Namun dalam konteks kekinian, jenjang SMA bukan lagi merupakan jenjang yang “cukup” tinggi. Jenjang SMA merupakan jenjang yang relatif rendah dan dianggap biasa, karena saat ini sudah banyak orang yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi seperti Perguruan Tinggi dan Lembaga sejenisnya. Sehingga aksi corat-coret seragam dalam hal ini dianggap sebagai gejala terlalu berpuas diri dalam pendidikan. Hal ini bukanlah suatu sikap yang baik dalam kaitannya dengan proses pembelajaran atau pencarian ilmu. Oleh agama, kita diajarkan untuk mencari ilmu min al-mahdi ila al-lahdi, dari ayunan sampai liang lahat. Dan UNESCO pun mencanangkan program “long life education", belajar seumur hidup. Lantas, mengapa generasi kita yang baru lulus SMA saja sudah terlalu puas dan gembira seperti itu?

Kedua, adanya karakter show of force. Budaya corat-coret sudah tentu melibatkan proses pengerahan massa yang banyak. Tak jarang aksi konvoi ini menimbukan tawuran antar pelajar. Hal ini terjadi karena adanya upaya show of force atau unjuk kekuatan antara kelompok pelajar yang satu dengan yang lainnya. Dan tradisi unjuk kekuatan ini jika dibudidayakan akan melahirkan tradisi anarkisme kolektif antar kelompok. Sehingga tipologi show of force dalam aksi konvoi akan menjadi preseden buruk terhadap mengembangan mental dan karakteristik generasi muda kita.

Ketiga, adanya kecenderungan bad celebration. Selebrasi atas kesuksesan boleh-boleh saja dirayakan. Namun perayaan dengan aksi corat-coret rasanya bukanlah perayaan yang baik. Sebaliknya, hal ini merupakan bagian dari perayaan yang berlebih-lebihan dan jauh dari prinsip kebermanfaatan. Jika generasi muda kita sudah mulai mentradisikan perayaan buruk ini, maka tentunya akan berakibat buruk bagi kelangsungan hidup di masa yang akan datang. Sehingga, aksi carat-coret ini akan melestarikan sebuah tradisi buruk yang akan selalu diikuti oleh generasi-generasi berikutnya.

Kejadian konvoi dan coret-coret yang baru-baru ini terjadi di daerah Kerinci dan Sungai Penuh merupakan sebuah tamparan keras bagi para parktisi pendidikan Kerinci dan Sungai Penuh dibawah naungan Dinas Pendidikan Provinsi Jambi. Sungguh kejadian yang sangat memalukan dan dapat diartikan sebagai sebuah kegagalan pendidikan karakter. Namun tak heran, setelah dilakukan pendataan baik oleh aparat keamanan maupun pihak sekolah, sebagian besar siswa yang terlibat pada kegiatan konvoi dan coret-coret tersebut merupakan siswa yang sering bermasalah di sekolah. Apakah ini artinya para pendidik tidak mampu menanamkan pendidikan karakter kepada peserta didik?

Masalahnya tidak sesederhana itu, karena untuk mencapai suatu keberhasilan dalam pendidikan yang diindikasikan dengan lahirnya generasi muda yang kreatif, disiplin dan bertaqwa tak cukup hanya dengan mengandalkan peran guru di sekolah. Peran orang tua sangat dibutuhkan, begitu juga dengan peran aktif dari siswa itu sendiri. Apabila guru telah melaksanakan tugas dan kewajibannya secara maksimal, namun tidak didukung dengan perhatian dan pengawasan yang baik oleh pihak orang tua dan keluarga terhadap siswa, maka jangan bermimpi akan lahir generasi muda yang kreatif, disiplin dan bertaqwa. Dan untuk mewujudkan itu semua perlu adanya kerjasama yang baik antara guru, orang tua dan siswa.

*Penulis adalah guru SMAN 1 Kerinci


Penulis: Nelly Afrianty, S.Si
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments