Minggu, 5 Juli 2020

Pilkada Ditunda, Peta Politik Bisa Berubah


Rabu, 01 April 2020 | 11:50:38 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / istimewa


Kini, aktivitas politik tiba-tiba terhenti karena penyebaran virus ini hingga waktu belum ditentukan. Mau tidak mau, suka tidak suka keputusan ini harus diambil untuk menyelamatkan nyawa umat manusia.

Pengamat politik Jambi Dori Efendi mengatakan, akibat penundaan Pilkada, peta politik bisa berubah. Penundaan Pilkada ini memang sebuah kerugian, karena beberapa bulan lalu para kandidat intens melakukan sosialisasi, tentunya popularitas mereka sedang mananjak.

Namun hal itu tidak menjadi persoalan besar, karena para kandidat rata-rata kepala daerah. Artinya, kandidat-kandidat itu bisa menujukkan kebijakan-kebijakan dalam penanganan virus corona di Jambi atau di daerah masing-masing.

Dalam kebijakan-kebijakan itu mereka bisa responsif. Artinya, rakyat bisa melihat siapa yang layak untuk dipilih. Ini jadi ajang mereka untuk menunjukkan kepedulian mereka kepada masyarakat yang dipimpin.

“Ketika elektabilitas mereka turun karena tidak melakukan sosialisasi, tapi mereka bisa menunjukkan peran dan kebijakan yang menyentuk kepada masyarakat. Namun yang merasa rugi besar ketika Pilkada adalah Fachrori” kata dosen Fisipol Unja ini.

Karena kata Dori, ketika Pilkada nanti Fachrori kemungkinan tidak lagi memegang tampuk kekuasan di Provinsi Jambi. “Artinya ketika Pilkada nanti kehilangan kekuasan, ketika dia tidak memegang kekuasaan orang yang mendukung karena kekuasaan akan hilang, kecuali tim pendukungnya. Ini kerugian besar,” tandasnya.

Lalu apakah ada kemungkinan kandidat gulung tikar mengingat Pilkada ditunda, Dori mengatakan, bahwa para kandidat ini adalah orang-orang yang memiliki jabatan dan punya modal politik atau power politiknya. “Secara finansial mereka kuat, saya pikir mereka sudah siap,” tegasnya.

Sementara itu, Bahren Nurdin juga berpendapat jika Pilkada ditunda, otomatis aktivitas politik sudah pasti berkurang.

"Saya melihat seperti, mau tidak mau suka tidak suka mereka harus mengurangi aktivitas, mau sosialisasi pun orang juga akan menolak dan seyoganya memang begitu," ujar Bahren.


Penulis: Sahrial
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments