Sabtu, 30 Mei 2020

Covid-19, Kegalauan Bagi Anak Didik Bangsa


Jumat, 03 April 2020 | 16:46:21 WIB


Karlina Veradia Simanungkalit
Karlina Veradia Simanungkalit / istimewa

Oleh : Karlina Veradia Simanungkalit

TAHUN 2020 ini akan menjadi tahun bersejarah bagi kita. Seperti kita tahu bahwa penyebaran virus corona (Covid-19) saat ini masih menjadi isu hangat bagi dunia internasional, termasuk Indonesia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Rabu (11/3) secara resmi menyatakan wabah corona (covid-19) sebagai pendemi global. Hal itu didasari karena cepat dan masifnya penyebaran virus ini ke sejumlah negara.

Jumlah kasus infeksi corona (Covid-19) secara kumulatif di dunia masih terus mengalami peningkatan. Lebih dari 201 negara telah melaporkan kasus corona (covid-19).

Untuk 1 April 2020, data real time yang dikumpulkan oleh John Hopkins CSSE menunjukkan, angka kasus positif sebanyak 854.608 kasus.

Dari jumlah ini, 42.032 orang meninggal dunia dan 176.908 pasien telah dinyatakan sembuh. Dan untuk kasus corona (covid-19) ini, menunjukkan bahwa kasus terbanyak kini tercatat di AS dan Italia. Kedua negara ini memiliki jumlah kasus lebih banyak dari China, negara pertama kali yang mengidentifikasi adanya virus corona (covid-19).


Akibat dari corona (covid-19) ada banyak sektor yang telah dirugikan. Tidak hanya dari bidang kesehatan saja, namun juga pada sektor lainnya. Termasuk ekonomi dan pendidikan. Mulai dari sektor pariwisata. Sektor ini merupakan salah satu faktor penting dalam pertumbuhan perekonomian Indonesia dan memiliki kontribusi devisa terbesar kedua di Indonesia setelah devisa hasil ekspor kelapa sawit.

Sejak Surat Edaran (SE) yang dikeluarkan pemerintah pada 18 Maret 2020, segala kegiatan di dalam maupun di luar ruangan di semua sektor harus tertunda. Belum lagi harga barang pokok melonjak naik akibat dari permintaan masyarakat yang semakin meningkat karena kepanikan masyarakat sejak diumumkannya kasus corona (covid-19) pertama, di awal Maret.

Sejak pandemi virus corona (covid-19) mengepung dunia dan penyebarannya yang masif dan relatif cepat, membuat orang-orang takut (dibaca : ciut). Semua orang lantas mengambil jarak demi memutuskan rantai penularan corona (covid-19). Tempat-tempat ibadah kini mulai sepi, agenda-agenda massa dihilangkan, karena SARS-CoV-2 pula atau istilah Work From Home (WFH) jadi melejit dikenal.

Sedangkan pada sektor pendidikan dalam menyikapi adanya virus corona (covid-19) ini pemerintah mengeluarkan aturan bahwa proses pendidikan dan pembelajaran pada setiap tingkat satuan pendidikan dilakukan di rumah dengan pendampingan orang tua. Semua proses pembelajaran, bimbingan, bahkan sidang (skripsi) pun mau tidak mau dilakukan secara online. Belum lagi sekolah dan kampus-kampus ikut didaringkan. Lengkap sudah, kekacauan dari munculnya virus corona (covid-19) ini.

Dampak Virus Corona (Covid 19) pada Pendidikan Indonesia

Tidak hanya tenaga dan peserta didik di Indonesia saja yang mengalami dampak dari virus corona (covid-19) ini. Negara-negara di dunia juga mengalaminya. Yang mana sekolah-sekolah dan kampus-kampus diliburkan. Tidak sedikit juga kampus-kampus yang memulangkan mahasiswanya kekampung halaman mereka. Meskipun mereka tetap menjalankan perkuliahan secara online. Contohnya, adik saya yang kuliah di salah satu Universitas Swasta Semarang. Mereka yang tinggal di asrama, disarankan untuk pulang ke kampung halaman masing-masing.

Pihak asrama menonaktifkan kegiatan asrama mulai dari bulan April hingga Juli 2020. Hal ini juga dilakukan sebagai tindakan pencegahan yang lebih terkontrol dalam upaya menghindari kontak dengan banyak orang/keramaian. Namun, tidak semua kampus menerapkan kebijakan tersebut. Hanya ada beberapa kampus yang memberlakukan kebijakan tersebut dengan melihat kondisi daerah masing-masing.

Dampak ini juga bukan hanya dirasakan aleh para mahasiswa saja, melainkan para siswa/siswi yang duduk di bangku SMA juga merasakan ‘kegalauan’ dalam proses pendidikan mereka tahun ini. Mulai dari sekolah yang diliburkan, UN (Ujian Nasional) ditiadakan, dan bahkan UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer) tahun ini pun terancam ditunda, dengan memperhatikan situasi Nasional dalam menghadapi virus corona (covid-19).

Belum lagi kesiapan mental mereka dalam menghadapi seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri tahun ini. ‘Galau’ sudah anak-anak didik bangsa ini. Belom lagi, ini juga dirasakan bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikan mereka keluar negeri. Sejak pandemi virus corona (covid-19) ini mendunia, banyak para penerima beasiswa menunda keberangkatan mereka guna meminimalisir penularan virus corona (covid-19).

ABC News melaporkan setidaknya ada 22 negara di tiga benua yang menutup sekolah mereka selama pandemi virus corona (covid-19) ini membayangi warganya. ABC News juga melaporkan bahwa ada 13 negara yang menutup sekolah diseluruh penjuru negeri. Hal ini menjadi kegusaran bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam menyikapi fakta tersebut.

Berdasarkan laporan ABC News Maret 2020, menurut data Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO), setidaknya ada 290,5 juta siswa di seluruh dunia yang aktivitas belajarnya menjadi terganggu akibat sekolah yang ditutup.

Direktur Jenderal UNESCO Audrey Azoulay mengatakan, ‘penutupan sekolah untuk sementara waktu dengan alasan kesehatan dan krisis lainnya bukanlah hal yang pertama kalinya terjadi. Namun, kali ini dampak yang ditimbulkan memang tak terduga dan telah berdampak mendunia. Jika ini terus berlanjut maka bukan tidak mungkin akan mengancam ha katas pendidikan’. Benar, tidak hanya negara Indonesia saja yang mengalami ‘kegalauan’ pada sektor pendidikan. Beberapa negara besar juga mengalaminya. Seperti negara Italia, Amerika Serikat, China, Jepang, dll.

Maka sangat disarankan bahwa peran orangtua sangat dibutuhkan dalam menyikapi hal ini. Perlu ada pengertian dan edukasi terkait langkah-langkah pencegahan virus corona (covid-19), serta alasan menutup sekolah dalam rangka menerapkan social distancing kepada anak-anak.

Rasa rindunya mereka untuk bersekolah itulah yang harus disikapi para orangtua. Ketika mereka diberi tugas (pekerjaan rumah) bimbinglah mereka dalam belajar, dan berikan mereka inovasi-inovasi baru bagi mereka agar anak-anak tersebut tidak merasa bosan dan jenuh belajar di rumah. Para orangtua juga harus memanfaatkan fasilitas yang disediakan oleh negara dalam merencanakan e-learning yang matang untuk pendidikan mereka di rumah. Seperti memanfaatkan aplikasi belajar online (app Zenius, Ruangguru, Google Suite for Education, Microsoft: Office 365 for Education, Quipper School, Sekolahmu, Kelas Pintar). Menteri Pendidikan dan kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, juga telah mengkoordinasikan bantuan gratis untuk belajar online dari aplikasi-aplikasi yang mendukung pendidikan anak-anak bangsa, meskipun harus belajar dirumah. Hal ini haruslah dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi para orang tua, guru, dan anak didik.

Kita bisa, Indonesia bisa!!!

 

*) Penulis adalah alumni dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jambi


Penulis: Karlina Veradia Simanungkalit
Editor: Herri Novealdi



comments