Rabu, 3 Juni 2020

Serba Serbi Covid 19


Senin, 06 April 2020 | 10:48:21 WIB


/ istimewa

Oleh : Navarin Karim

BENCANA Covid 19 menimbulkan berbagai macam kontroversi, keanehan, bahkan dapat pula menimbulkan hikmah dan kelucuan.

Kontroversi. (1) Kebijakan Darurat Sipil menimbulkan Polemik status negara dalam menyikapi virus Corona (Covid-19) menjadi jelas. Seakan mengakhiri korntroversi darurat sipil yang berkembang di masyarakat.

Presiden Jokowi secara resmi menetapkan status negara tengah menghadapi darurat kesehatan. Hal yang menjadi kontroversi sebelumnya adalah jika diberlakukan UU darurat sipil seolah negara sedang mengalami kerusuhan (riot).

Tak lucu jika ada komunitas pemain bulutangkis malam hari dibubarkan, aparatnya membawa senjata. (2) Kontroversi sebelumnya ada pula fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 14 tahun 2020 tentang penyelenggaraan ibadah dalam situasi terjadi wabah Covid -19, ada sembilan ketentuan hukum yang mendasari fatwa ini. Salah satunya berbunyi bisa meninggalkan sholat Jumat apabila seseorang berada di kawasan yang potensi penularannya tinggi. Sholat Jum’at dapat diganti dengan sholat zuhur di rumah.

Alasannya kita harus berikhtiar menghadapi sebelum datang takdir. Lantas ada pula Ustadz yang mengatakan hikmah Corona ini kita cukup meningkatkan keimanan.

Ada benarnya pendapat ustad yang berbeda pandangan ini. Lebih takutlah kepada Allah (Tuhan) sebagai sang pencipta pelindung dan penentu kehidupan kita. Namun ikhtiar tetap juga kita lakukan yaitu protap mencegah terkena virus korona, dan utamanya tetap minta perlindungan dan takut kepadaNya. (3) Kontroversi Juru bicara pemerintah (Achmad Yurianto) dalam salah satu statementnya mengatakan : “pentingnya kekompakan dalam menghadapi kasus virus Corona atau Covid 19. Namun beliau salah ngomong (Slip of tangue) mengatakan bahwa “yang kaya melindungi miskin agar bisa hidup dengan wajar dan yang miskin melindungi yang kaya agar tidak menularkan penyakitnya. Ini menjadi kerjasama yang penting” Kalimat terakhir ini sungguh mencederai perasaan orang miskin, seolah orang miskin sebagai penular penyakit corona, padahal ada juga orang kaya dan atau pejabat negara sebagai pemantik. Contoh pejabat walikota Bogor yang study banding sampai Turki dan Azerbaijan. Untuk apa sich study banding sampai ke negara tersebut? Lebih terkesan tour ketimbang study banding, akhirnya terpapar Corana dust sebagai pemantik yang menyebabkan dokter yang merawatnya meninggal dunia. Hal ini dibenarkan oleh Fadli Zon dengan mengatakan bahwa juru bicara Presiden tersebut sudah kelelahan, sehingga salah mencari kata-kata.

Ambigu. (1) Penulis juga sempat ikut-ikutan melakukan penyemprotan keluarga dengan disinfektan, untung tidak ada yang asma, sampai pedih mata atau alergi. Kepanikan penyebaran virus Corana kadang-kadang membuat kita ikut-ikutan tidak rational, karena keterbatasan pengetahuan tentang itu. Penulis baru menyadari setelah menonton acara ILC tentang Dilema Covid 19, nara sumber seorang Spesialis paru rumah sakit Persahabatan dr Erlina Burhan menjelaskan bahwa penyemprotan langsung disinfektan kepada manusia ternyata berbahaya, karene disinfektan untuk disemprotkan untuk permukaan benda-benda mati, sedangkan untuk manusia berbahaya terhadap mata, saluran napas dan alergi kulit, karena mengandung natrium hipoklorit, etanol bahkan alkohol. Lebih penting harus sering cuci tangan dengan air sabun dari air yang mengalir, mengganti pakaian setalah melakukan aktivitas di luar rumah serta jangan sering-sering pegang wajah. (2) Hal yang menimbulkan ambigu juga terjadi ada beberapa instansi dan di pojokan tempat umum dibangun tempat pencucian tangan dengan menyediakan Tedmon berisi air yang dapat dialirkan untuk pencucian tangan, sementara masyarakat termasuk pegawai dianjurkan pula agar di rumah saja. Jadi menimbulkan paradok dust ambigu yaitu di rumah saja atau boleh juga ke luar rumah. (3) Kebingungan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) terjadi pula.

Bukan rahasia umum lagi bahwa di penjara penuh sesak tahanan, sementara harus ada pembuat jarak antar narapidana, dan untuk pencegahan virus corona ini memerlukan biaya tambahan, akibatnya ada kebijakan tahanan dirumahkan.
Hikmah. (1) Salah satu hikmah virus Covid 19 masyarakat egaliter lebih tercipta. Tidak ada lagi pamer keberhasilan hidup di gedung mewah manakala resepsi pernikahan. Masyarakat lapisan bawah merasa tidak ada kasta dalam pernikahan, mempermudah terlaksananya pernikahan. Yang mau nikah cukup mengundang KUA, wali/orang tua, saksi dan keluarga seperlunya. Yang penting syah secara agama. Bagi masyarakat kelas bawah terasa beban dengan resepsi pernikahan dan bagi kelas menengah akan terasa ekonomi jatuh bebas ke titik nol. (2) Hikmah lainnya orang kaya dapat beramal dengan bersedekah membagi sembako kepada mayarakat lapisan bawah seperti tukang becak, ojek on line (ojol), tukang sol sepatu, pengemis dan pemulung. (3) Bagi penjual jamu gendong memperoleh benefit dari bencana ini, karena yang biasa tidak suka minum jamu, ikut-ikutan minum jamu. (4) Demikian pula pencipta zoom.us memperoleh keuntungan trilyunan rupiah karena banyak yang melakukan teleconference yang biasanya hanya dilakukan sekali-sekali saja.

Kelucuan. (1) Ketika acara International Lawyers Club (ILC) seorang Karni Ilyas yang sudah sangat terkenal kepiawaian dalam memandu diskusi, sempat slip of tangue juga manakala menyebut istilah Lock down dengan istilah Lock Out beberapa kali, kemudian supaya tidak kelihatan dan demi jaga gengsi, kesalahan bertambah. Beliau selanjutnya kemukakan lock out atau lock down. Jadi dua kali salah bung Karni Ilyas, lock out tidak sama dengan lock down. Lock down menutup wilayah secara sengaja, sedangkan lock out dalam expression Inggris dimaknai terkunci. Dalam bahasa Indonesia terkunci berarti tidak sengaja mengunci atau bisa juga terkurung, tetapi tidak berarti terkurung hendak diluar (pepatah Minang yang sangat populer itu).(2) Kejadian pernah penulis melihat di pusat pelayanan masyarakat, seorang bapak separuh baya, menggunakan masker namun, ketika dia haus lupa membuka masker langsung menuangkan gelas ke mulutnya yang masih tertutup masker. (3) Orang asing yang biasa minum bir/alkohol sekarang mengganti minumannya dengan jamu gendong, mudah-mudah tidak ada penjual jamu gendong nakal yang memberi bapak-bapak dengan ramuan jamuan sari rapat, dikarenakan stock jamu untuk pencegah covid-19 sudah habis. (4) Ada juga kejadian suami istri menjaga jarak di rumah, sudahlah duduk dan makan berjauhan, tidurpun berjarak dan atau pisah ranjang. (5) Namun ada pula dampak di rumah saja, akibatnya kurang gerakan sehingga yang biasa aktivitas di luar kurang gerak, banyak makan sehinggga badan cenderung gemuk. Juga efek di rumah ini bisa saja bertentangan dengan program dua anak cukup, karena saking sering berduaan di rumah. Alamak.

*) Penulis adalah dosen Fisipol Unja


Penulis: Navarin Karim
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments