Sabtu, 30 Mei 2020

Harga Jual Hasil Tangkapan Nelayan di Tanjabtim Turun


Senin, 06 April 2020 | 16:16:50 WIB


Hasil tangkapan para nelayan rata-rata mengalami penurunan harga jual.
Hasil tangkapan para nelayan rata-rata mengalami penurunan harga jual. / istimewa

MUARASABAK - Masyarakat di wilayah pesisir Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) dengan mata pencarian sebagai nelayan, saat ini tengah kesulitan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka dengan layak. Ini dikarenakan hasil tangkapan para nelayan rata-rata mengalami penurunan harga jual.

Udin, salah seorang nelayan di Lambur luar mengatakan, saat ini hasil tangkapan nelayan cukup melimpah, namun sayangnya harga jual mengalami penurunan. Menurut Udin, hal ini sudah sering terjadi, namun kali ini cukup parah.

"Hasil lumayan. Dari segi alat tangkap apapun jika nelayan turun hasil nya melimpah. Namun tidak sesuai dengan harga di pasaran," keluh Udin, saat ditemui metrojambi.com, Senin (6/4/2020).

Hasil tangkapan yang melimpah namun tidak diimbangi dengan harga jual membuat nelayan wilayah pesisir Tanjabtim mengalami kerugian. Baik tenaga maupun modal yang harus dikeluarkan saat akan beroperasi di laut.

"Tak balik modal. Bahkan kami juga tidak bergaji jika tekor hasilnya," ujarnya.
Beruntung hampir rata-rata nelayan bergantung pada toke. Sehingga sekecil apapun penghasilan masih mampu menghidupi keluarga. Namun tidak semua nelayan bisa beroperasi jika toke tidak mengeluarkan biaya untuk melaut.

"Ada juga toke yang tidak mau anak buahnya turun saat sekarang ini. Karena lebih besar kos dari penghasilan saat jual hasil tangkapan," tandasnya.

Sementara itu, Camat Kuala Jambi Taufiq Kurniawan saat dikonfirmasi mengatakan, kondisi seperti saat ini tentunya menjadi keluhan tersendiri bagi masyarakatnya yang berprofesi sebagai nelayan ataupun pengepul hasil laut.

"Yang jelas saat ini pengunjung ataupun pembeli komoditi laut cukup sepi. Akan tetapi untuk harga jual ikan tidak terlalu berimbas, karena masih bisa dikirim melalui jalur air ke beberapa daerah terdekat seperti kabupaten tetangga," ungkapnya.

Saat ini, untuk mengantisipasi anjloknya harga jual hasil tangkap, beberapa nelayan beralih profesi menjadi petani atau berkebun.

"Sebagian nelayan udang juga ada yang mengganti alat tangkapnya menjadi jaring ikan. Akan tetapi hal tersebut tentunya membutuhkan modal yang cukup besar," paparnya.

Sementara itu, Kaspul, salah seorang penjual ikan di Kecamatan Kuala Jambi menjelaskan, harga hasil tangkapan memang mengalami penurunan misalnya hasil tangkapan jenis udang sualo yang sebelumnya Rp 30.000 kini hanya Rp 26.000 saja bahkan ada harga jenis udang yang dijual Rp 5.000.

"Nelayan lebih banyak menjual keluar daerah. Karena di luar daerah harga masih stabil," ujarnya.


Penulis: Nanang Suratno
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments