Sabtu, 6 Juni 2020

Inferensi Pandemi Covid-19


Kamis, 16 April 2020 | 11:20:48 WIB


Amri Ikhsan
Amri Ikhsan / istimewa

Oleh: Amri Ikhsan

INFERENSI berarti sebuah proses yang harus dilakukan pembaca untuk memahami makna yang secara harfiah tidak terdapat didalam wacana yang diungkapkan oleh pembicara atau penulis (Moeliono, 1988). Dalam konteks pandemi covid-19, kita sebagai ‘pembaca tanda tanda alam’ harus dapat mengambil pengertian, pemahaman, atau penafsiran dari penyebaran virus ini. Kita harus mampu mengambil hikmah, kesimpulan sendiri, walaupun makna itu terbaca secara implisit.

Dalam tulisan ini inferensi merupakan intisari kesimpulan awal yang diperoleh berdasarkan peristiwa, kejadian, kebijakan, tindakan yang berhubungan dengan usaha memutus rantai penyebaran covid-19.

Inferensi yang tepat tentang covid-19 dapat mempertinggi kepercayaan diri dalam membantu diri sendiri, orang lain dan pemerintah dalam ‘melawan’ virus ini. Minimal sebagai orang awam dalam dunia kesehatan, kita bisa berbuat dan melakukan tindakan non-medis untuk memutus rantai penyebaran covid-19 ini.

Pertama, Allah sedang menegur dan mengingatkan kita bahwa manusia adalah makhluk yang lemah. Ketika covid-19 muncul dan menyebar ke mana-mana banyak orang yang tidak berdaya. Dalam kondisi pandemi ini, ‘stay at home’ merupakan langkah terbaik, bergembira bersama keluarga, produktif bekerja, mengajar, belajar dan menulis dari rumah, banyak beribadah, berdoa dan selalu berpikiran positif.

Bahkan MUI mengimbau umat Muslim di wilayah yang terdapat kasus infeksi covid-19 untuk tidak menunaikan shalat berjamaah di masjid sementara waktu dan melakukan shalat wajib lima waktu di rumah masing-masing. Begitu pun dengan shalat Jumat dihimbau untuk tidak ditunaikan di masjid buat sementara waktu, dan diganti shalat zhuhur di rumah. (Republika.co.id).

Kedua, covid 19 menyadarkan (kembali) pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan diri dan lingkungan dan tentu saja kebersihan rohani.

Anjuran untuk selalu mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer di tengah merebaknya wabah covid-19 sejalan tuntutan hidup bersih dan sehat. Bagi kaum muslim, kebiasaan menjaga wudhu juga salah satu cara untuk mencegah terkena covid 19 karena orang yang berwudhu secara otomatis juga membersihkan anggota tubuh dan kulitnya. Walaupun memang tidak ada jaminan kalau berwudhu pasti tidak terkena virus tetapi minimal ada upaya untuk melindungi diri. (Republika)

Ketiga, ternyata keluarga itu penting, sebuah fondasi untuk kokohnya sebuah negara. Bekerja atau berada ditempat kerja selama 37,5 per minggu bukanlah yang menggembirakan bagi sebuah keluarga, apalagi bagi keluarga yang kedua orang tuanya bekerja.

Artinya, orang tua tersebut harus berada ditempat kerja rata rata 7-10 jam perhari, termasuk dalam perjalanan, dihitung seorang itu tidak berada dirumah selama 9-10 jam perhari. Seandainya dia berangkat jam 7 pagi dan akan kembali kerumah jam 5 sore.

Covid-19 kembali menyadarkan kita bahwa bersama keluarga adalah sesuatu yang amat berharga. Khusus peran orang tua dibidang pendidikan, yang selama ini ‘ditumpahkan’ kepada guru, dan kalau ada hal ‘negatif’ yang terjadi pada anak, maka orang paling disalahkan adalah guru. Karena orang tua merasa guru adalah pekerja profesional yang digaji pemerintah.

Padahal kebersamaan guru dengan peserta didik paling lama 7-8 jam perhari, selebihnya anak itu bersama orang. Covid-19 sekali lagi menganulir pendapat orang tua tentang satu satunya orang yang bertanggung jawab atas anak adalah guru. Mendidik anak adalah tanggung jawab bersama demi kebaikan bersama.

Keempat, Work From Home (WFH) dan Teaching From Home (TFH) adalah istilah baru yang muncul ditengah penyebaran Covid-19. Virus ini ‘memaksa’ kita untuk menyimpulkan bahwa dalam urusan bekerja boleh dimana saja tidak mesti ditempat kerja konvensional.

Diyakini, yang paling penting kualitas kerjanya bukan dimana tempat bekerja. Memang pekerja profesional itu difailitasi tempat kerja yang representatif, ditentukan waktu yang memadai, tapi itu bukanlah jaminan untuk menghasilkan pekerjaan yang maksimal dan bermakna.

Bekerja atau belajar dari rumah harus dimaknai sebagai variasi dalam melaksanakan tugas dan fungsi. Bekerja atau belajar daring dengan menggunakan media sosial atau aplikasi lain harus diartikan sebagai penyegaran dalam bekerja. Selama ini ‘bekerja’ itu dikukung dengan syarat syarat tertentu: harus ada ruangnya (kelas), harus dipantau langsung oleh pimpinan (guru), harus ada papan tulis, ada waktu spesifik, harus duduk dengan tangan dilipat diatas meja, harus pakai seragam tertentu yang rapi, harus diabsen (finger print), dll.

Kondisi ideal ini terbantahkan dengan adanya covid-19. Ternyata bekerja atau belajar itu tidak harus rigid (kaku) dengan syarat syarat tertentu. Dan dipastikan bekerja atau belajar itu syaratnya cuma satu, yaitu kemauan, niat. Dan dibuktikan pekerjaan itu bisa dipertanggungjawabkan, diakui akuntabilitasnya dan bisa dikomunikasi hasil bekerja dan belajar kepada stakeholder baik secara lisan atau tulisan.

Covid-19 rasanya juga membuka tabir bagi dunia pendidikan kita bahwa 1) masih ada guru yang belum menguasai informasi teknologi, guru masih mengajar seperti ‘biasa’; 2) percaya tidak percaya, ada guru yang tugasnya ‘tukang’ memberi tugas sebanyak banyaknya kepada siswa tanpa ada bimbingan yang memadai dari guru; 3) masih ada guru mengajar seperti memakai ‘kaca mata kuda’, mengajar terus tanpa lihat ‘kiri kanan’, tidak peduli apakah siswa memiliki kecakapan hidup, berkarakter atau tidak

Virus ini membuat kita berani menyimpulkan bahwa kehadiran fisik tidak menjadi ukuran kinerja. Yang terpenting adalah pekerjaan dan pembelajaran tetap berjalan dan terus terjadi dan tetap memberi layanan yang maksimal buat masyarakat.

Kelima, covid-19 membuat atau memaksa pemerintah untuk mengatakan atau membuat kebijakan bahwa ujian akhir itu tidaklah begitu penting. Ini sebenarnya ‘suara’ yang pernah dilontarkan banyak pihak tentang ujian akhir ini. Akhirnya, UNBK yang sering dibangga banggakan dibatalkan pemerintah, Ujian Sekolah yang merupakan ‘senjata’ sekolah yang merupakan ujian penentu kelulusan siswa dari satuan pendidikan dengan ‘mudah’ ditiadakan. Ujian ‘tatap muka’ kenaikan kelas yang menentukan apakah siswa naik kelas atau masih dikelas yang sama dianulir pemerintah dan diganti dengan bentuk tes lain penugasan, portofolio nilai rapor dan prestasi, atau tes daring.

Covid-19 sudah menyeragamkan persepsi bahwa yang paling penting dalam pendidikan adalah proses pembelajaran. Proses ini tidak boleh ditiadakan atau dibatalkan. Proses ini dalam kondisi apapun harus tetap dilaksanakan, kalau tidak bisa tatap muka, ya harus daring.

Ini sesuai SE Mendikbud RI nomor 4 tahun 2020, tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam massa darurat penyebaran Covid-19.

Keenam, social distancing, Menjaga jarak fisik bukan berarti kita memutus hubungan sosial, begitu nasehat banyak orang, tapi bertujuan mencegah covid-19. Semua orang lantas mengambil jarak demi memutus rantai penularan covid-19. Bahkan, tempat-tempat ibadah kini mulai sepi, agenda-agenda massa dihilangkan demi menjaga jarak.

Dirasakan, social distancing makna lebih dari pembatasan jarak sosial bahkan jarak fisik. Covid-19 kelihatannya ingin menyasar gaya kehidupan masa kini yang hampir tanpa jarak sosial

Covid-19 kelihatanya juga ingin ‘menembak’ pergaulan jaman sekarang, mereka dengan bebasnya mengekspresikan diri. Ada temuan hampir 93% anak remaja di indonesia pernah berhubungan seks diluar nikah (Kompasiana)

Lihat saja ‘social relation’ masyarakat jaman now, bercampur baur antara lelaki dan perempuan terjadi di setiap tempat, pergaulan bebas dikalangan remaja, bahkan seks bebas dianggap perkara biasa. Perempuan bergandengan dan pergi dengan laki-laki yang bukan muhrimnya.

Berjabat tangan dengan yang bukan muhrim, wanita bepergian tanpa muhrim, bercengkerama mesra dengan lawan jenis sudah menjadi tradisi. Yang lebih parah rata-rata remaja Indonesia lepas keperawanan di umur 19. 62,7 %, remaja Sudah pernah bercinta, remaja putri hamil di luar nikah 20,9 %. (bombastis.com)

Ini adalah sebagian ‘social relation’ yang kemungkinan ingin ‘dibasmi’. Social relation yang berlebihan, yang melanggar etka agama, adat dan tradisi akan dilawan dengan social distancing. Siapa yang ‘menang’, kita tunggu saja.

*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah


Penulis: Amri Ikhsan
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments