Sabtu, 6 Juni 2020

Global Climate Change, Human And Sustainable Development


Kamis, 16 April 2020 | 14:13:12 WIB


Nandra Mailani
Nandra Mailani / istimewa

OLEH : Nandra Mailani

SECARA menyeluruh Iklim dunia saat ini sedang mengalami kerusakan sebagai konsekuensi dari aktivitas manusia. Konsentrasi gas-gas yang menghalangi pantulan energi sinar matahari dari bumi menyebabkan suhu planet yang kita huni saat ini semakin panas.

Kerusakan sistem dan ekologi bumi dapat dibuktikan dengan adanya penipisan lapisan ozon di stratosfer, penurunan keanekaragaman makhluk hidup, degradasi tanah dan perubahan siklus air yang tentunya akan berdampak besar terhadap kondisi bumi, manusia dan arah kebijakan pembangunan berkelanjutan di masa mendatang.

Laporan terakhir The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) mengatakan bahwa Kriosfer semakin mengecil, lapisan salju mengurang, gletser es mencair, dan permafrost juga berkurang. IPCC juga mengungkapkan adanya percepatan pelelehan dengan potensi berbahaya bagi manusia, ekosistem laut dan pegunungan tinggi. Lebih lanjut jika seluruh es meleleh berarti muka air laut juga akan meningkat dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Juga diprediksi akan mencapai tinggi antara 60 - 110 centimeter pada tahun 2100.

Hal ini akan sangat membahayakan bagi makhluk hidup yang tinggal di daerah pantai rendah. Sebagai contoh jika permukaan air laut naik setinggi 1 meter, maka hal ini akan berdampak 1% tanah di Mesir; 6% tanah di Nederland; dan 17,5% tanah di Bangladesh akan tertutup air. Efek perubahan iklim ini tidak hanya menyebabkan peningkatan suhu, cair nya daratan beku, dan naiknya permukaan air laut.

Namun juga berdampak pada sektor pertanian, hewan, tumbuhan, kesehatan manusia dan berbagai cuaca ekstrem lainnya seperti kekeringan, kebakaran hutan, serta badai Misalnya saja badai angin topan yang menerjang China, Taiwan, Jepang dan Semenanjung Korea meningkat 12-15% sejak tahun 1980, gurun pasir menjadi padang rumput, 2000 pulau indonesia terancam tenggelam, terumbu karang The Great Barrier Reef terancam hilang serta hujan asam.

Melihat semua dampak perubahan iklim yang terjadi, sepertinya sudah menjadi masalah serius yang kian meningkat pertahun nya, kondisi bumi yang semakin lemah, ditambah populasi makhluk hidup yang semakin meningkat dengan segala aktivitasnya menyebabkan dunia mengalami perubahan iklim yang sangat signifikan. Hal ini juga didukung oleh pernyataan IPCC yang 95% yakin bahwa Manusia adalah penyebab utama dalam pemanasan global.

Perubahan Iklim dan Pembangunan Berkelanjutan
Konsekuensi perubahan iklim merupakan tantangan yang signifikan terhadap lingkungan, ekonomi global dan manusia dengan perubahan yang akan mempengaruhi keadaan di masa mendatang. Pembangunan berkelanjutan sangat krusial dalam kerangka mitigasi yang sukses terhadap perubahan iklim. Dimana tidak hanya generasi mendatang saja yang berada dalam ancaman bahaya namun beberapa masyarakat di daerah tertentu telah mengalami dampak perubahan iklim seperti bencana banjir, kebakaran hutan dan lahan.

Menurut Emil Salim “pembangunan berkelanjutan adalah suatu proses pembangunan yang mengoptimalkan manfaat dari sumber daya alam, sumber daya manusia, dengan menyerasikan sumber alam dengan manusia dalam pembangunan.” Budimanta juga berpendapat bahwa “suatu proses pembangunan berkelanjutan perlu diperhatikan prinsip-prinsipnya yaitu; cara berpikir yang integratif, distribusi keadilan sosial ekonomi, mempertimbangkan keanekaragaman hayati, serta harus dilihat dalam prespektif jangka panjang.”

Oleh karena itu pembangunan berkelanjutan harus lebih memperhatikan pemanfaatan dan dampak terhadap lingkungan kelestariannya. Sadar akan pentingnya peran manusia dalam pembangunan berkelanjutan maka peran itu bisa saja berdampak positif dengan tidak mengabaikan lingkungan dan bisa juga berdampak sebaliknya yaitu pembangunan yang menimbulkan pencemaran. Pencemaran lingkungan ini meliputi pencemaran tanah seperti pembuangan ampas kimia, pemakaian pestisida berlebihan; pencemaran air seperti sampah berupa plastik, karet, limbah industri; serta pencemaran udara seperti gas-gas yang dihasilkan dari proses produksi, kendaraan bermotor, asap pabrik yang melebihi ambang batas yang telah ditetapkan.

Pencemaran ini menimbulkan beberapa akibat seperti efek rumah kaca yang menyebabkan suhu udara di permukaan bumi semakin panas sehingga daratan beku cepat mencair dan mengakibatkan kenaikan muka air laut, suhu panas yang menyebabkan cuaca ekstrem dan kebakaran di berbagai wilayah, perubahan iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan namun juga akan sangat mengancam kesehatan dan keselamatan manusia serta makhluk hidup lainnya. seperti yang diungkapkan oleh National geographic bahwa semua Negara di dunia, baik yang kaya maupun miskin sebaiknya segera bersiap untuk menghadapi efek perubahan iklim.

“Kita adalah generasi terakhir yang dapat mengubah proses perubahan iklim sekaligus generasi pertama yang harus hidup dengan konsekuensinya.” Ungkap Ban Ki-moon, mantan ketua PBB yang kini menjadi ketua Global Commision on Adaptation.

Hal ini juga diperkuat dengan laporan Global Commision Adaption menunjukan bahwa tanpa aksi apapun, pada tahun 2030 perubahan iklim dapat membuat 100 juta orang di negara-negara berkembang berada di bawah garis kemiskinan. Namun tidak menutup kemungkinan akan berdampak pada Negara maju, banjir besar dan serangkaian badai di Amerika Serikat serta gelombang panas ekstrem yang menyerang Eropa dan Jepang menjadi bukti bahwa Negara kaya pun tidak lepas dari pengaruh Climate Change.

Sehingga sangat diperlukannya peningkatan kesadaran kepada seluruh penghuni bumi akan pentingnya menjaga lingkungan, supaya dapat mengurangi berbagai ancaman yang disebabkan oleh perubahan iklim.

Salah satu caranya yaitu dengan membatasi emisi karbon dan menyerap karbon dioksida agar tidak memasuki atmosfer dan menyebabkan global warming, seperti mengurangi penggunaan kertas, mengurangi pemakaian AC, kulkas, kompor gas, mengurangi pemakaian pupuk nitrogen, menjauhi penggunaan kantong plastik, meminimalkan pemakaian kendaraan pribadi dengan naik kendaraan umum atau sepeda, menghemat listrik, membiasakan diri untuk hidup bersih dengan membuang sampah pada tempatnya, dan menanamkan kesadaran dalam diri akan pentingnya menanam pohon. serta arah pembangunan berkelanjutan ke depan harus lebih fokus terhadap semua aspek terkhusus aspek lingkungan secara teliti dan berkala agar dampak ancaman dari climate change tidak terjadi.

*) Penulis merupakan mahasiswa program studi Ilmu Pemerintahan Universitas Jambi


Penulis: Nandra Mailani
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments