Jumat, 5 Juni 2020

Pembelajaran Daring Bukan Pemberian Tugas Daring


Rabu, 29 April 2020 | 16:45:49 WIB


Amri Ikhsan
Amri Ikhsan / istimewa

Oleh: Amri Ikhsan

Pandemi Covid-19 sudah ‘menjungkir balikan’ etika, adab, tata krama, konsensus, kebiasaan tata laksana yang berlaku selama ini. Yang selama ini dianggap sopan, sekarang malah dianggap ‘tidak tahu diri’, salaman, misalnya. Dulu ada istilah, bersatu kita teguh, bercerai keta runtuh, tapi dalam konteks pandemi ini, tuturan itu menjadi tidak relevan, malah sebaliknya.

Suatu hari seorang pejabat mengatakan: “Tidak boleh seorang guru itu memberi tugas melalui SMS, guru harus hadir didalam kelas”, ternyata nasehat ini tidak berlaku untuk masa pandemi ini. Dulu, UN diwajibkan untuk siswa, tapi sekarang malah Un dihapuskan. Dulu tidak sopan rasanya menginformasi sesuatu ke atasan dengan alat komunikasi, tapi sekarang malah dianjurkan.

Selama ini. kita dipaksa hidup dalam situasi serba cepat, pekerjaan tanpa henti, dan kinerja yang sudah ditentukan dalam sistem kompetisi yang ketat. Namun, persebaran virus Corona (Covid-19) memaksa kita untuk sejenak bernafas, berhenti dari rutinitas, serta kembali ke kehidupan, keluarga, dan lingkungan sosial dalam arti yang sebenarnya.

Work from home (WFH) adalah bentuk imbauan pemerintah dalam rangka menghentikan penyebaran pandemi Covid-19. WFH ini diberlakukan hampir pada semua lembaga termasuk lembaga pendidikan. Bagi lembaga pendidikan, WFH ini berarti proses pembelajaran (selanjutnya disingkat PP) yang biasanya dilakukan di ruang-ruang kelas secara langsung sekarang dihentikan sementara waktu dan digantikan dengan PP menggunakan sistem online/daring atau teaching from home.

Pemerintah melalui Kemdikbud mengeluarkan kebijakan belajar dari rumah. Kebijakan itu dituangkan lewat Surat Edaran (SE) Nomor 4 tahun 2020 yang ditandatangani Mendikbud Nadiem Anwar Makarim pada 24 Maret 2020. Aturan ini berisi tentang bagaimana memprioritaskan kesehatan para siswa guru, dan seluruh warga sekolah.

Sepintas lalu mungkin kita mengira pembelajaran daring ini gampang untuk dilakukan; dengan cukup punya fasilitasnya seperti HP dan kuota serta jaringan yang mendukung, maka pembelajaran ini pasti mudah dan bisa dilakukan.

Setelah beberapa minggu melakukan PP daring, semua masalah dan kendala mulai bermunculan: tidak semua anak memiliki HP yang fiturnya sama, kebanyakan HP siswa HP biasa, keterbatasan kuota dan jaringan, penuhnya memori HP, dll.

Diyakini, pemakaian teknologi apapun ada ilmunya, tidak boleh asal asalan agar manfaat teknologi itu bisa bermakna bagi diri sendiri dan orang lain. Pembelajaran daring tidak hanya sekedar ‘menggugurkan’ tugas sebagai guru dengan menggunakan aplikasi digital. PP juga harus diniat sebagai proses yang efektif, komunikatif dengan mempertimbangkan tujuan pendidikan yang sebenarnya.

Prinsip utama dalam pemanfaatan teknologi dalam PP bukan terletak pada canggihnya aplikasi yang digunakan, tapi bagaimana teknologi ini bisa membelajarkan siswa secara mandiri. Tanpa ada stimulus yang menggembirakan yang menantang siswa untuk berpikir, keberadaan aplikasi ini hanya menambah beban bagi siswa.

Intinya, kehadiran teknologi hanyalah media guru untuk melaksanakan PP, membantu guru menghadirkan fakta fakta, fenomena yang bermakna kedalam komunikasi daring, mengilustrasikan sebuah kejadian alam dan ilmu pengetahuan, memberi gerak ruang kepada siswa untuk berpikir dan bereksplorasi dalam suasana penuh keakraban, memudahkan interaksi dan kolaborasi antara siswa-guru dan siswa-siswa.

Tapi, fakta berbicara lain, KPAI merilis laporan 213 aduan siswa terkait pelaksanaan program belajar dari rumah. Mayoritas berisi keluhan para siswa terkait beratnya beban tugas yang harus mereka kerjakan selama belajar di rumah. Guru memberi tugas ‘sekehendak hati”, agar guru ‘kelihatan bekerja’ demi laporan ke atasan.

Dipastikan, tugas itu membuat siswa jenuh, karena guru selalu memberi tugas tiap harinya per mata pelajaran. Bayangkan kalau misalnya siswa belajar 12-19 mata pelajaran. Namun, guru tidak pernah menjelaskan materi, tidak terjadi pembelajaran dua arah. Padahal penugasan justru berasal dari materi yang baru yang belum diajarkan oleh guru.

Bisa diprediksi siswa paling tidak suka bila tugas itu merangkum bab materi dan menyalin soal di buku cetak, meresume, menghafal, divideokan dan dishare ke guru, menjawab puluhan bahkan ratusan soal, mencari sendiri atau guru berbagi link dan dibaca dan diresumekan, dll.

Ini kontraproduktif, pembelajaran yang semestinya sharing informasi, saling bereksplorasi ide, saling ‘berbantah bantahan antara guru dan siswa atau dosen dan mahasiswa, kini berubah menjadi pembelajaran dengan bentuk kirim tugas saja. Yang lebih parah, setiap tugas harus dikerja dengan ‘sempurna’.

Oleh karena itu, bagaimanapun bentuk pembelajarannya, kalau kita memahami konsep pembelajaran yang paling fundamental yaitu dialog, berkomunikasi. Inilah basis dari pembelajaran, bukan semata guru memberi tugas lalu siswa menyetor tugas.

Jelas pembelajaran seperti ini telah mereduksi esensi dari pendidikan itu sendiri dengan berjalan pada gaya pembelajaran yang monolog. Karena memang tugas daring adalah hanya pemberian tugas, siswa mengerjakan, dikirim ke guru, selesai sudah proses pembelajaran.

Alhasil para siswa dan orang tua mengeluh. Pandami corona, membuat tugas siswa makin menumpuk-numpuk. Pokoknya, kirim tugas. Begitulah para guru memahami "pembelajaran online" yaitu pemberian tugas secara daring.

Disetujui saran KPAI untuk mendorong para pemangku kepentingan di pendidikan membangun rambu-rambu untuk para guru sehingga proses pembelajaran daringini bisa berjalan dengan menyenangkan dan bermakna buat semua, bukan jadi beban yang justru tidak berpihak pada siswa.

Guru, tokoh sentral dalam pembelajaran ini, harus sadar dan memperhatikan kondisi para siswa selama melakukan proses pembelajaran dari rumah. Dengan situasi bencana seperti ini, jangan pukul rata kondisi semua siswanya berada dalam keadaan yang sama, jangan terlampau ‘rajin’ share tugas.

Tentu tidak semua guru terjebak dalam situasi keliru itu, kita patut bersyukur karena masih ada beberapa guru yang mampu melakukan pembelajaran daring tanpa meninggalkan esensi dari pembelajaran itu sendiri.

*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah


Penulis: Amri Ikhsan
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments