Selasa, 2 Juni 2020

BI Provinsi Jambi Mencatat Perekonomian dan Beberapa Sektor Menurun Akibat Covid-19


Kamis, 30 April 2020 | 11:50:19 WIB


/ Rina/metrojambi.com

JAMBI - Beberapa bulan terakhir, pandemi Covid-19 telah berdampak luas terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat, termasuk dalam sektor ketahanan pangan. Bahkan juga akan berdampak langsung terutama pada sektor akomodasi, perdagangan dan transportasi.

Sedangkan dampak lanjutan berdampak pada pelemahan permintaan dan harga komoditas yang mengakibatkan penurunan ekspor, daya beli dan investasi sehingganya menelan pertumbuhan ekonomi.

Dalam hal ini, perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jambi mencatat transmisi dampak Covid-19 terhadap perekonomian Jambi, bahwa penyediaan makan dan minum turun 30 persen dan konsumsi terbatas pada pemenuhan dasar, transportasi serta perdagangan berkurang.

Kepala perwakilan BI Provinsi Jambi Bayu Martanto menyampaikan, pertumbuhan ekonomi melemah dikarenakan sisi permintaan menurun. Begitu juga melemahnya sektor perkebunan dan pertambangan seperti karet, CPO, migas dan batubara dikarenakan pelemahan permintaan global.

"Pertumbuhan ekonomi melemah dikarenakan daya beli menurun, investasi menurun, ekspor impor menurun, kemampuan belanja pemerintah juga menurun," ini disampaikannya melalui video konference rapat TPID Jambi di ruang utama kantor Gubernur Jambi, Rabu (29/4/2020).

Namun, lanjut Bayu, berbeda dengan jasa kesehatan yang mengalami peningkatan selama pandemi. "Bahkan kinerja industri pulp and paper meningkat seiring peningkatan permintaan tissue dan produk turunannya selama pandemi," ujarnya.

Bayu menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi mengalami tren perlambatan sejak tahun 2015. Dimana pada periode sebelumnya selalu tumbuh lebih tinggi dibandingkan nasional.

Pada tahun 2019 perekonomian Jambi tumbuh 4,40 persen (yoy) didukung oleh kinerja sektor pertambangan dan pertanian. Namun sisi lain sektor pertanian melambat dan terendah dalam 8 tahun terakhir akibat pelemahan harga dan produksi karet.

Triwulan I 2020, kata Bayu, perekonomian Jambi diperkirakan masih dapat tumbuh 3,71-4,11 persen (yoy) didukung oleh kinerja sektor pertambangan dan pertanian yang masih cukup baik. "Namun seiring dengan menurunnya hampir seluruh sektor utama ekonomi Jambi akibat Covid-19 ini, maka pertumbuhan ekonomi Jambi mengalami tekanan dan diperkirakan tumbuh disekitar angka proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional 2,3 persen (yoy)," jelasnya.

Sampai dengan minggu keempat April 2020, beberapa komoditas administered price dan bahan pangan terpantau mengalami penurunan, menyusul masih melambatnya permintaan dan membaiknya pasokan.

Hasil Survei Pemantauan Harga (SPH) mingguan hingga minggu keempat April ini, menunjukkan terjadinya penurunan harga pada beberapa komoditas. Seperti cabai merah dan daging ayam ras dikarenakan melambatnya oermintaan ditengah terjaganya pasokan selama bulan laporan. Sementara, turunnya harga angkutan udara sebagai dampak Covid-19, dimana pemerintah mengimbau masyarakat untuk membatasi perjalanan.

"Sampai dengan akhir April harga beberapa komoditas bahan pangan dan angkutan udara diperkirakan menurun. Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) disejumlah daerah pemasok komoditas bahan pangan di Provinsi Jambi juga berpotensi mengganggu kelancaran distribusi bahan pangan," sebut Bayu.

Selain itu, Bayu mengungkapkan dampak Covid-19 juga mengancam keberlangsungan UMKM. Pasalnya tingkat penjualan UMKM di triwulan I 2020 menurun dan diperkirakan lebih buruk pada triwulan ke II 2020. Disisi lain UMKM juga menghadapi tantangan kenaikan harga bahan baku," bebernya.

Oleh karena itu, BI akan melaksanakan beberapa program kegiatan dalam waktu dekat dalam rangka penyelamatan UMKM yang terdampak Covid-19 diantaranya komunikasi kebijakan darurat Covid-19 kepada UMKM, peningkatan kapasitas UMKM, sinergi aksi mempercepat akses pembiayaan atau permodalan, serta percepatan pemanfaatan digital payment dan penjualan. "Waktunya mulai April hingga Juli nanti," kata Bayu.

Selanjutnya untuk perkembangan inflasi Provinsi Jambi pada Maret 2020 secara tahunan tercatat 2,61 persen (yoy). Kemudian secara bulanan tercatat deflasi 0,64 persen (mtm), dan secara tahun kalender tercatat inflasi 0,87 persen (ytd).

Maka, Bayu mengatakan upaya yang dilakukan TPID dan Satgas pangan Provinsi Jambi mengacu pada prinsip 4 K. Yaitu memastikan kecukupan pasokan bahan pangan dengan mengupayakan pasokan dari dalam dan luar daerah serta menjaga kecukupan pasokan komoditas pangan utama di Bulog dan mengupayakan CBP.

"Keterjangkauan harga pangan dengan menerapkan harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan oleh pemerintah serta melaksanakan pasar murah dan operasi pasar secara masif dan efektif. Lalu memastikan kelancaran distribusi bahan pangan saat PSBB di beberapa daerah zona Covid-19 dan memastikan tidak adanya penimbunan oleh Satgas pangan," paparnya.

Menjaga ekspektasi inflasi melalui komunikasi efektif dengan cara melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat agar bijak berkonsumsi dan tidak panic buying termasuk alternatif konsumsi produk olahan serta diseminasi informasi kecukupan stok selama periode hari raya.

"Mendorong pelaksanaan dan efektivitas operasi pasar atau pasar murah antara lain dengan koordinasi dan sinkronisasi kegiatan melibatkan OPD dan instansi terkait di tingkat Provinsi maupun kabupaten kota dengan tetap memperhatikan penerapan social diatancing selama masa pandemi Covid-19," pungkas Bayu.

Dalam rapat TPID Jambi ini, turut diikuti oleh Gubernur Jambi Fachrori Umar, Bupati Kabupaten/kota, Kepala Kanwil Divre Bulog Jambi Bakhtiar AS, Kepala Perkebunan Provinsi Jambi Agusrizal, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Harry Andria, Mall Jamtos, awak media dan PT serta instansi terkait lainnya.


Penulis: Rina
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments