Jumat, 5 Juni 2020

Virus Corona (Covid-19) dan Kemungkinan Penularannya Melalui Makanan?


Jumat, 01 Mei 2020 | 15:45:44 WIB


/

Oleh: Addion Nizori, S.TP, M.Sc, Ph.D*)


JUMLAH pasien terinfeksi positif virus corona (covid-19) di Indonesia terus bertambah mencapai 9.771 orang dan meninggal dunia berjumlah 784 orang (www. Covid19.go.id), dan terus meningkat jumlahnya dari hari ke hari.

Untuk Provinsi Jambi Pasien Positif sudah tercatat 32 kasus positif virus corona (covid-19), bahkan untuk Kota Jambi diduga telah dikategorikan masuk kategori zona merah penyebaran virus corona dan diduga telah terjadi transmisi lokal di Kota Jambi dimana pasien X sudah menularkan ke orang-orang di sekitar pasien dan masyarakat sekitarnya.

Ada kekhawatiran dari masyarakat tentang penularan virus corona (Covid-19) melalui makanan yang dibeli, sehingga masyarakat mulai cemas dan menimbulkan phobia yang berlebihan terhadap produk makanan yang dibeli, ditambah lagi berita yang tidak benar (hoax) yang beredar di berbagai media online mengenai adanya produk makanan kemasan impor dari luar negeri yang diduga mengandung virus corona sehingga memperburuk psikologis masyarakat tentang penularan virus melalui makanan.

Apakah virus corona (covid-19) ditularkan melalui makanan?

Sebagaimana yang dilansir di situs WHO bahwa tidak ada bukti Covid-19 ditularkan melalui makanan. Covid-19 disebarkan melalui sistem pernafasan (droplet/cairan) penderita ke manusia lainnya (human to human transmission) baik melalui hidung, mulut dan mata. virus corona merupakan jenis virus yang tidak mampu bertahan hidup lama jika berada di luar host/inang karena virus memerlukan inang tersebut untuk hidupnya. Hal ini berbeda dengan bakteri yang dapat tumbuh dan berkembang melalui makan.

Apakah harus mencuci buah dan sayuran sebelum dimakan?

Mencuci buah dan sayuran segar dibawah air mengalir adalah kebiasaan yang bagus yang harus selalu dilakukan untuk menjaga kesehatan bukan hanya karena virus corona (covid-19) tapi juga mungkin residu pestisida, kotoran yang menempel serta bakteri berpenyakit/patogen yang masih ada dan menempel pada buah dan sayuran. Namun menggunakan sabun, desinfektan dan detergen untuk mencuci sayuran dan buah sangat tidak direkomendasikan WHO karena zat pencuci diatas tidak di desain untuk konsumsi manusia (food grade) dan tidak aman untuk digunakan pada makanan, karena kemungkinan residu bahan kimia yang masih menempel atau masuk ke jaringan buah/sayuran.

Apakah konsumsi daging aman?

Memang ada kecurigaan bahwa virus corona (covid-19) awalnya berasal dari binatang (kelelawar) tapi sampai sekarang belum ada penularan terhadap manusia dari makan daging di Indonesia atau dunia internasional. Namun semua daging mentah dapat mengandung bakteri berpenyakit/pathogen yang menyebabkan keracunan makanan pada manusia. WHO merekomendasikan memasak daging dan tidak memakan daging dari hewan yang berpenyakit (diseased animals).

Apakah ada risiko penularan virus corona (covid-19) melalui kemasan makanan?

Sampai hari ini belum ada konfirmasi yang pasti berapa jam atau hari virus bisa bertahan di permukaan kemasan namun penelitian yang masih berlangsung menyatakan antara beberapa jam dan hari tergantung jenis permukaan benda, suhu dan kelembaban lingkungan.

Penting bagi pengusaha makanan untuk memastikan bahwa makanan yang dimasak itu aman dari virus corona (covid-19) mulai bahan mentah, pengolahan sampai ke delivery ke konsumen.

Pengelola makanan harus memastikan pekerjanya dalam keadaan sehat, menjaga jarak dalam bekerja sesuai prosedur kesehatan Covid-19, pastikan juga makan disimpan dalam suhu dingin (5 C) atau makanan siap saji sekitar 60 C, dan yang paling penting tempat cuci tangan dan alat kebersihan/disinfektan tersedia di area lokasi kerja.

Begitu juga pengantar makanan harus mematuhi semua protokol sanitasi pangan perusahaan sehingga produk yang diantar tersebut aman dan konsumen yakin dengan makanan yang diantarkan.

Walaupun makanan yang diantar aman dari kontaminasi virus corona (covid-19) namun virus corona (covid-19) ditularkan dari manusia ke manusia sehingga pengusaha makanan harus memastikan pengantar makanan tersebut orang yang tidak terinfeksi virus corona (covid-19) dan selalu memastikan memakai masker dan harus mengikuti protokol standar kebersihan dari virus corona (covid-19) sesuai anjuran pemerintah dan WHO.

Meskipun risiko terinfeksi Covid-19 melalui makanan adalah rendah namun ada beberapa langkah yang dapat mengurangi resiko terkontaminasi Covid-19 antara lain dengan membilas buah dan sayuran dengan air mengalir untuk menghilangkan kotoran, pestisida, kuman dan virus yang mungkin masih menempel di makanan, mencuci tangan setelah memegang kemasan makanan dan jika khawatir dengan makanan yang di beli, dapat memanaskannya kembali di suhu 65 C selama 3 menit sehingga dapat mengurangi resiko terinfeksi virus melalui kemasan makanan.

Jadi penularan paling utama Covid 19 adalah melaui infeksi droplet/tetesan cairan dari orang ke orang melalui pernafasan, batuk dan bersin orang penderita Covid 19. Cara terbaik untuk mengurangi terinfeksi adalah adalah menerapkan jarak dengan penderita dan selalu menjaga kebersihan setiap waktu dan menggunakan masker kalau keluar rumah.

Mencuci tangan secara teratur dengan sabun dan hindari menyentuh wajah, juga untuk mengurangi resiko terinfeksi virus corona (covid-19). Peningkatan imunitas (daya tahan tubuh) dengan makanan bergizi, vitamin, tidur yang cukup dan olah raga yang teratur merupakan langkah yang efektif mengurangi terinfeksi Covid-19 ini.

Lebih lanjut masyarakat diimbau agar tidak mudah terprovokasi dan tidak menyebarluaskan berita/isu terkait makanan dan kemasan pangan yang terkontaminasi virus corona (covid-19) dan belum terbukti kebenarannya silahkan menghubungi pihak terkait untuk mencek kebenaran suatu berita tentang makanan, bisa melalui layanan BPOM melalui Contact Center HALO BPOM 1-500-533 (pulsa lokal), SMS 0812-1-9999-533, WhatsApp 0811-9181-533, e-mail: halobpom@pom.go.id, Twitter @BPOM_RI, atau Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia.

*) Ketua Persatuan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) Cabang Provinsi Jambi, Dosen Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian dan Peneliti senior pada Centre of Excellence; Ethno-Medicine & Nutraceutical LPPM Universitas Jambi
email addion_nizori@unja.ac.id


Penulis: Addion Nizoro, S.TP, M.Sc, Ph.D
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments