Sabtu, 6 Juni 2020

Melawan Musuh Tak Tampak Dengan Pemberdayaan Masyarakat Covid-19


Senin, 04 Mei 2020 | 10:34:58 WIB


M Ridwan SKM MPH
M Ridwan SKM MPH / istimewa

Oleh: M Ridwan SKM MPH * )

HASIL laporan dari tim Gugus Tugas penanganan kasus Covid 19 Provinsi Jambi pada hari ini tanggal 3 Mei 2020 dikatakan bahwan jumlah positif terkonfirmasi 38, total 2017 dengan status orang dalam pengawasan (ODP), status pasien dalam pengawasan (PDP) sebanyak 103 orang, sementara itu ada 20 orang masih dalam proses uji Lab PCR, data ini menunjukan jumlah terconfirmasi positif terjadi penambahan tentu kita tidak mengharapkan ledakan kasus tetapi kita juga harus bersiap jika terjadi puncak kasus. Adanya kasus 38 kasus dengan 1 orang status sembuh tentu akan memper berat dalam penyiapan sarana pelayanan pengobatan pasien di rumah sakit.
Orang yang terkonfirmasi positif tentunya sudah melakukan kontak dengan orang- orang disekitarnya. kemampuan melakukan tracking sangat dibutuhkan. Keahlian mencari orang-orang yang pernah kontak dengan pasien positif menjadi kunci keberhasilan dalam penemuan kasus. tenaga surveilans harus benar- benar terlatih sesuai dengan bidang ilmunya, sehingga penemuan kasus baru bisa secepatnya di temukan.
Semakin cepat ditemukan kasus akan semakin baik tentunya dalam pencegahan covid 19. Pendekatan pencegahan covid 19 harus mempetimbangkan kearifan lokal daerah. melawan covid-19 harus dilakukan secara bersama-sama dengan masyarakat.

Keluarnya Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9 tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan sosial berskala besar dalam rangka percepatan penanganan corona virus disease 2019 (covid-19) tentu dalam hal ini pemerintah daerah harus mengeruk dana APBD dalam-dalam untuk menyiapkan logistik untuk masyarakat menjadi pertanyaan berapa lama pemerintah daerah mampu menanggung logistik bagi masyarakat.

Pengalaman di beberapa daerah yang sudah melakukan PSBB Jika kesadaran masyarakat masih rendah maka PSBB tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Sebagai upaya peningkatan penanggulangan pandemi Covid-19 di tanah air, Pemerintah Indonesia menerbitkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020 (Permenhub 25/2020) Tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Mudik Idul Fitri Tahun 1441 H. Peraturan berlaku mulai 24 April- 31 Mei 2020. Hal ini masih terdapat celah dimana mobil angkutan barang di isi dengan oknum-oknum masyarakat yang ingin Pulang mudik. tentu banyak cara orang akan mudik. kesiapan daerah untuk menemukan orang-orang yang berasal dari daerah episentrum, PSBB atau pun zona merah untuk diisolasi juga menjadi hal penting untuk menjadi perhatian.

Bila pergerakan orang-orang terjangkit tidak dapat kendalikan maka akan semkin lama pandemi ini berlalu. Setelah pembatasan-pembatasan tersebut dilaksanakan selanjutnya adalah melakukan pemeriksaan covid dilakukan secara menyeluruh dengan polymerase chain reaction (PCR), sehingga akan mempercepat menemukan orang–orang yang terjangkit untuk di obati dan mencari orang-orang yang pernah kontak dengan penderita untuk diisolasi mandiri maupun dirumahkan.

Jambi sudah waktunya untuk menyiapkan masyarakat untuk benar-benar mematuhi upaya pencegahan terhadap Covid-19
saat ini kita berperang dengan musuh yang tidak Nampak tapi nyata adanya, untuk itu semua harus ikut berpartisipasi untuk melawan covid-19.

Musuh tidak memilih siapa yang akan diserang hanya kekebalan tubu dan kedisplinan dalam pencegahan yang membuat orang dapat terhindar dati perang total ini. Perang melawan Covid tidak bisa setengah hati perlawanan total seluruh elemen bangsa harus ikut memperjuangkan masalah ini. Kota Jambi dengan Instruksi walikota nomor :08/INS/IV/HKU/2020 tentang penggunaan Masker untuk mencegah penularan Corona virus disease (Covi-19) sudah sangat Baik membuat instruksi yang harus di patuhi oleh masyarakat.

Upaya Kota Jambi untuk mengimplementasikan instruksi tersebut dengan memberikan masker kepada masyarakat selain itu juga ada pemberian masker dari masyarakat atau relawan yang berasal dari perguruan tinggi maupun masyarakat. tetapi dalam pelaksanaan nya masih banyak warga yang tidak memakai masker jika keluar rumah.

Hal ini menunjukan masih kurangnya kesadaran masyarakat memahami pentingnya pencegahan dalam penanganan covid - 19. Semua media sudah disiapkan , misalnya siaran televisi, media sosial, video tron, baleho dan semua saluran media untuk menyuarakan tentang covid - 19 tapi menjadi pertanyaan mengapa masyarakat kita masih belum disiplin, masih bandel dengan kondisi yang dapat membahayakan bagi dirinya sendiri, keluarga maupun masyarakat sekitarnya.

Kementerian kesehatan sudah mengeluarkan pedoman pemberdayaan penagganan covid -19 di tingkat RT/ RW. tetapi sekali lagi siapa yang mendampingi masyarakat untuk menjalankannnya. puskesmas sebagai Ujung Tombak pelayanan Kesehatan mempunyai keterbatasan dari sisi kuantitas SDM maupun anggaran.

Untuk itu keterlibatan masyarakat menjadi penting. Kenapa kita harus melibatkan masyarakat? Masyarakat sebagai isu sentral dalam menghadapi covid -19 harus dilakukan edukasi dengan baik, masyarakat adalah orang –orang yang berisikio terhadap penularan covid -19, karena dengan pemahaman yang maksimal maka masyarakat akan menjadi suatu solusi pemecahan terhadap pencegahan covid 19.

Untuk itu masyaraka perlu pendamping dalam menghadapi Covid -19. Jika dilihat dari regulasi semua sudah ada. tetapi siapakah yang menggerakkan di akar rumput untuk menumbuhkan keadaran, kemampuan individu utuk melawan covid-19 maka diperlukan tenaga pendamping pemberdayaan masyarakat dalam pencegahan covid.

Gugus tugas tingkat RT harus disiapkan dan didampingi oleh tenaga khusus dalam menggerakan gugus tugas di tingkat RT. Tenaga pendamping akan terus bergerak memobilisasi, memotivasi masyarakat sehingga menumbuhkan kesadaran, dan meningkatkan disiplin diantaranya memakai tetap di rumah, bekerja dari rumah, beribadah di rumah, menggunkan, masker, cuci tangan pakai sabun, physical distancing. dan penyemprotan disinfektan. Relawan penyuluh kesehatan harus di aktifkan untuk menjadi relawan pendamping RT atau kelurahan
Gugus Covid Tingkat RT segera dibentuk dengan pendampingan relawan pemberdayaan Covid-19 sehingga Isolasi mandiri, pemantauan orang dari daerah epicentrum dapat dilacak dengan cepat.

Berdisiplin diri dan menutup akses masuk orang dari daerah pandemi menjadi kunci keberhasilan. Semakin cepat pandemik ini selesai maka akan semakin cepat negeri ini bangkit. Bila masyarakat masih terus tidak menyadari pentingnya pencegahan maka akan semakin rakyat makin lama menderita, pemerintah semakin kesulitan untuk menyiapkan anggaran bantuan sosial bagi masyarakat. Salam sehat

*) Dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Jambi
Ketua Pengda Persakmi Jambi


Penulis: M Ridwan SKM MPH
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments