Selasa, 2 Juni 2020

Seharusnya Lebih Khusyuk Berpuasa


Rabu, 06 Mei 2020 | 13:11:37 WIB


Amri Ikhsan
Amri Ikhsan / istimewa

Oleh: Amri Ikhsan

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 183)

Inshaallah, ibadah Ramadhan tahun ini lebih istimewa. Pandemi covid-19 secara tradisonal sudah mengubah ‘format’, kebiasaan, tradisi kaum muslim Indonesia. Menyambut Ramadhan dalam suasana kekhawatiran, ketidaktahuan siapa yang terpapar dan pembatasan aktivitas memang memberikan nuansa yang cukup menegangkan.

Kebersamaan penuh keakraban, persaudaraan, kehangatan ‘berjabat tangan’ meminta maaf sekaligus menyampaikan selamat berpuasa nampak harus ditinggalkan untuk sementara waktu. Shalat tarawih, tadarusan, buka bersama, kultum 7 menit antara shalat isya dan tawawih harus ditiadakan atau ‘dibatasi’.

Untuk tahun ini, kegembiraan, kemeriahan kegiatan puasa Ramadhan yang sangat dinanti nanti selama setahun kemungkinan hanya tinggal mimpi. Harus bersiap siap melaksanakan rutinitas tradisional ini sendiri sendiri, bersama keluarga. Benar benar puasa dengan suasana yang sangat berbeda.

Tapi, yakinlah, ditengah pandemi Covid-19, ibadah dibulan Ramadhan mestinya bisa dilakukan lebih khusyuk, lebih sungguh sungguh dengan berpuasa lahir bathin. Bukan karena takut, cemas, aktivitas dibatasi dengan tidak berpuasa, karena ritual puasa berikut tarawih dan tadarus memang lebih utama dirumah bersama keluarga.

Secara substansial, ibadah puasa memang ‘urusan’ pribadi, karena puasa sesungguhnya adalah hubungan ‘khusus’ dan rahasia hambanya dengan Allah swt. Yang Maha Tahu siapa yang berpuasa hanyalah Allah swt. Yang maha tahu siapa yang ikhlas atau ‘pura-pura’ puasa diantara hamba hambanya hanyalah Allah swt.

Dalam suasana yang ‘tidak bersahabat’ dengan penyebaran covid-19 merupakan masa yang paling tepat untuk menjalankan ibadah puasa dengan lebih bermakna, penuh kekhusyukan. Karena kita diberi ‘ruang’ untuk menyendiri berkomunikasi spritual dengan Allah swt.

Puasa Ramadhan kali ini memang begitu berarti, dan dapat dijadikan kesempatan bertaubat bagi umat manusia. Dengan berbagai kebijakan yang ‘ramah keluarga’ dan social dan physical distancing, kita dapat berhenti dari segala aktivitas dunia yang cenderung membuat kita tergoda berbuat dosa.

Memang waktunya alam semesta beristirahat dari gegap gempita duniawi yang penuh dengan kebisingan, ‘libur’ dari kerusakan yang dibuat oleh manusia demi kesenangan duniawi. Biarkanlah alam semesta memperbaiki segala kerusakan yang ditimbulkan oleh ketamakan, keserakahan nafsu manusia.

Biarlah alam ‘berhenti’ melihat, mendengar, menyaksikan tingkah laku manusia yang tidak sesuai dengan adat, tata krama, agama dan kebiasaan yang positif. Mungkin alam merindukan manusia yang menyendiri untuk memikirkan tingkah lakunya, manusia yang berkeinginan dekat dengan keluarga dirumah.

Dirumah akan membuat manusia terhindar dari godaan dunia penuh dosa, dirumah akan membuat manusia terhindar dari dosa mata, telinga, tangan, dosa anggota tubuh. Dosa dosa ini begitu ‘mudah’ didapatkan kalau manusia berada diluar. Kita jadikan rumah sebagai pusat kegiatan ibadah, bekerja, belajar dan sosial selama puasa ramadhan.

Puasa dengan social distancing dan physical distancing, akan membuat kita terhindar dari godaan untuk membuat ghibah, bergunjing, bullying, berkomonikasi tanpa arti, bercengkrama tanpa makna bahkan terhindar dari dosa dosa besar, berzina, dll.

Ikuti saja Surat Edaran Menteri Agama RI Nomor 6 Tahun 2020 Tentang Panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriah, yang sejalan dengan syariat Islam sekaligus mencegah, mengurangi penyebaran, dan melindungi pegawai serta masyarakat muslim di Indonesia dari risiko Covid-19.

Yang intinya adalah: 1) umat Islam diwajibkan menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan dengan baik berdasarkan ketentuan fikih ibadah; 2) sahur dan buka puasa dilakukan oleh individu atau keluarga inti; 3) salat tarawih dilakukan secara individual atau berjamaah bersama keluarga inti di rumah;

Kemudian, 4.) tadarus Al-Quran dilakukan di rumah masing-masing berdasarkan perintah Rasulullah SAW untuk menyinari rumah dengan tilawah Al-Quran; 5) buka puasa bersama baik dilaksanakan di lembaga pemerintahan, lembaga swasta, masjid, maupun musala ditiadakan;

Dalam suasana penuh keterbatasan, ‘mohon maaf’ merasa curiga dengan orang disekitar kita, takut, cemas, prihatin, bulan Ramadhan tetaplah bulan yang dinanti-nanti, bulan penuh rahmat dan ampunan. Maka kita harus bisa mengendali kecerdasan spritual kita, untuk tetap bergembira dan bersukacita dalam menyambutnya. Sebab kegembiraan menyambut Ramadhan itu juga menjadi salah satu tanda keimanan seorang muslim.

Kegembiraan itu mesti kita tempatkan dalam konteks bahwa Ramadhan adalah momentum olah jiwa tahunan dimana ada dua dimensi dimensi ruhiyah yang mencakup segala hal tentang semangat dan ketaatan dalam beribadah (sholat, tilawah, dzikir, dll) dan dimensi jasadiyah yang menguji ketahanan fisik, dengan adanya larangan makan dan minum dari mulai terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari di waktu maghrib (Ghifari).

Secara substantif, berpuasa dimasa pandemi covid-19, masanya kita: 1) bertobat. mintalah ampun kepada Allah swt atas segala dosa yang telah diakukan selama ini; 2) mengendalikan emosi yang dapat menurunkan kualitas pahala puasa; 3) semakin mendekatkan diri kepada Allah swt, lakukan sebanyak mungkin ibadah, mumpung diminta berada rumah, bekerja dari rumah. Kemudian, 4) meminta maaf, kepada orang-orang terdekat, terutama orang tua dan keluarga.

Secara emosional, ibadah puasa kali ini, waktunya kita: 1) menghilangkan rasa iri, dengan menikmati dan mensyukuri semua yang dimiliki, termasuk berbagai kekurangan dan kelebihan diri; 2) berhenti mengasihani diri sendiri, jangan merasa diri sendiri sebagai “korban” atas berbagai keadaan yang dihadapi; 3) hiduplah dengan realistis, jangan ber “andai-andai”, Kita adalah apa yang kita miliki dan apa yang ada saat ini, bukan apa yang diinginkan.

Jangan lupa, hindari rasa khawatir yang berlebihan, ini adalah pekerjaan yang paling melelahkan. Nikmati hidup kita dengan bersyukur, memiliki pikiran yang tenang dan nyaman selama berpuasa.

Hanya Allah yang dapat menilai kualitas ibadah puasa. Selamat menjalankan ibadah puasa.

*) Penulis adalah Pendidik


Penulis: Amri Ikhsan
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments