Jumat, 5 Juni 2020

Jambi dan Wabah Penyakit


Senin, 18 Mei 2020 | 09:50:15 WIB


Musri Nauli
Musri Nauli / ist

Oleh: Musri Nauli

 
MENGIKUTI diskusi Daring (Dalam Jaringan) dengan tema: Wabah dalam Sejarah Jambi menyentak dan kembali mengingatkan bacaan penulis tentang Jambi, pengetahuan empiris dan sejarah peradaban Jambi. 
 
Diskusi dengan menghadirkan Wenri Wanhar, Dedi Arman (Sejarawan),  Deki Syaputra (Dosen Sejarah Universitas Batanghari) dan M Ali Surakhman (Penggiat Budaya Jambi) menampilkan dan memaparkan dari pendekatan yang berbeda. 
 
Paparan Dedi Arman yang mengutip berbagai pemberitaan dari kolonial Belanda tahun 1909 yang menyebutkan adanya kolera. Berita ini menarik sekaligus konfirmasi tentang wabah kolera di Residentie Djambi (Residen Jambi). 
 
Namun apabila kita telusuri lebih jauh, laporan Kolonial juga memaparkan tentang wabah kolera tahun 1923. Laporan ini jelas memaparkan adanya korban 23 orang yang terjadi hanya satu minggu. Secara detail dipaparkan oleh Britannica yang menyebutkan sebagai pandemik ke enam setelah sebelum pandemik pertama tahun 1820-1822, pandemik kedua (1829), pandemi ketiga (1851) dan pandemik keempat (1863).
 
Laporan detail Kolonial Belanda yang kemudian dipaparkan dapat terlihat jelas di dalam buku Antony Reid Asia Tenggara dalam kurun Niaga Jilid I. 
 
Sedangkan Deky Syaputra menyebutkan kearifan masyarakat Kerinci di dalam menanggulangi wabah. Pengetahuan empiris dari masyarakat Kerinci terbukti handal di dalam menghadapinya. 
 
Bahkan dengan mengutip kitab-kitab klasik seperti Ibnu Hatimah dengan jelas menerangkan bagaimana menjaga imun dengan cara seperti menghirup udara segar; penuhi rumah dengan wangi-wangian (sejenis Bunga Myrtus atau jenis lainnya), mengolesi wajah dan tangan dengan saripati lemon serta bunga segar seumpama bunga mawar dan bunga viola. 
 
Selain itu juga dengan cara membakar kayu Cendana dan kayu Gaharu, campuran air mawar. Bahkan kayu Gaharu itu juga bisa diminum. 
 
Bahkan tradisi ini masih terjadi ketika tahun 90-an menghadapi wabah cacar dengan cara membakar kemenyan di rumah yang terjangkit untuk menghasilkan aroma wangi. Bahkan asap kemenyan sering diusapkan ke wajah penderita.  
 
Ada juga tradisi seperti percikan air bungo gedang (Bungo Cino/Kacapiring) sebagai pendingin serta menghasilkan wewangian. 
 
Cara ini juga dilakukan Desa Koto Iman, Kerinci, yang melakukan ritual tolak balak dengan membakar kemenyan di lima sudut dusun. Tidak lupa diiringi dengan azan selama 3 hari berturut-turut. 
 
Pengetahuan ini merujuk karya para ulama Jambi Syekh Abdul Hamid Muhammad Amin Al-Banjari At-Tungkali, Haji Abdul Razak bin Kasman (Tok Janggut Grik Perak) dan Tuan Guru Haji Ahmad Faqir Al-Kerinci. Setelah tahun 1950-an, daerah Kerinci dihinggapi wabah cacar. 
 
Pengetahuan empiris yang disampaikan oleh Deky Syaputra mengingatkan bagaimana tradisi pengobatan di berbagai tempat. Suku Talang Mamak Dusun Simarantihan, Desa Suo-suo, Tebo mempunyai 110 pengobatan (IPB, 2018). Berbagai mantra, model pengetahuan pernah dituturkan kepada penulis. 
 
Sedangkan cara menghadapi wabah juga dilakukan oleh Orang Rimba. Mereka menyebut besesandingon.  
 
"Besesandingon atau menjaga diri dari orang sakit atau diduga mengidap penyakit. Indonesia kemudian menyebutkan istilah isolasi mandiri”. 
 
Begitu juga Batin 9 dengan istilah Besale. Besale adalah membersihkan jiwa orang yang sakit diakibatkan roh-roh jahat. Sehingga dianggap dewa sedang menurunkan malapetaka (Muhtadi Asrar, 2019). 
 
Upacara biasanya dimulai dengan persiapan alat-alat pendukung upacara seperti: kemenyan; balai; bertih (bunga yang dibuat dari beras kering yang ditumbuk). Selanjutnya sang dukun akan membacakan mantera diikuti oleh pengiringnya yang disebut pembayun. (Dwi Kurniawan dkk, Unja). 
 
Yang menarik adalah paparan dari Ali Surakhman. Dengan melihat tata ruang pola pemukiman di Kerinci, posisi rumah dianjurkan “tidak memunggungi matahari pagi”. 
 
Tujuannya adalah mencegah virus. Yang kemudian dikenal dengan istilah “bujumu ahai” (berjemur di bawah matahari pagi). 
 
Istilah “tidak memunggungi matahari pagi” biasa dipadankan dengan istilah matahari timbul. “Matahari timbul” kemudian dikenal sebagai timur. 
 
Selain “matahari timbul dikenal juga matahari mati. “Matahari mati” kemudian dikenal sebagai barat. 
 
Dalam laporan petualang dunia, istilah matahari juga menunjukkan arah perjalanan. Sehingga dikenal negara di atas matahari. Dan negara di bawah matahari. 
 
Negara di atas matahari kemudian negara-negara timur. Sedangkan negara di bawah matahari kemudian dikenal sebagai negara-negara Eropa. 
 
Istilah “negara di atas matahari dan negara dibawah matahari juga menampilkan musim angin untuk berlayar kapal. Periode 6 bulan untuk ke negara-negara timur dan kembali ke Eropa. 
 
Bukankah “bujumu ahai” (berjemur di bawah matahari pagi)” kemudian menjadi salah satu tema kampanye untuk melawan corona. 
 
Mengapa narasi-narasi tentang virus corona kemudian terjebak dengan kegagapan negara modern untuk menghadapinya. 
 
Mengapa narasi kemudian juga terjebak dengan social distancing, isolasi mandiri ataupun kegagapan menghadapi virus yang menyebar dunia. 
 
Padahal di dalam buku Kepulauan Rempah-rempah dengan jelas dipaparkan bagaimana Moro kemudian diserang berbagai wabah penyakit. Kelaparan dan penyakitlah yang akhirnya memaksa Portugis menyerah tanpa syarat. 
 
Bahkan Epigraf Riboet Darmosoetopo dalam Sima dan Bangunan Keagamaan di Jawa Abad IX-X TU menjelaskan, pada masa Jawa Kuno penyakit termasuk dalam wikara, artinya perubahan, khususnya keadaan tubuh dan mental yang lebih buruk dari biasanya.
 
Mengapa narasi pengetahuan empiris dari nenek moyang bangsa Indonesia tidak dihadirkan untuk menjawab berbagai permasalahan yang terjadi. 
 
Cara pandang ini sekaligus mengingatkan penulis. Bagaimana ketika gempa terjadi tanggal 1 Oktober 2009 justru rumah-rumah yang berpanggung justru selamat dari gempa. 
 
Pusat gempa tanggal 1 Oktober di Desa Renah Kemumu, Merangin, tidak menyebabkan hancurnya rumah. Rumah penduduk berupa rumah panggung hanya bergeser dan hanya diperlukan dongkrak untuk memperbaikinya. 
 
Konsep rumah panggung terbukti mampu menghindarkan kerugian karena terkena bencana yang disebabkan oleh kegagalan konstruksi (pasal 26 ayat (3) UU No. 24 tahun 2007). Konsep rumah panggung berhasil menghindarkan korban dan kerusakan yang parah akibat gempa.
 
Cerita rumah panggung juga terjawab ketika gempa di NTB dan Sulteng. 
 
Padahal setiap daerah di nusantara mengenal rumah panggung. Lihatlah: Rumah Gadang (Sumbar), Kajang Lako (Jambi), Limas (Sumsel). 
 
Sekali lagi sudah saatnya narasi pengetahuan empiris yang diwariskan dari leluhur bangsa Indonesia adalah pengetahuan yang harus diutamakan untuk menghadapi pandemik. Pengetahuan dan warisan yang sudah terbukti handal melewati ribuan tahun yang lalu. 
 
 
*) Advokat. Tinggal di Jambi 

Penulis: Musri Nauli
Editor: Herri Novealdi



comments