Kamis, 1 Oktober 2020

Menunggu Hari baik Pendidikan: Juli atau Desember (?)


Selasa, 16 Juni 2020 | 16:08:35 WIB


Amri Ikhsan
Amri Ikhsan / istimewa

Oleh: Amri Ikhsan

PERTANYAAN yang jawabannya sangat ditunggu tunggu para stakeholder pendidikan. Banyak pihak mengusulkan tahun pelajaran baru tetap bulan Juli dan ada permintaan penundaan jadwal Tahun Ajaran Baru diundur menjadi awal tahun 2021.

Tahun ajaran baru, merupakan awal tahun pembelajaran yang bagi sebagian orang sangat penting. Tahun ganti jenjang, ganti kelas, ganti mata pelajaran, ganti guru, ganti suasana serta tahun baru masuk sekolah, yang sungguh memerlukan persiapan. Orangtua tentu saja harus mempersiapkan dana, jadwal harian yang berubah, dan persiapan mental melepas anak-anaknya ke sekolah. Baik yang baru mau masuk sekolah baru, maupun yang naik jenjang.

Bagi guru, awal tahun pelajaran baru merupakan masa yang menentukan, yakni menyiapkan perencanaan pembelajaran baru untuk satu tahun kedepan, masa berpikir untuk memperbaharui metode dan strategi pembelajaran terkini, merancang teknik penilaian pembelajaran untuk siswa yang komprehensif. Yang paling penting, waktunya guru kembali belajar kembali membuka buku buku dan referensi untuk menambah cakrawala berpikir dalam menata pembelajaran kekinian.

Tugas dan fungsi guru sesuai dengan perundangan tidak hanya terfokus pada pembelajaran, guru juga harus berinisiatif untuk melenjitkan potensi diri melalui PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan). Disinilah ‘panggung’ bagi guru untuk ‘berkompetisi alam’ dalam meniti karir akademik, mengikuti diklat, seminar, lokakarya, menulis, melakukan ‘mini riset’. Memang ini tidak ‘wajib’ tapi kegiatan ini akan memperkaya khasanah pembelajaran guru. Ini mestinya dirancang diawal tahun pelajaran baru.

Bagi orang tua, awal tahun pelajaran baru merupakan masa memilih sekolah bagi sebagai orang tua, dan bersiap mengikuti ‘kompetisi ketat’ agar putra putri bisa diterima disekolah yang diinginkan, menyiapkan segala peralatan sekolah baru yang tentu tidak ringan.

Tentu, penentuan resmi awal tahun pelajaran baru sungguh sangat dinanti karena akan berpengaruh terhadap persiapan dan kesiapan stakeholder dalam merancang ‘kehidupan baru pendidikan’. Bagi sekolah, tentu waktu ini adalah masa yang ‘amat berat’ dalam mendisain program sekolah yang futuristik untuk minimal satu tahun kedepan, menentukan kebijakan yang bisa diterima masyarakat, menentukan profil tamatan adaptif dengan kondisi terkini, dll.

Tapi, penentuan tahun pelajaran baru dimasa pandemi covid-19 dipastikan memerlukan banyak pertimbangan. Perlu berkaca dari negara-negara lain yang belakangan mulai membuka kembali sekolah seiring pelonggaran lockdown setelah kasus Covid-19 berhasil dikendalikan. Namun sayangnya, upaya menormalisasi kondisi kegiatan belajar mengajar secara tatap muka berujung pada munculnya kasus baru di kalangan siswa. Finlandia, India hingga Korea Selatan (Korsel) menjadi contoh bahwa pembukaan sekolah saat vaksin Covid-19 belum ditemukan seperti perjudian dengan siswa dan guru sebagai taruhannya. (Republika)

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) baru-baru ini mengadakan survei terhadap orang tua, guru dan peserta didik di 34 provinsi di Indonesia. Berdasarkan survei tersebut, sebanyak 85,5 persen orang tua khawatir jika sekolah dibuka kembali saat Covid-19 masih mewabah dan vaksin belum ditemukan. Mayoritas orang tua tetap menghendaki pembelajaran dilanjutkan dengan cara daring.

Oleh karena itu, perlu ada pemikiran untuk mendisain ‘pembelajaran pandemi’, yaitu blended learning, yakni mengintegrasikan pembelajaran tatap muka, online serta praktik problem solving yang dilakukan secara bertahap. Pembelajaran online learning untuk saat ini lebih baik diteruskan dahulu daripada menunda tahun ajaran baru sampai awal tahun 2021.

Artinya, diperiode Juli-Desember 2020, pembelajaran tatap muka tak perlu dilakukan. Selain untuk menghindari munculnya klaster baru covid-19 di sekolah, masyarakat masih berproses menuju kehidupan persekolahan dengan tatanan baru. Baru tahun depan, proses tatap muka dilaksanakan 50 persen atau 3 hari disekolah dan online learning 50 persen atau belajar dirumah. (Republika)

Dalam kondisi ini, sekolah/madrasah berikan kewenangan yang luas untuk menentukan kurikulum pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan, sesuai dengan karakter siswa dan kompetensi guru. Yang dipelajari cukup berbasis literasi, bermuatan life skills dan berkarakter HOTS (High Order Thinking Skills) dengan mengajak anak untuk berpikir kritis dan analitis dengan mengasah ketrampilan emosional, dengan cara membaca menulis dan mengomunikasikan dengan kreatif dan kolaboratif, supaya siswa bertahan selama pandemi covid-19.

Ketahanan fisik siswa dan guru harus tetap terjaga dengan penerapan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19 dengan standar prosedur kehidupan new normal dan panduan pembukaan kembali sekolah yang telah diterbitkan UNICEF: social dan physical distancing diterapkan dengan menata tempat duduk secara berjarak, mengurangi atau bahkan tidak melakukan sentuhan fisik secara langsung, sekolah menyiapkan kran-kran untuk cuci tangan dan hand sanitizer secara memadai, pemeriksaan suhu badan. dsb. (detik)

Tentu dalam pelaksanaan pasti ada masalah. Baik siswa, orang tua murid, dan guru banyak yang gagap atas ‘uji coba’ pembelajaran daring. Jadi, para stakeholer pendidikan memang harus mendefinisikan kembali peran guru. Anggapan bahwa guru ialah satu-satunya sumber belajar perlu dipertanyakan ditengah pesatnya teknologi pembelajaran. Menjadi fasilitator dan motivator menjadi peran guru yang harus dikembangkan.

Disamping itu, menanamkan keterampilan hidup bagi masa depan mutlak diberikan. Dalam dunia yang berubah cepat, siswa perlu mengembangan kapasitas diri dan kemampuan adaptasi dengan dunia baru, kreativitas, kemampuan berkomunikasi, kerja sama, kecerdasan emosi, dan empati ialah ketrampilan yang dibutuhkan di masa depan.

Tapi jangan lupa, penguasaan teknologi dalam pembelajaran menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari. Teknologi ditempatkan sebagai peluang bukan kendala. Kesediaan menerima dan menggunakan teknologi pembelajaran adalah guru masa depan.

Haparan untuk tahun pelajaran baru ini, kepada para stakehoder pendidikan untuk lebih peduli dengan proses pembelajaran, karena ini adalah inti dari pendidikan. Dirasakan, selama ini kita lebih disibukan dengan mengurus ‘kehadiran’ guru. Sudah banyak kebijakan yang sudah diambil yang begitu ‘peduli’ dengan ‘keberadaan’ guru dan merasa cukup bila guru sudah ‘finger print’, sudah ‘selfi’ di presensi online.

Nyaris belum ada pihak yang merasa mempertanyakan apakah guru melaksanakan pembelajaran secara profesional, apakah siswa mengerti, memahami komunikasi guru, bagaimana guru mengajar, apakah guru sudah melakukan penilaian secara komprehensif, apa kerja guru sesudah finger print. Hadir “diaplikasi” bukan berarti ‘mendidik.

Kita tunggu pengumuman hari baik itu.

*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah


Penulis: Amri Ikhsan
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments