Kamis, 1 Oktober 2020

Simalakama New Normal


Sabtu, 20 Juni 2020 | 14:43:37 WIB


/

Oleh: Gusli Bambang Irawan *)

BELUM lama pemerintah longgarkan pembatasan sosial berskala besar ( PSBB ). Awal bulan Juni pemerintah telah mulai memberlakukan new normal, dan pemerintah mengharapkan roda perekonomian bisa berjalan, seperti mall dan dan toko–toko perbelanjaan serta pasar–pasar bisa berjalan, serta juga tempat peribadahan yang dari awal bulan Ramadhan 2020 dihentikan sementara diharapkan bisa berjalan kembali normal.

Begitu juga seperti dunia pendidikan dari anak usia dini hingga tingkat perguruan tinggi negeri maupun swasta, begitu juga masyarakat bisa beraktivitas.

Dampak akibat dari merebaknya corona virus atau Covid-19 begitu sangat besar bagi masyarakat bahkan sistem pemerintahan pun terganggu bukan hanya itu, tetapi dunia pun dihebohkan dengan Covid-19.

Telah banyak pula pakar dan ahli yang berpendapat dalam adanya Covid-19 ini, tetapi belum juga ada solusi baru dalam menanggulangi dampak dari virus yang tak terlihat oleh mata manusia ini. Belum ada formula atau vaksin untuk covid-19, tentu hal tersebut masih membuat kegelisahan tersendiri bagi kalangan masyarakat begitu juga pemerintah.

Per tanggal 18 Juni 2020 penderita Covid-19 yang positif yaitu berjumlah 42.762 ribu dan sembuh 16.798 ribu serta yang meninggal dunia berjumlah 2.339 ribu, dilansir dari Covid-19.go.id.

Penderita Covid-19 setiap harinya terus bertambah bahkan semenjak dimulainya new normal, data tersebut menunjukkan bahwa new normal masih terlalu dini jika dilakukan bahkan korban meninggal setiap harinya selalu ada dan terus bertambah. Tentu ini menjadi buah simalakama terhadap pandangan masyarakat terhadap adanya normal baru, perlu banyak mempertimbangkan dalam melakukan normal baru ini, karena dampaknya begitu besar bagi kalangan masyarakat itu sendiri.

Sedangkan di sisi lain roda perekonomian harus terus berjalan secara stabil, pemerintah harus lebih teliti dan berhati-hati dalam melakukan new normal tersebut.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan saran melalui Ketua Umum PP IDAI, Aman Bhakti Pulungan yaitu agar kegiatan pembelajaran jarak jauh dilanjutkan pada tahun ajaran baru mendatang karena jumlah kasus belum menurun.

Menurutnya, pembukaan kembali sekolah-sekolah dapat dipertimbangkan bila covid-19 telah menurun dan faktanya menurut pimpinan IDAI tersebut, angka positif belum menurun (kompas,11/6).

Ini begitu menjadi membingungkan di tengah-tengah masyarakat, di sisi lain masyarakat jenuh karena beberapa bulan tidak keluar rumah, tidak dapat bekerja, sekolah, dan juga lain sebagainya.

Ditanya tentang pernyataan IDAI yang menolak untuk membuka sekolah, dokter Aman mengatakan bahwa kasus anak masih tinggi.

Hal ini menjadi sorotan besar bagi masyarakat yang melihatnya. Selain menjadi buah simalakama pemerintah dalam membuka normal baru, hal ini masih membuat masyarakat kebingungan dalam bertindak dan untuk melakukan aktivitas kesehariannya, masyarakat masih perlu adanya edukasi dalam melakukan kegiatan sehari- hari seperti sedia kala.

Menurut penulis, dari pandangan perspektif psokologi komunikasi dan sosiologi komunikasi masyarakat, perilaku masyarakat masih ragu–ragu dalam melakukan aktivitas keseharian, karena terdapat ketakutan dan juga kekhawatiran terhadap penularan Covid-19 atau corona virus yang telah merebak beberapa bulan yang lalu bahkan sampai saat ini terus bertambah kasus positif baru, semenjak dibukanya normal baru oleh pemerintah.

Pada dasarnya masyarakat belum terlalu siap dalam menghadapi normal baru, masyarakat masih banyak membutuhkan stimulus edukasi dari pemerintah juga tokoh-tokoh berpengaruh di lingkungan dan juga kesadaran pentingnya menjaga kebersihan juga kesehatan, serta mematuhi peraturan yang ada, seperti memakai masker saat bepergian kemana-mana, karena walaupun normal baru sudah berjalan kurang lebih dua minggu lama, masyarakat harus tetap berhati-hati dalam melakukan suatu hal apapun, karna kesehatan adalah hal penting yang harus diutamakan.

Penulis mengajak masyarakat mari tetap memakai masker dan menjaga kebersihan sesudah melakukan kegiatan ataupun sebelum melakukan kegiatan, saling menjaga dan mengingatkan dan juga saling membantu dalam hal apapun.

Di saat kondisi seperti ini sangat penting sekali menguatkan tali persaudaraan sesama individu, gotong royong adalah budaya kita masyarakat Indonesia, dengan saling berpegang tangan saling menguatkan adalah kunci utama dalam mengurangi penderita Covid-19, hilangkan ego pribadi maupun kelompok, karna saat ini yang utama adalah saling membantu, semua akan kembali normal jika kita saling membantu dan bersatu, terutama keyakinan, karna separuh kesembuhan dan keberhasilan adalah keyakinan.


*) Mahasiswa Fakultas Dakwah UIN STS Jambi Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam


Penulis: Gusli Bambang Irawan
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments