Kamis, 1 Oktober 2020

Rileksasi Konten Kurikulum


Sabtu, 20 Juni 2020 | 15:02:16 WIB


/

 Oleh: Amri Ikhsan

KEMENDIKBUD bersama Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Kemenko PMK, Kemenag, Kemenkes, Kemendagri, BNPB, dan Komisi X DPR RI sudah mengumumkan Keputusan Bersama Empat Kementerian tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru di Masa Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19). Panduan yang disusun dari hasil kerjasama dan sinergi antar kementerian ini bertujuan mempersiapkan satuan pendidikan saat menjalani masa kebiasaan baru.

Mendikbud mengatakan bahwa prinsip dikeluarkannya kebijakan pendidikan di masa Pandemi Covid-19 adalah dengan memprioritaskan kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat.

Menurut Mendikbud, tahun ajaran 2020/2021 tetap dimulai pada bulan Juli 2020. Tapi pembelajaran tatap muka hanya boleh atau diizinkan untuk zona hijau (6 %) dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Untuk daerah yang berada di zona kuning, oranye, dan merah (94 % atau 428 kabupaten/kota) dilarang melakukan pembelajaran tatap muka. Satuan pendidikan pada zona-zona tersebut tetap melanjutkan Belajar dari Rumah.

Oleh karena itu, banyak pihak menyakini, pembelajaran daring dianggap efektif dan bisa diikuti oleh semua peserta didik selama pandemi covid-19. Memang pola pembelajaran daring tidak dianggap menyenangkan oleh berbagai pihak dengan berbagai argumentasi hambatan. Keterbatasan alat komunikasi dan ketersediaan pulsa dan jaringan menjadi masalah yang harus dicari solusinya. 

Diakui, pembelajaran daring tidak semulus yang diperkirakan banyak orang. Dari segi siswa ditemukan keterbatasan listrik, sinyal dan kuota. Masih banyak siswa yang tidak punya gadget, kalaupun punya kadang kadang tidak kamportabel dengan fitur aplikasi yang digunakan.

Disegi guru, masih ada guru yang gugup dan gagap dalam melaksanakan pembelajaran daring, ada yang belum kenal dengan teknologi pembelajaran dan masih ada yang belum bisa mengintegrasikan materi pembelajaran dengan perangkat. Dirasakan, guru disiapkan melaksanakan pembelajaran dalam kondisi normal dan tidak terbiasa pada situasi tidak normal seperti selama pandemi covid-19.

Dari interaksi, namanya juga ‘jarak jauh’, tidak kontak langsung guru dengan siswa, guru tidak menyaksikan ‘proses’ belajar siswa dalam mengerjakan sebuah materi pelajaran. Dalam konteks tertentu, melihat atau memantau siswa mengerjakan sebuah tugas merupakan suatu keharusan, materi yang memerlukan proses, bukan hasil akhir, kalau tidak disaksikan, guru kehilangan substansi pembelajaran.

Jadi, yang menjadi perhatian adalah tidak semua kompetensi dasar dan materi pelajaran bisa dilakukan secara daring. Ada materi pelajaran yang keberadaan guru dalam memantau merupakan sebuah keharusan, ada materi pelajaran yang proses pembelajaran menggunakan peralatan yang tidak ada dirumah siswa.

Seperti diketahui, Kurikulum 2013 memuat 4 kompetensi dasar: Kompetensi sikap spritual, sikap sosial, kognitif dan psikomotor. Secara umum sikap spritual berisi menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya sedangkan sikap sosial adalah kemampuan yang berkenaan dengan perasaan, emosi, sikap/derajat penerimaan atau penilaian suatu obyek. (Bloom: 1987). Sikap ini berisi perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif, dll.

Domain spritual dan sosial mengharus guru untuk memantau langsung ke siswa apakah karakter spritual dan sosial nampak dalam kehidupan siswa. Dan ini tidak bisa ‘ditanyakan’ secara daring, karena bersifat abstrak dan proses pembentukan relatif agak panjang, tidak bisa dipantau 1 atau 2 kali pertemuan.

Ranah keterampilan motorik yang merupakan serangkaian gerakan otot-otot yang terpadu untuk dapat menyelesaikan suatu tugas (TIM pekerti UNS, 2007). Memang ranah ini memang harus ada interaksi langsung, agak susah dilakukan secara daring.

Kemungkinan yang bisa dilakukan secara daring adalah dimensi kognitif yang merupakan ranah hasil belajar yang berkenaan dengan kemampuan pikir, kemampuan memperoleh pengetahuan, pengetahuan yang berkaitan dengan pemerolehan pengetahuan, pengenalan, pemahaman, konseptualisasi, penentuan dan penalaran.

Banyak pihak menyatakan bahwa Kurikulum 2013 itu begitu padat dan tidak mungkin lagi kita terapkan selama masa pandemi ini harus disederhanakan, harus dirileksasi dengan memilah mana materi yang wajib dipelajari (materi esensial), mana materi pilihan, ‘sunat’ dipelajari dan mana yang ‘mubah’ dipelajari sesuai dengan kondisi sekolah, mana yang sementara waktu jangan diajari dulu.

Seharus ini ditentukan oleh pemerintah sebagai otoritas pembuat kurikulum, jangan biarkan guru memilih sendiri materi materi itu. Memang, Direktur Jenderal GTK Kemendikbud meminta agar guru tidak memaksakan kurikulum pada pelaksanaan pendidikan jarak jauh selama pandemi Covid-19. Kurikulum tidak perlu dituntaskan, namun siswa harus mengalami kemajuan sesuai dengan perkembangannya.

Permintaan ini harus ditindaklanjuti dengan melakukan rileksasi yang disesuaikan dengan aspirasi dari guru-guru di daerah dan adaptif dengan mengurangi kompetensi dasar dikaitkan dengan kondisi yang ada saat ini. Rileksasi mengutamakan melatih siswa secara praktis untuk mencapai kompetensi minimum literasi dan numerasi: membaca, menulis, menyimak, mengkomunikasi dan logika matematika untuk survival hidup di alam nyata tidak harus menyampaikan teori mata pelajaran, yang memungkinkan anak termotivasi untuk terus belajar, menjadi pembelajar mandiri (PGRI).

Mengingat pembelajaran dibatasi oleh tatap ‘maya’, komunikasi yang terbatas, perangkat, bergantung kepada kuota internet, dan akses. Oleh karena itu pelonggaran kurikulum yang adaptif layak dilakukan.

Rileksasi bukan berarti pengurangan mata pelajaran, tapi melonggarkan konten (standar Isi) kurikulum, standar penilaian, standar proses, standar kompetensi lulusan; termasuk standar sarana-prasarana bertujuan guru dan siswa hanya fokus pada esensi, bukan pada pembelajaran secara keseluruhan dan untuk mengurangi beban kerja siswa dan guru.

Rileksasi pada akhirnya akan memunculkan: (1) pembelajaran mandiri, siswa dengan sukarela belajar untuk mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna; (2) melenjitkan kecakapan hidup siswa tentang pandemi Covid-19; (3) bervariasinya materi yang terima siswa dengan mempertimbangkan karakter siswa; dan (4) bergembiranya menerima menerima umpan balik (feedback) dari guru.

Tidak mudah memang pembelajaran selama pandemi Covid-19.


*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah


Penulis: Amri Ikhsan
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments