Kamis, 1 Oktober 2020

Polemik Pendidikan Jarak Jauh


Minggu, 21 Juni 2020 | 20:47:33 WIB


/

 Oleh: Bastian Feri *)

COVID-19/Corona Virus Disease-2019 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis corona virus yang baru ditemukan. Ini merupakan virus baru yang tidak dikenal sebelum terjadi wabah di Wuhan, Tiongkok, bulan Desember 2019 (covid19.go.id, 2020).

Akibat mewabahnya Covid-19 ini, maka pemerintah menerapkan sosial distance untuk mencegah penyebaran wabah virus ini, maka terjadi pembatasan pertemuan dengan jumlah banyak termasuk dalam dunia Pendidikan. Hal ini berdampak pada kegiatan belajar-mengajar di lembaga Pendidikan yang semula secara konvensional tatap muka di kelas, berubah menjadi pendidikan jarak jauh (PJJ) dalam jaringan (daring).

Kebijakan belajar dari rumah mulai diterapkan pada tanggal 9 Maret 2020 setelah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) mengeluarkan surat edaran nomor 2 tahun 2020 dan nomor 3 tahun 2020  tentang pembelajaran secara daring dan bekerja dari rumah dalam rangka pencegahan penyebaran Virus COVID-19.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan per 21 Maret 2020, terdapat sekitar 353 perguruan tinggi yang menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh dengan metode daring.

Jumlah tersebut akan terus bertambah seiring dengan masih mewabahnya Covid-19, anjuran social distance dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Berdasarkan Undang-Undang Perguruan Tinggi Nomor 12 tahun 2012, Pasal 31 tentang Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) menjelaskan bahwa PJJ merupakan proses belajar-mengajar yang dilakukan secara jarak jauh melalui penggunaan berbagai media komunikasi.

PJJ dalam bahasa inggris disebut distance education adalah pendidikan formal berbasis lembaga yang peserta didik dan instrukturnya berada di lokasi terpisah sehingga memerlukan system telekomunikasi interaktif untuk menghubungkan keduanya dan berbagai suumber dan berbagai sumber daya yang diperlukan di dalamnya, sedangkan pembelajaran elektronik (e-Learning) atau pembelajaran daring (online) merupakan bagian dari PJJ yang secara khusus menggabungkan teknologi elektronika dan teknologi berbasis internet.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomer 109/2013 Pasal 2, menyebutkan bahwa tujuan PJJ atau Daring adalah untuk memberikan layanan pendidikan tinggi kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka, dan memperluas akses serta mempermudah layanan pendidikan tinggi dalam pembelajaran.

Seharusnya melalui sistem PJJ ini, setiap orang dapat memperoleh akses terhadap pendidikan yang berkualitas seperti halnya pendidikan tatap muka atau reguler pada umumnya, tanpa harus meninggalkan keluarga, rumah, kampung halaman, pekerjaan, dan tidak kehilangan kesempatan berkarier. Selain perolehan akses yang mudah, sistem PJJ juga diharapkan mampu meningkatkan pemerataan kualitas pendidikan bagi setiap orang.

Namun pada kenyataannya, PJJ ini banyak sekali polemic, tantangan, maupun kendala dalam penerapannya, karena disebabkan oleh beberapa aspek. Pertama, banyaknya fasilitas yang belum memadai untuk melaksanakan PJJ ini, karena tidak semua peserta didik mempunyai SmartPhone, Laptop/Komputer, Kuota internet, maupun jaringan internet yang baik. Oleh karena itu tidak sepenuhnya kegiatan Pendidikan Jarak Jauh ini dapat dilaksanakan dengan baik. Kedua, kurangnya kreativitas pengajar, serta masih banyaknya pengajar yang Gaptek/minimnya pengetahuan tentang teknologi, karena tidak semua pengajar melek akan penggunaan media TIK. Oleh karena itu proses pembelajaran jarak jauh ini masih belum maksimal dilakukan.

Ketiga, bosan dan kejenuhan. Bosan dan jenuh akan dialami oleh peserta didik maupun pengajar, karena system pembelajaran jarak jauh ini sangat lama, monoton, menghabiskan banyak kuota internet, serta proses pembelajaran ini dilakukan di rumah masing-masing sehingga dapat menyebabkan bosan dan kejenuhan pada peserta didik maupun pengajar.

Keempat, sulitnya memahami materi pelajaran dan terbatasnya tempat bertanya. Karena belajar secara online sangat terbatas oleh jarak, jadi peserta didik dituntut untuk fokus dan konsentrasi selama proses pembelajaran, namun pada kenyataannya banyak peserta didik yang tidak fokus dan konsentrasi selama proses pembelajaran sehingga membuat PJJ ini tidak berjalan dengan efektif.

Kelima, banyaknya pengajar yang miskonsepsi atau salah dalam memahami konsep dari metode Pendidikan Jarak Jauh yang telah diinstruksikan oleh lembaga pendidikan. Yang seharusnya seorang pengajar itu tetap memperhatikan instrument dalam mengajar seperti adanya dialog, tanya jawab, diskusi, dan memberikan soal soal latihan secara online.

Namun pada kenyataannya masih banyak pengajar yang hanya sekedar memberikan tugas pada setiap mata pelajaran/kuliah tanpa adanya diskusi, Tanya jawab, dan lain sebagainya.

Dibalik itu semua, terdapat hal-hal positif dari adanya PJJ atau daring. Pertama, dengan adanya PJJ dapat memutus penyebaran virus Covid-19 karena mengurangi kontak fisik secara massal. Kedua, tidak mudah kelelahan. Karena dengan PJJ lebih menghemat tenaga sebab dilakukan di rumah saja tanpa harus keluar menuju lembaga pendidikan.

Ketiga, lebih banyak quality time bersama keluarga, belajar bersama keluarga, bekerja bersama keluarga, dan beribadah bersama keluarga. Untuk lebih merasakan kebersamaan dengan keluarga.

Keempat, lebih hemat pengeluaran. Biasanya pembelajaran secara konvensional lebih banyak pengeluaran, mulai dari biaya transportasi, biaya makan, fotocopy dan print tugas, serta mengurangi biaya untuk pemakaian make up bagi perempuan maupun mahasiswi.

Kelima, belajar bisa lebih rileks. Karena bisa belajar sambil makan dan minum, atau bahkan mendengarkan musik.

Sebagaimana yang dikatakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim dalam tayangan sesi wawancara dengan Najwa Shihab di kanal Youtube Kemdikbud RI tentang Dampak Positif-Negatif Corona di Dunia Pendidikan, Sabtu (2/5/2020) malam.

Menteri Nadiem menjelaskan bahwa pembelajaran daring yang saat ini diterapkan menjadikan orang tua sadar betapa sulitnya mendidik anak.

“Kini, empati orang tua terhadap guru jadi menjadi. Tapi, guru juga menyadari tanpa adanya peran orang tua maka pendidikan itu tidak akan selesai”, kata Nadiem

“Krisis ini antara kolaborasi orang tua dan guru. Itulah dimana pembelajaran terjadi,” imbuhnya.

Selanjutnya, Najwa Shihab memberikan pertanyaan kepada Mendikbud terkait evaluasi 6 minggu pembelajaran daring.

Nadiem Makarim menjawab: 1. Pembelajaran nomor satu adalah terjadi gap atau ketidakrataan pendidikan di Indonesia. Ada beberapa daerah (daerah tertinggal) yang perlu dibantu. 2. Pembelajaran jadi tidak optimal. Tentu karena wabah ini mengharuskan dilakukan pembelajaran daring. Pembelajaran tatap muka langsung memang jauh lebih efektif. Tetapi kini dikombinasikan dengan pembelajaran daring akan jauh lebih efektif.

"Mau secanggih apapun teknologi, tapi ujung-ujungnya yang melakukan perubahan ialah guru. Kini guru dan orang tua yang melakukan perubahan itu," tegas Nadiem.


*) Penulis adalah mahasiswa UIN STS Jambi


Penulis: Bastian Feri
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments