Kamis, 1 Oktober 2020

Lima Pola Asuh yang Tidak Baik Bagi Anak


Selasa, 23 Juni 2020 | 21:38:34 WIB


/

 Oleh: Reftika Aprionita *)

TENTUNYA setiap orang tua memiliki gaya atau pola asuh yang berbeda-beda. Perbedaan pola asuh ini dampaknya pun juga berbeda terhadap perkembangan atau pembentukan karakter si kecil. Dengan pola asuh yang tepat, proses tumbuh kembang si kecil akan berjalan dengan optimal.

Namun, seringkali tanpa sadar orang tua justru melakukan kesalahan dalam mengasuh dan mendidik si kecil. Hal tersebut bisa disebabkan oleh kurangnya pengetahuan orang tua soal ragam pola asuh.

Nah, ada beberapa pola asuh yang kurang tepat apabila diterapkan untuk si kecil;


Pola asuh membandingkan

Ya seperti namanya. Pada pola ini orang tua seringkali membandingkan satu anakdengan yang lain. Dampaknya, anak yang kurang berprestasi akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang percaya diri.


Pola asuh otoriter

Pola asuh ini bersifat mengekang dengan mengharuskan sikecil untuk mengikuti semua perintah tanpa terkecuali. Tiap aturan biasanya dibuat tanpa didiskusikan dengan anggota keluarga lain. Orang tua tidak mengizinkan anak-anaknya terlibat dalam penyelesaian masalah.

Umumnya gaya asuh ini menggunakan hukuman sebagai ganti kedisiplinan. Jadi fokusnya pada cara si kecil patuh pada aturan. Bukan bagaimana ia mengambil pilihanyang terbaik. Anak yang dibesarkan dengan pola asuh ini cenderung tidak bisa mengendalikan emosi, kurang percaya diri dan tidak mandiri.


Pola asuh permisif

Pola asuh ini berbanding terbalik dengan pola asuh otoriter. Si kecil memiliki kuasa penuh dengan sebagian besar keinginanya dipenuhi oleh kedua orang tuanya. Pola asuh ini umumnya diterapkan karena orang tua menganggap ini merupakan bentuk kasih sayang. Padahal yang akan terjadi adalah si kecil cenderung terus menuntut hak nya, egois kurang sopan, dan sebagainya.


Pola asuh orang tua yang tidak sepaham

Pada pola asuh ini, orang tua memberikan serta menerapkan aturan yang berbeda-beda. Ini akan membuat si kecil bingung harus mengikuti aturan yang mana. Pada akhirnya, ia akan memihak salah satu orang tua yang selalu mengikutinya.


Pola asuh hadiah

Apabila orang tua sering menggunakan hadiah berupa materi atau barang untuk menyenangkan hati si kecil, maka si kecil akan tumbuh menjadi manja dan tidak

ingin melakukan sesuatu yang perintahkan jika tidak ada hadiah. Hal ini akan terus berlanjut hingga ia dewasa.

Semua orang tua memiliki gaya mereka sendiri dalam pola pengasuhan dan membesarkan anak-anak mereka.

Menurut Bela Raja, Konselor bimbingan anak dari India, gaya pengasuhan seseorang, jika negative, dapat memiliki efek buruk pada jiwa anak  bahkan sampai menyebabkan kerusakan kepribadian dan mentalnya.

‘"Gaya pengasuhan yang baik adalah dimana orang tua menghormati kebutuhan dan emosi anak mereka sebanyak anak menghormati orang tua. Ini juga penting bagi orang tuauntuk mendorong pengembangan diri anak. Mereka perlu mengajari anak untuk merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri".

Dampak pertama yang dapat terjadi pada anak dengan kondisi pola asuh yang buruk dari orang tua adalah keterlambatannya secara psikis untuk dapat berfikir secara dewasa pada saat yang seharusnya. Keterlambatan tersebut sangat berpengaruh besar mengingat kedewasaan merupakan hal penting yang harusnya dimiliki oleh setiap anak dalam kehidupannya.

Bentuk pola pengasuhan yang salah dimana orang tua lebih banyak menekan maupun memanjakan anak akan menjadikannya sering memiliki ketakutan berlebihan untuk dapat mengambil sebuah keputusan. Kondisi tersebut akan menjadikan anak lebih bergantung pada orang lain dibandingan percaya terhadap kemampuannya sendiri.


*) Penulis adalah mahasiswa UIN STS Jambi


Penulis: Reftika Aprionita
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments